Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
16. Tolong Pulanglah


__ADS_3

Tanjung tidak mengerti kenapa lagi anak kecil itu. Sejak tiga hari yang lalu dia terus bersikap dingin, meringkuk di lantai seolah-olah dia kucing.


Waktu dia bangun hanya saat makan, mandi, lalu sisanya berguling-guling di atas lantai bertemankan boneka.


Beberapa kali datang pengantar makanan dan paket, tapi intinya gadis ini tidak bersuara.


Jelas saja, Tanjung tak punya kemampuan hebat dalam bertanya pada seseorang. Dibiarkan saja Suri berlaku seenaknya, dan Tanjung beristirahat.


Sampai kemudian, hari ini ia mendapat telepon dari Ikram.


"Gue dapet laporan dari Dayan kalau ada dua tempat judi tarung bebas yang lolos dari kita."


Kenapa Dayan masih ada di Jakarta? Dia seharusnya sudah hengkang.


"Kayaknya yang megang kongkalikong sama polisi. Gue barusan juga nyuruh anak-anak ke sana langsung, kemungkinan masih ada lagi tempat lain." Ikram menjelaskan panjang lebar.


"Urusan judi kayak gitu kan ranahnya Karya, kenapa lapor ke gue?" balas Tanjung malas. Kenapa pula dirinya yang harus ikut-ikutan pekerjaan organisasi lain?


"Masalahnya yang ini ngelibatin nyawa."


Tanjung memicing, mau tak mau bereaksi. "Peraturannya yang kalah mati, gitu maksud lo?"


"Begitulah." Ikram menghela napas frustrasi. "Lo tau juga Karya sekarang lagi sibuk sama tugas ngumpulin anak jalanan. Kata Bos semua urusan yang ngelibatin nyawa orang urusan lo."


Ini merepotkan. Tanjung masih mau beristirahat, tapi ia juga tak bisa diam saja. Apalagi kalau Bos yang sudah meminta.


Di kegelapan malam, kota ini adalah miliknya bersama seseorang yang disebut Karya itu. Mereka berada di organisasi yang berbeda dan memiliki tujuan berbeda, tapi pada intinya sama-sama preman dalam naungan Aliansi.


Yang berbeda, Karya biasanya lebih ditugaskan mengurusi sesuatu yang 'lembut', sementara Tanjung mengurusi bagian sensitif seperti nyawa orang.


Spesifiknya jika sudah ada kematian, tugas Tanjung adalah turun tangan, menghilangkan hal-hal semacam itu.

__ADS_1


"Jadi gimana? Lo enggak dateng?" tanya Ikram memastikan.


Tanjung mendengkus, terpaksa harus berkata, "Turunin anak-anak yang enggak sibuk nyari tempat-tempat lain. Besok gue turun ngecek sendiri."


Yah, Tanjung juga sudah merasa baikan jadi seharusnya untuk mengecek tempat ia masih bisa berjalan.


"Oke."


Nyaris Ikram mematikan panggilan, Tanjung lebih dulu berbicara, "Suruh itu anak pulang ke sarangnya. Gue enggak mau denger dia di sini lagi."


Itu anak, jelas Ikram tahu siapa.


Dayan.


Orang itu mungkin datang mengecek kondisi Tanjung, tapi tidak perlu baginya menetap lama-lama di kota ini. Apalagi sampai repot mengelilingi sudut kota demi menemukan satu dua masalah yang harus Tanjung kerjakan.


Cih. Memikirkan dia sekarang berkeliaran di teritorinya saja sudah membuat Tanjung jengkel.


*


Lihat saja dia, lihat saja tangannya, lalu jangan lupakan tato naganya, lalu tidak bisa diabaikan sikap semena-menanya. Mana mungkin Suri menang.


Pada akhirnya Suri cuma bisa mengabaikan dia.


Makanya waktu melihat tiba-tiba dia melepas infusnya dan pergi mandi, Suri meloncat gembira.


Akhirnya, ya Tuhaaaaaaan! Terbebas juga dari orang gila!


Setelah berhari-hari Suri sumpek melihat dia, akhirnya dia go away juga dari hidup Suri.


"Ikut gue."

__ADS_1


"Hah?" Kesenangan Suri surut, digantikan kebingungan karena ucapan itu. Apa maksudnya dia mengajak Suri? "Ngapain?"


"Lo bosen, kan?"


Cowok itu memakai kaus hitam tepat di depan Suri.


Selain otot-ototnya terlihat, juga nampak jelas bekas-bekas lebam ungu di perut dan dadanya.


Pemandangan itu saja sudah membikin ngeri. Bagaimana bisa dia mau keluar saat tubuhnya masih terlihat sekarat? Herannya dia bahkan tidak meringis sakit.


"Lo bukannya mau pulang?" Suri bertanya penuh harap, karena sungguh ia capek terkurung di sini.


Pulanglah. Tolong pulang saja ke rumah dia sendiri. Ngapain dia harus di sini dan mengganggu Suri?


Pulanglah, plis.


"Pulang?" Malah balik bertanya. "Gue mau pergi, lo ikut. Jangan banyak omong."


"Tapikan gue enggak—"


"Jangan, banyak, omong."


Kenapa Suri malah jadi pembantunya dia?!


Suri stres luar biasa, tapi mata orang ini terlalu menakutkan untuk dilawan.


Takutnya dia membunuh Suri, maka mau tak mau ia ikut.


Wajahnya kembali kesal. Menyambar jaket, tak lupa handphone dan sekotak rokok.


Sambil mengikutinya, Suri merokok.

__ADS_1


Jangan salahkan Suri. Cuma orang gila yang tidak gila diperlakukan tak adil oleh makhluk ini.


*


__ADS_2