Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
60. Orak Peduli


__ADS_3

Kelemahan.


Tanjung selalu merasa ia tak punya kelemahan.


Walaupun bukan berarti Tanjung kalau dibacok masih hidup atau kalau jantungnya dicabut ia bisa menciptakan yang baru; tapi buat Tanjung, nyaris tidak ada yang berharga di dunia kecuali dirinya sendiri.


Mungkin Tanjung cuma bisa kesal kalau uangnya terbuang percuma.


Yang lain, Tanjung tidak mau tahu. Karena itulah Tanjung sering terlihat tidak punya kelemahan.


"Lo sebelas dua belas sama Karya sih, emang sengaja karena posisi kalian," ucap Bos atas keterdiaman Tanjung itu.


Bos kembali duduk di tempatnya.


"Lo punya banyak duit, lo juga bisa beli apa pun yang lo mau. Tapi kalo urusan hati, lo nol besar. Besides, itu enggak penting-penting amat buat lo, entah sebagai Tanjung atau sebagai Eksekutif."


"...."


"Lo harus tau, kalo cewek lo bikin lo mati sekalipun, gue enggak nangisin lo. Lo alat gue ngendaliin orang, gue alat lo buat dapet duit. Keputusan terserah lo."


Dari awal itulah hubungan mereka. Ada kesetiaan tapi bukan sebuah kesetiaan buta tanpa keuntungan.


Tanjung masih sempat diam, sebelum akhirnya menghela napas.


"Gue enggak suka narik omongan sendiri."


Sekali Tanjung bilang A, sampai kapan pun akan ia usahakan A.


Bos memang benar. Suri kemungkinan akan jadi kelemahan besar dalam hidupnya yang akan menghancurkan Tanjung.


Tapi itu cuma akan terjadi kalau Tanjung gagal mengolah semuanya.


Kalau berhasil, tidak akan ada masalah. Sayangnya Tanjung lebih suka keberhasilan daripada kegagalan, jadi seharusnya tidak masalah.


"Well done." Bos beranjak, memasang kembali tuksedonya. "Gue enggak mau denger ada masalah apa pun sama lo. Sekali ada masalah dari urusan pribadi lo, semuanya gue tarik."


Tanjung tahu.


Bos menarik sesuatu dari bawah meja, meletakkannya di depan Tanjung.

__ADS_1


"Selamat dari gue." Lalu pria muda itu pergi, berlalu keluar.


Kepergian Bos itu sudah jadi isyarat yang membiarkan Suri masuk kembali.


"Kenapa?" tanya Suri was-was, menghampirinya yang masih duduk memandangi koper kecil itu. "Tanjung, jangan diem. Kasih tau kenapa!"


Tanjung membuka koper itu. Tidak terkejut sama sekali melihat susunan uang, bersama lembaran berkas yang menyatakan ia dan Suri resmi telah menikah.


"Ini ...." Suri sampai tidak bisa berkata-kata.


"Hadiah." Tanjung menutupnya. Menyerahkan itu ke tangan Suri. "Pake sepuas lo."


Suri nge-blank.


"Apa lagi? Lo belum puas?"


Bulu kuduk Suri meremang.


Satu badannya merinding karena pemandangan susunan uang, ditambah Tanjung berkata itu untuknya, ditambah kenyataan itu sudah bersama surat-surat.


Mungkin sudah sangat terlambat buat bertanya tapi ... Tanjung ini sebenarnya siapa?


"Lo kenapa lagi?"


Suri tersekat, merasa habis menelan batu. "Enggak."


Aduh, lain kali Suri harus memanggil dia Pak Bos.


Benar-benar the real boss.


Segala sesuatu bisa dia selesaikan dengan uang dan perintah.


"Bu-buat lo aja." Suri kembalikan uangnya, karena takut. "Gue enggak butuh."


"Hah?"


"Maksud gue, kalo gue butuh, gue minta ke elo. Tapi, lo aja yang pegang. Iya, gitu." Suri menggigil dan pucat memegang lengan Tanjung. "Ayok, pulang aja. Gue capek. Ayok."


*

__ADS_1


Ikram langsung mengembuskan napas frustrasi waktu ia datang membawa dokumen soal Arul, namun Suri malah memanggilnya buat bicara.


Tatapan Tanjung seiring waktu makin menguliti. Bahkan Ikram tidak akan kaget kalau besok ia didepak dari divisi ini, karena Suri sangat tidak mau mengerti.


Apa sih susahnya mengerti kalau Tanjung tidak mau dia bicara dengan siapa pun? Apa yang susah dari itu, hah?


Bagaimana kalau dia berhenti mengajak Ikram bicara karena Ikram pun tidak mau membicarakan apa-apa dengan Suri?


"Gue denger lo udah resmi nikah." Ikram berusaha enggak galak, karena jutek pun ia bisa dipenggal oleh Tanjung. "Selamat."


Suri malah terlihat seperti zombie. "Sumpah, gue tanya sama lo. Tanjung tuh dibesarin sama siapa? Bapak Emmaknya siapa?"


Bos Besar. "Emang kenapa?"


"Gue nikah sama gue beli sendal jepit sensasinya sama, njir!"


Ikram memiringkan wajah heran. "Terus lo ngarep nikah di gedung? Sama Bos? Otak lo yang perlu diperbaiki sih kalo gitu."


Sebenarnya Ikram paham maksud Suri.


Biasa aja, kan? Iya, kan?


Ya memang karena dia menikahnya sama Tanjung. Coba dia menikah dengan orang lain, pasti ceritanya bakal beda.


Buat Tanjung, menikah tidak menikah itu sama. Tidak ada urusan baginya.


Siang kerja, malam dia tidur dengan Suri. Menikah tidak menikah, ya Tanjung begitu-begitu saja.


"Lo ngapain ngomong bisik-bisik?"


Lihat, kan? Bicara saja dia masih seperti bicara pada bawahan. Tanjung mana peduli soal status istri, status suami. Harus begini, harus begitu.


Orak peduli dia.


Tanjung itu lebih peduli kalau Ikram duduk di sebelah Suri, bicara dengan suara pelan seolah tidak mau Tanjung dengar.


Jadi bisakah Suri berhenti mengurusi hal tidak penting dan sedikit lebih mementingkan jarak antara dia dan Ikram karena Ikram merasa nyawanya di ujung tanduk sekarang ini!


*

__ADS_1


__ADS_2