
Suri rela jadi babu asal Tanjung mau ganti rugi. Pokoknya asal Suri tidak sampai harus jual ginjal dan puasa tiga tahun, Suri rela. melakukan apa pun.
Hidup normal aja sulit, apalagi yang enggak normal.
Makanya besok ketika pagi, Suri bersikap baik lagi, tapi kali ini tanpa paksaan senyum. Suri buatkan dia makanan, merapikan tempat tidur buat dia, dan memastikan baik-baik semua obatnya diminum.
Anggaplah kerjaan baru Suri memanglah mengurusi cowok tidak waras. Suka tidak suka, ini namanya pekerjaan.
"Tangan lo makin item." Suri berkomentar waktu mengolesi salep di permukaan tangan Tanjung yang kalau dilihat bikin ngeri. "Kalo keluarga lo liat gimana?"
"...."
Memang konsisten jadi manusia. Dari awal jumpa sampai sekarang, masiiiiiiiiih saja dia diam. Kayaknya kalau dia bicara, dia minimal harus bayar sejuta.
Suri meneruskan olesan salepnya, baru beranjak mengambil obat anti nyeri dan air.
Tidak sengaja Suri malah melihat foto dirinya dan Arul di atas meja. Membuatnya diam-diam merasa aneh, sebab kini Arul digantikan oleh alien ini.
Kira-kira, Arul di sana lagi apa, yah?
"Tanjung." Suri entah kenapa memikirkan hal aneh. "Lo enggak bakal ninggalin gue, kan?"
Sebenarnya Suri pun tidak paham kenapa pertanyaan itu muncul.
Cuma, setelah Suri lihat-lihat, semua orang memang pergi dari hidupnya.
Ayah, Ibu, kakak, atau mungkin adik jika Suri punya—Suri cuma sendirian. Hidup Suri jadi tidak normal dan jungkir balik sejak Tanjung ada, tapi dia selalu pulang.
Suri cuma merasa ... sebenarnya sejak ada dia, kamar ini jadi tidak sesepi yang kemarin. Ketika memejamkan mata, Suri bahkan tidak merasa takut ataupun gelisah lagi.
Dan Suri sadar itu karena Tanjung.
"Kalau gue nurutin lo terus, lo enggak bakal ninggalin gue, kan?"
*
Tanjung mengerjap terkejut pada ucapan perempuan itu.
Biasanya dia tampak berharap Tanjung pergi, kenapa sekarang—
Kebingungan Tanjung berganti terkejut sungguhan waktu Suri tiba-tiba membungkuk di depannya, mencium bibir Tanjung begitu saja.
Meski haram hukumnya Tanjung tidak membalas serangan seseorang.
__ADS_1
Lengannya langsung melingkari pinggang Suri, menekan dia turun dan berganti posisi.
Tapi waktu Tanjung sudah larut dalam ciuman manis itu, Suri tiba-tiba menutup mulut Tanjung dengan dua tangan. Hal itu membuat Tanjung kesal, sebab bukankah Suri duluan yang mulai?
"Bilang dulu."
Tanjung menggeram. Berusaha menepis tangan Suri, tapi perempuan itu berteriak.
"Bilang dulu!"
Bilang apa, sih? Dia yang seharusnya bilang apa yang dia mau.
"Seenaknya ada, seenaknya pergi. Gue capek." Suri menatapnya tajam. "Gue enggak mau ditinggalin lagi. Jadi jangan pergi kayak yang lain."
Pergi ke mana?
"Janji dulu."
"...."
"Janji dulu sama gue, Tanjung!"
"Oke." Tanjung berhasil melepaskan tangan Suri dari mulutnya. "Terserah lo."
Tanjung kembali mau menciumnya, menuntaskan perihal gairah yang sempat dipangkas oleh janji-janji barusan.
Namun saat ciuman Tanjung turun ke lehernya, Suri kembali menarik wajahnya, menatap sayu pada pria itu.
"Jangan kasar."
Tanjung mengerjap. Merasa aneh karena hatinya luluh oleh suara lemah Suri barusan.
"Gue enggak bakal nolak lagi, jadi jangan kasar."
Tanjung menelan ludah. Menyingkap rambut di pipi Suri, mengecup kulit rahangnya lembut. "Hm."
*
Suri kurang tahu sekarang dirinya ini lagi salah, benar, atau benar tapi salah, atau salah tapi benar.
Yang jelas, Suri merasa bebannya agak hilang—banyak hilang—waktu ia memeluk Tanjung dalam selimut yang sama.
Dia ... enggak seburuk itu.
__ADS_1
Dia memperlakukan Suri cukup baik, sebenarnya. Tidak menyakiti Suri dengan nyata yang membuat trauma pula. Suri bahkan nyaman karena pelukan Tanjung.
"Tangan lo gede banget." Suri mengomentari lengan yang lagi meluk badannya dari belakang itu. "Lo hobi angkat beban, yah?"
"...."
"Jawab."
".... Gak."
"Terus apa?"
Suri adalah cewek pengertian, jadi sebisa mungkin ia maklum kalau ini makhluk memang tidak suka bicara.
Daripada mengurusi tangan, Suri berbalik, menatap wajah Tanjung yang ternyata lagi terpejam.
"Lo asli mana?"
Mata itu terbuka, menatapnya tanpa suara.
"Lo enggak mau bilang?"
"Surabaya." Tanjung mengusap-usap bekas ciumannya di leher Suri. "Emang kenapa?"
"Muka lo, bukan muka Jawa tulen. Lo half?"
".... Entah."
"Kok gitu?"
Tanjung tidak suka bicara soal keluarga pada siapa pun itu, termasuk Suri. Tidak ada gunanya juga jika dia tahu.
Bertemu mereka saja Tanjung sendiri jarang. Yang penting bagi kedua orang tuanya cuma uang yang Tanjung berikan, agar mereka diam dan berhenti mengganggunya.
"Nyokap bokap gue pergi dari gue kecil." Suri malah balik cerita. "Abang gue, dua tahun lalu enggak tau ke mana."
"Lo enggak usah nungguin."
"...."
Tanjung menarik gadis itu ke pelukannya. "Enggak penting nungguin orang yang ninggalin lo."
*
__ADS_1