
Makin lama Suri rasa yang membuat Tanjung jadi badjing itu cuma karena dia malas bicara. Cuma itu.
Orang dikasih mulut, tidak digunakan buat bicara tapi cuma hiasan.
Sisi lainnya, Tanjung tidak sebadjingan semua perasangka Suri. Karena begitu tahu Suri hamil, Tanjung sampai menyiapkan tiga jenis dokter memantaunya.
Satu untuk kandungan, satu untuk kecantikan, satu lagi kejiwaan.
Dua bulan kemudian, Suri sampai pangling melihat mukanya sendiri di cermin, karena duit Tanjung bisa membuatnya terlihat seperti beda orang.
Ya enggak beda-beda banget, sih.
"Tanjung enggak pulang?" tanya Suri langsung begitu sore hari yang membuka pintu apartemen adalah Ikram.
Lama jadi pasangan, tentu Suri sudah mulai hafal kebiasaan jika Tanjung kerja lembur—walau membingungkan dia lemburnya apa, tapi Suri pakai istilah itu saja.
Tanjung bisa tak pulang sehari dua hari jika sudah lembur, dan tandanya akan selalu Ikram datang sore hari.
Untuk menemani Suri jalan-jalan menggantikan Tanjung.
"Bos ada dinner," jawab Ikram seadanya.
Suri mengangguk, menerima saja.
Cara menghargai Tanjung menurut Suri, setelah beberapa bulan bersamanya adalah percaya saja.
__ADS_1
Pokoknya apa pun yang dia lakukan di luar sana, Tanjung bakal pulang tanpa masalah.
Tidak usah pertanyakan dia ada di mana, melakukan apa, sudah makan apa belum, kapan dia pulang—soalnya bertanya sampai berbusa pun Tanjung tidak akan jawab.
"Gue pengen makan bakso udang," pinta Suri waktu mereka berada di lift. "Tapi gue enggak mau yang di depan, yah."
Setelah dua bulan jadi babunya Suri, Ikram hanya suka membalas, "Ribet amat."
"Pokoknya gue enggak mau yang itu. Gue mau yang deket kontrakan gue dulu," putus Suri sesuka hati.
"Serah."
"Entar gue traktir juga, deh."
Ikram mengorek kupingnya malas-malasan.
Kayaknya satu-satunya permintaan Suri yang tidak mau dikabulkan adalah Tanjung belajar banyak bicara.
"Gue udah lama enggak ngeliat Dayan." Suri menyeletuk di antara perjalanan mereka—yang tentu saja jalan kaki. "Dia enggak pernah ke Jakarta?"
Setelah pertemuan terakhir yang dramatis itu, memang Dayan seperti ditelan bumi.
Padahal dia teman bicara yang enak, lebih menyenangkan dari Ikram malah.
"Bos cuma enggak biarin dia ketemu lo."
__ADS_1
Jawaban Ikram sesuai dugaan.
"Posesif. Padahal cowok ganteng dinikmatin doang, kan," gerutu Suri sebal.
Sudah lama Suri enggak berjalan jauh. Tempat paling jauh ia berjalan mungkin hanya taman yang letaknya kira-kira sepuluh menit dari apartemen.
Walaupun Suri berjalan setengah jam sampai satu jam, itu cuma karena mereka berputar-putar.
Tanjung itu tipe lelaki yang posesif dan protektif di tingkat yang tidak bakal mungkin bisa ditoleransi orang bebas.
Soalnya dia sampai pada titik mengontrol ke mana Suri jalan.
Orang-orang yang sukanya seenak hati, bebas berkelana terbang kesana-kemari mustahil hidup bersama Tanjung.
Kecuali dia bebasnya seperti Suri.
Ya Suri tidak suka dikekang, tapi nurut karena duit Tanjung banyak.
Dia mengekang Suri, satu sisi memberi Suri kenyamanan.
Realistis saja, buat Suri, asal dirinya tak usah kembali kerja dari pagi sampai tengah malam, dikekang sedikit apa yang susah?
"Suri."
Perempuan itu berbalik, karena memang jarang juga Ikram memanggil namanya. "Kenapa?"
__ADS_1
"Lo bahagia sama idup lo sekarang?"
***