
Suri terduduk kosong begitu berhasil melepaskan diri dari tali ikatannya Tanjung.
Padahal sudah bersiap, tapi ternyata pas dialami, sakit juga, yah?
Pedih gitu padahal dia yang bikin.
Setega itu dia langsung pergi begitu mendengar Suri hamil anaknya.
Memang dia pikir sesuatu bisa terus dilakukan tanpa memberi hasil apa-apa?
Suri mau menangis, cuma berpikir 'ngapain juga dirinya goblokk-goblokkin diri?'.
Memang Tanjung bakal peduli kalau Suri menangis?
Pada akhirnya Suri mengelap badannya yang sudah kena pelumas, beranjak buat duduk di sofa.
Apa yang sebenarnya Suri harapkan dari cowok itu? Memang dari awal cowok itu tidak waras.
HP Suri disita, ia dikurung, lalu ditinggalkan.
Yang paling goblokk, Suri mau. Suri terima-terima saja semua perlakuan dia yang gila itu.
Yasudah, Suri akui ini salahnya.
Memang harusnya ia mati saja memperjuangkan harga diri daripada pasrah cuma buat hidup kayak binatang.
Suri beranjak setelah berhasil memenangkan diri. Jangan remehkan mentalnya yang hidup sendirian sejak Arul pergi.
Sebelum Tanjung itu ada memberinya uang, dipikir Suri hidup dengan apa?
__ADS_1
Dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
Nangis berkali-kali buat Tanjung jelas hal terakhir yang mau Suri lakukan.
Kebetulan Tanjung keluar tanpa kartunya, jadi Suri bisa mengambil itu, buka pintu buat keluar.
Tapi waktu lift terbuka, Tanjung ternyata ada di sana.
"Lo mau ke mana?"
"Capek." Suri menyerahkan kartu itu ke tangan Tanjung. "Gue capek sama lo. Capek," ulangnya biar dia paham. "Enggak usah cari gue lagi."
Tanjung melihat gadis pergi, kayaknya mau turun lewat tangga.
Pintu lift langsung tertutup, dan Tanjung kembali turun.
Duluan Tanjung yang sampai ke bawah, melihat Suri berjalan setengah berlari entah ke mana.
Tadi Ikram bilang kalau cewek hamil lebih gila dari cewek biasa, jadi Tanjung sekarang cuma berpikir kalau Suri sedang gila karena hamil.
Padahal tinggal bilang kalau dia mau lari di trotoar malam-malam. Tanjung jadi bingung karena dia bilang capek, tapi dia lari.
Memang perempuan otaknya korslet.
"Beliin dia jus dingin," perintah Tanjung pada orang yang mengikutinya.
Satu dari mereka pergi, sementara satu tetap mengikuti Tanjung. Mereka terus berjalan sampai akhirnya Suri tampak mau menyebrang.
Tadinya Tanjung mau biarkan saja. Daripada susah.
__ADS_1
Dan kalau dia mau itu, Tanjung sudah bersumpah akan memberikannya.
Tapi kendaraan ramai dan Suri malah terlihat tidak fokus. Jadi buru-buru Tanjung datang, menarik lengan Suri agar berhenti.
"Malah nangis." Tanjung mengusap air mata di wajah itu dengan punggung tangannya. "Lo kenapa? Mau olahraga?"
Suri malah tambah nangis. "Lo kabur."
Kabur? Kabur ke mana?
Tidak ada kata kabur dalam kamus hidup Tanjung. Kabur itu cuma buat penakut dan apa Tanjung terlihat seperti penakut?
"Lo enggak mau punya anak, kan? Makanya lo buang gue."
Otak Tanjung memproses.
"Dasar brengsekk! Harusnya lo kalo enggak mau punya anak ya pake pengaman! Lo kira gue apaan hah, lo udah puas, lo bikin di badan gue terus lo kabur enggak mau tanggung jawab?!"
Apa yang dia bicarakan?
"Bos." Bawahan Tanjung datang dengan jus di tangannya.
Karena mungkin Suri haus, Tanjung mengambil gelas jus itu, diulurkan padanya. "Minum."
Suri semakin menangis keras. "Enggak haus!"
Oke, oke.
Padahal dia tak perlu berteriak juga.
__ADS_1
Hah, rasanya serba salah.
*