Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
80. Masih Berpura-Pura Tuli


__ADS_3

Tanjung tidak peduli soal apa itu cinta, sayang, atau apa pun ***** bengeknya. Namun bagi Tanjung, menjaga Suri tetap aman, nyaman dan bahagia adalah sebuah tugas yang sama utamanya dengan tugas dari Bos Besar.


Memastikan Suri baik-baik saja bagi Tanjung juga memuaskan seperti ia mendapat uang banyak dari pekerjaan.


Tanjung tidak pernah merasa seperti ini. Menganggap seseorang penting dan berharga atau harus ia pedulikan.


Waktu berlalu tanpa Tanjung sadari. Rasanya baru kemarin, tapi sekarang ka melihat Suri terlelap dengan perut besarnya, tersenyum mengigau.


"Ini anak gue," gumam Suri sambil tertawa geli. "Abang jagain."


Waktu tidak mengubah apa-apa. Nyatanya Suri masih berada dalam pemikiran yang sama, merindukan abangnya, Arul, dan berharap dia pulang melihat anak mereka.


Tanjung masih pura-pura tuli. Masih pura-pura tidak mengerti sambil terus berbohong kalau ia berusaha mencari Arul.


Dan kebohongan itu membebani. Sebab Suri berharap padanya.


"Dia nendang." Suri berucap sambil mengusap-usap perutnya di pagi hari Tanjung menemani dia berjalan.


Hari ini Tanjung libur, jadi Suri bukan berjalan di sekitar apartemen, melainkan di anjungan. Tanjung mengawasinya berjalan dengan perut besar itu, juga berusaha tidak mendengarkan gumaman Suri.


"Kata Papa, Uncle udah hampir ketemu. Nanti kalau Uncle pulang, kamu yang akur yah sama dia. Soalnya dia ngeselin."

__ADS_1


Suri bicara antusias sendiri.


"Kamu naikin mukanya, terus jambak-jambakin rambutnya. Terus nanti juga kamu gigit telinganya. Tanyain kok dia enggak pulang-pulang. Yah? Capek Mama nyariin."


Tanjung awalnya bohong soal akan mencari Arul, padahal tidak. Lalu lama-lama Suri bertanya dan Tanjung capek mendengarnya.


Jadi Tanjung bohong lagi. Berkata kalau pencarian Arul mulai menemukan titik terang, dan Suri harus sabar sampai dia ketemu.


Tanjung cuma bilang Suri harus sabar, tapi di telinga Suri malah seperti tanda kalau kakaknya akan pulang sebentar lagi


"Adududuh." Suri mendadak mengeluh.


Hal yang spontan membuat Tanjung panik. "Kenapa?"


Rasa antusias Suri mengenai anaknya terlihat jelas dari seberapa berseri wajahnya. Tanjung juga merasakan perubahan pada Suri.


Dia yang dulunya bar-bar jadi sedikit lebih tenang, lebih hobi tertawa dan tersenyum daripada cemberut. Tanjung pun merasakan hal sama, minus perubahan ekspresi muka.


Tapi Tanjung sangat menantikan. Ia merasa sangat tidak sabar menunggu kelahiran anaknya.


Hanya ... di satu sisi Tanjung mulai merasa tidak senang. Sebab mulut Suri sangat banyak menyinggung Arul.

__ADS_1


Dia terlihat sangat banyak, terlalu banyak, merindukan Arul. Seolah-olah rasanya dia lebih butuh Arul daripada Tanjung.


Seperti sore ini, ketika Tanjung melihat Suri duduk di kursi dekat jendela memandangi matahari terbenam, Suri mengusap-usap perutnya sambil bicara sendiri lagi.


"Mama mau banget liat Abang, Nak. Dia kayak apa yang sekarang? Rambutnya udah panjang kali, yah? Nanti kalo pulang kita botakin dia yah, biar tau rasa."


Tanjung menghela napas. Menghampiri Suri demi menghentikan omongan itu.


"Lo belum minum vitamin."


Suri tidak menoleh. Cuma mengusap lengan Tanjung. "Besok udah masuk sembilan bulan, yah?"


"Hm."


"Arul gimana?"


".... Jangan banyak pikiran. Minum vitamin terus istirahat."


Suri menjatuhkan kepalanya ke belakang. Menatap Tanjung yang menunduk, menatapnya tanpa ekspresi.


Kerjapan Suri terlihat lemah. Seperti seseorang yang lelah, capek, sedih, dan mau menangis berlarut-larut.

__ADS_1


*


__ADS_2