
Tapi Dokter Moris mengisyaratkan Suri untuk diam.
"Yah, kalau kamu nanya begitu, gimana yah ...."
Dokter tersebut selesai melilit perban ke lebam Suri biar terlihat ada sesuatu yang diobati.
"Analoginya begini: ada ranting kecil yang mau dipatahin. Kamu kasih anak bayi, dia enggak bisa matahin. Kamu yang pegang, rantingnya patah."
Cowok itu mengangkat alis. "Terus?"
"Sama-sama ranting, kenapa yang satu enggak bisa yang satu lagi bisa?"
Mata cowok itu langsung tertuju pada Suri. Dan kesan 'jadi lo bayi' di matanya membuat Suri dongkol.
"Kenapa saya yang jadi bayi?!" protesnya pada Dokter Moris.
Tapi dokter itu cuma mengangkat bahu, mengambil tas berisi peralatan tempurnya yang tidak digunakan sama sekali. "Ngomong-ngomong, kamu kenapa lepas infus?"
Ternyata memang manusia ******. Masa dokter yang menyelamatkan dia bertanya tidak dijawab sama sekali.
Dia cuma diam, bersama kesan 'kalau saya mau ini ya jadinya ini, bodo amat situ ngomong apa'.
Demi Tuhan, Suri dikutuk apa sampai bertemu cowok ini?
"Saya anggap kamu ngerasa baikan. Itu bagus."
Dokter Moris, diluar dugaan langsung menyerah.
__ADS_1
"Kalau gitu sekarang kamu bisa makan normal lagi. Tapi saya saranin pertama-tama makan bubur buah dulu. Jangan terlalu banyak makan nasi atau makanan instan. Lebih bagus kalau bubur alpukat madu atau bubur jagung."
Ucapan dokter tidak dihiraukan. Dia malah berjalan menuju laci, hingga dokter menatap Suri.
"Jagain."
Muka Suri ibarat mau menangis darah. Kenapa harus gue gitu jagain dia?! Emang gue emmaknya?!
Cowok itu cuma melempar gulungan kecil uang, dan Dokter Moris menangkapnya. Segera setelah itu beliau pamit, meninggalkan keheningan.
"Nama lo siapa, sih?" Suri entah kenapa bertanya lagi padahal yakin bakal zonk. "Kasih tau nama lo apa susahnya, sih? Emangnya nama lo semahal itu apa?"
Dia malah melepas bajunya, tidak berkata apa-apa.
Suri menekuk kaki dan cemberut. Menatap punggung cowok aneh itu yang dipenuhi tato naga. Macam gengster saja. Atau apa? Dia yakuza?
Tapi bicara soal tato, abang Suri sepertinya juga pernah mengatakan sesuatu tentang itu.
"Idih, Abang mau bikin tato? Yaudah, gue juga. Biar kembar."
"Kembar pala lo." Arul menampol kepalanya saat itu, lalu berucap diskriminatif, "Cewek yang punya tato tuh cewek enggak bener."
"Sama aja sama cowok, brengsekk."
Suri menatap sendu lantai kamarnya. Sulit untuk tidak merasa sesak.
Jika saja Arul tidak pergi, mungkin sekarang Suri juga berkuliah. Jika saja Arul tidak pergi, sekarang Suri juga bisa tertawa lepas menikmati tayangan komedi televisi.
__ADS_1
Dasar badjingan.
Memang Suri sebeban itu apa sampai dia meninggalkan Suri sendirian?
"Gue mau bikin tato juga."
Yang ada tulisan 'Arul anjiiing'. Posisinya kalau bukan di lengan bawah maka di betis saja. Biar kalau Suri pakai celana pendek dan kaus pendek, semua orang melihatnya dan ikut menyumpahi orang brengsek itu.
"Enggak usah banyak gaya." Tiba-tiba, handuk jatuh ke kepala Suri. "Sana mandi."
"Heh! Ini rumah gue—"
"Tanjung."
"Hah?"
Dia berdecak kesal seolah Suri berbuat salah. "Nama gue."
Suri melotot. "Siapa, siapa?!"
"Mandi atau gue sirem lo di sini."
"Tadi nama lo siapa, ih!" Suri beranjak terpaksa, daripada nyawanya terancam.
Meski begitu, sebenarnya Suri dengar.
Tanjung. Nama dia Tanjung?
__ADS_1
Entah kenapa ... tidak cocok.
*