
"Rana!" Suri berlari mengambil anaknya, tak sudi jika dia memegang lebih lama lagi.
Tanjung yang belum mencerna situasi jelas terkejut. Apalagi melihat Suri menangis, sementara ada Teguh dan Ikram di sisinya.
"Kenapa lo nangis?" tanya Tanjung, siap menghukum keduanya jika berani berbuat salah.
Tapi Tanjung justru terkejut oleh jawaban Suri.
"Jangan ngomong sama gue." Perempuan itu berucap dengan tatapan penuh kebencian, menutupi telinga Rana. "Pembunuh."
"Apa?"
"Lo mau nutupin lagi? Mau pura-pura enggak tau lagi?"
Suri menahan tangisnya sekarang agar Rana tak terusik.
"Jadi delapan bulan gue ngomongin Arul sama lo, lo cuma diem buat goblok-goblokin gue? Gue minta Arul pulang sementara lo tau dia lo tenggelamin!"
Tanjung langsung menatap Teguh. Ah, jadi begitu, kah? Dia memutuskan berkhianat.
Tanjung sudah beberapa kali membayangkan akan ada situasi semacam ini, hanya ia tak sangka akan secepat ini.
"Kakak lo ngejual dokumen penting Aliansi ke organisasi lain cuma buat uang kecil. Gue rugi miliaran—"
"Apa pentingnya?!"
__ADS_1
Suri tampak siap meledak. Tidak, dia sebenarnya sudah meledak dan berusaha keras memastikan ledakan itu tidak mengenai Rana, tapi mengenai Tanjung.
"Duit buat lo apa pentingnya?! Lo semaunya bakar duit! Lo ngelemparin duit ke gue tanpa harus punya alasan penting! Gitu cara lo punya duit yang bebas lo bakar? Lo bunuh-bunuhin orang yang lebih butuh duit lo biar bisa lo pake seneng-seneng, hah?! Jijik!"
Tanjung menatapnya mati. Sepertinya Suri salah paham. Atau setidaknya itu yang Tanjung pikirkan.
Uang seratus ribu buat Tanjung sudah sangat besar dan bernilai karena sulit dicari. Apa Suri pikir Tanjung cuma perlu meludah lalu uang itu muncul?
Kenapa salah Tanjung jika ia marah Arul jadi penyebab ia kehilangan uang?
Ada opsi dia meminta pekerjaan pada Tanjung, namun dia memilih menjual informasi Tanjung pada musuh. Kenapa Tanjung tidak boleh marah?
"Bos."
"Lapor ke Bos Besar." Tanjung melirik Ikram. Lalu berpaling Teguh. "Bawa dia ke markas."
Tanjung hanya memiringkan wajah. "Lo cuma lagi marah jadi sekarang tenang dulu."
Mendapati respons dia bahkan tak merasa bersalah, Suri semakin jijik.
"Enggak punya hati." Suri mendekap erat anaknya. "Harusnya bukan lo bapaknya Rana!"
Kalimat itu ibarat minyak bersama api yang dilemparkan pada Tanjung. Kelopak mata Tanjung seketika melebar. Dirinya yang tadi tenang seketika menggelap.
"Lo bilang apa?"
__ADS_1
"Rana enggak bakal ketemu lo lagi! Enggak bakal sampe gue mati!"
"Bos." Ikram nampaknya sudah mengerti.
"Pisahin." Sebaiknya Rana dan Suri berpisah lebih dulu, lalu dia mengambil waktu berpikir.
"Maksudnya elo?" Jawaban itu bukan dari Ikram melainkan dari belakang Tanjung.
Sikut Tanjung bergerak cepat menyerang, namun Dayan menahannya hanya dengan satu tangan, sebab tangan lain menarik moncong pistol.
"Oya, oya, mau tau rasanya ketemu malaikat maut, Bos Yang Terhormat?"
Tanjung menggertak giginya. "Enggak ada izin agresi dari atas, berengsek."
"Yap." Dayan masuk dengan mudah, sambil terus mengarahkan pistol pada Tanjung. Alhasil, tidak ada satupun anak buahnya yang bergerak.
Namun saat berada di sisi Suri, pistol Dayan mengarah pada Rana.
"Enggak ada perintah agresi resmi, atau perang divisi. Tapi yah, Bos Besar bilang masalah keluarga Eksekutif enggak boleh sampe kecium." Dayan terasnyum manis. "Jadi Bos bilang kalo ada masalah, pisahin Tanjung sama istrinya."
Dengan kata lain, ini perintah dari atas dan Tanjung tidak memiliki hak menolak.
"Gue enggak bakal ngapa-ngapain lo atau anak lo." Dayan berbisik pada Suri. "Ini cuma anceman buat dia. Ikut gue, lo, anak lo sama Teguh aman. Oke?"
Suri mengangguk kaku.
__ADS_1
"Good girl. Let's go."
*