
Setelah Ikram memberitahunya, Tanjung jadi paham kalau perempuan hamil itu memang diluar nalar.
Tapi tidak ia sangka sampai seperti ini juga.
Kasihan juga.
Sementara Suri yang melihat Tanjung bahkan tidak tertawa pada akhirnya mengacak rambut frustrasi.
"Lo mesti belajar ngomong, yah. Ngomong. Ayo ngomong!" todong Suri frustrasi, karena Tanjung benar-benar tanpa ekspresi.
"Ngomong apa?" Tanjung memiringkan wajah tak peduli.
"Ya semuanya!" teriak Suri, nyaris gila.
Suri depresi berat menghadapi orang ini.
"Pertama, lo mesti ngomong kalo mikirim sesuatu! Kedua, lo mesti ngomong kalo gue ajak ngomong! Ketiga, lo mesti ngomong kalo gue ngasih tau sesuatu yang harusnya lo tuh respons!"
Tanjung melirik ke arah lain. Berpikir kalau semua alasan 'ngomong' yang Suri katakan sangat tidak penting.
Bagaimana kalau dia saja yang mengikuti Tanjung?
Pertama, jangan bicara kalau tidak penting. Kedua, berhenti bicara jika tidak penting. Ketiga, ayo tidak usah bicara jika tidak penting.
Dan bonus keempat, bicaralah ketika itu penting dan diamlah ketika itu tidak penting.
"Tanjung!"
"Hm?"
__ADS_1
Suri menjatuhkan dirinya ke karpet, berguling-guling gatal saking kekinya.
Melihat tingkah Suri yang di matanya semakin absurd, Tanjung putuskan berpaling ke arah lain.
Melihat handphone-nya meskipun hari ini Tanjung tidak bekerja.
Tiba-tiba, Suri justru sudah berada di punggungnya, memeluk leher Tanjung.
"Apa?" tanya Tanjung spontan.
Sebenarnya senang kalau disentuh-sentuh oleh Suri dengan cara seperti itu.
Jauh lebih baik kalau mereka bicara dengan bahasa tubuh daripada mulut.
"Mendadak aja kepikiran," gumam Suri, yang akhirnya pasrah, "Arul kalo tau gue nikah kira-kira gimana?"
Tanjung hanya diam.
Perempuan itu mengalungkan tangan ke leher Tanjung, menatapnya dengan mata polos itu.
"Lo tau, gue pernah minta nyari Arul ke polisi."
Tanjung mengamati wajah Suri yang mendadak sendu.
"Gue keluar duit banyak, lo tau. Sampe waktu itu rela cuma makan sekali sehari, cuma nasi sama sosis kecil yang seribuan itu satu, karena duitnya gue pake buat nyari Arul."
Tanjung mau menyuruh dia diam tapi entah kenapa tidak bisa.
Jadi begitu.
__ADS_1
Pantas saja Dika terlihat seperti orang yang punya masalah waktu berkata santainya Tanjung tidak akan sesantai Suri.
Pengkhianat bagi Tanjung itu tetap kakaknya Suri.
Yang Tanjung tenggelamkan di laut dan ia yakin jika tidak dimakan hiu, minimal mayatnya dikerumuni ikan-ikan kecil dan sekarang tinggal tulang belulang yang keropos.
"Terus tiba-tiba pencariannya diberhentiin."
Suri berucap tanpa menyembunyikan raut wajah bencinya.
"Padahal gue udah ngasih semuanya yang gue punya, tapi ujung-ujungnya kakak gue enggak tau ke mana, polisi nyerah, gue mau enggak mau mesti berusaha sendiri."
Pencarian dihentikan, kah?
Kalau begitu sejak awal Bos Besar sudah tahu identitas Suri.
Karena yang punya power bermain dalam aparat hukum hanya Bos Besar.
Tanjung pun bisa jika ia membawa-bawa nama Bos.
"Gue tuh sering kangen Arul. Sering banget. Tiap hari kali."
Suri membaringkan kepalanya ke bahu Tanjung, memeluk punggungnya erat-erat sambil terus berbicara.
"Kalo lo enggak ada, sampe sekarang gue mungkin masih bolak-balik kerja sampe subuh buat makan, bayar kontrakan terus nungguin Arul yang enggak tau di mana."
Tanjung mengusap-usap punggung Suri. "Lo mau jajan?"
Ayo berhenti membahas orang mati.
__ADS_1
Dia juga tidak akan hidup lagi mau dirindukan sebanyak apa pun.
*