
Mau tahu hal menjengkelkan? Satu ruangan dengan orang yang pura-pura bisu.
Suri harus berulang kali mendengkus jengkel karena orang ini bahkan tidak mau menyebut namanya.
Dia juga tidak pergi ke mana-mana padahal sudah sehat, dan Suri mungkin dikutuk jadi orang baik sampai tidak tahu bagaimana cara mengusir orang.
Masa dia enak-enakan tidur di kasur Suri sementara Suri malah tidur di bawah? Sudah begitu bukannya berterima kasih malah dia diam saja!
Kalau ditanya menyusahkan atau tidak, sebenarnya antara iya dan tidak.
Dia tidur di kasur Suri, otomatis Suri di lantai. Tapi dia juga tidak diberi makan—karena tidak bisa, lebih tepatnya—dan segala hal tentang dirinya dibayar oleh uang dia sendiri.
Cuma, demi Tuhan, dia pelit suara. Apa dia tidak diajari bahwa komunikasi adalah kunci dasar hidup orang dewasa? Ucapkan sesuatu kek gitu.
"Males banget, sumpah." Suri sengaja bicara keras-keras, duduk di lantai menyalakan televisi.
Sengaja menyinggung orang asing itu.
Ini hari libur kerja, jadi Suri tidak punya kegiatan selain istirahat.
Tapi pada akhirnya Suri gerah juga. Tidak bisa dibiarkan begini terus. Nanti dia ngelunjak menyusahkan orang.
"Oi." Suri menoleh pada pria itu. "Enggak ada niatan apa ngasih tau nama lo? Udah mau seminggu lo di sini, nama lo aja gue enggak tau."
Hening.
"Seenggaknya gue tuh mesti tau nama lo. Masa lo tidur di kamar gue tapi gue manggilnya oi-oi doang. Bilang dong nama lo."
Hening juga.
"Akh, stres gue." Suri menjatuhkan diri ke lantai, meringkuk sambil mengganti-ganti channel.
Niatnya Suri mau sabar. Siapa tahu nanti dia buka suara juga.
Walau gagal.
Karena keki, akhirnya televisi ia matikan. Suri melompat berdiri, memutuskan pergi keluar saja daripada depresi di sini.
__ADS_1
"Dahlah, gue mau cabut."
"Ke mana?"
Oh, suara mahalnya keluar.
"Emang kenapa? Mau nitip nasi bungkus?" sindir Suri keki.
Mukanya datar macam tembok habis diamplas. "Lo butuh uang?"
Hah? Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?
"Emang ada gitu di bumi sekarang yang enggak butuh uang? Kecuali transaksi ganti jadi batu kali."
Cowok itu menunjuk tembok. "Apartemen segini paling enggak dua juta setengah sebulan. Masih keliatan baru, ada kulkas sama TV juga."
"Terus?"
"Lo kerja siang malem bukan buat makan, kan? Tapi buat ini."
Suri mengerutkan kening tak senang.
Setengah dari uang penghasilannya sebulan habis untuk menyewa tempat saja. Tempat yang kalau harus jujur tidak senyaman itu namun mahal—bagi Suri.
Ada beberapa tempat lebih mudah dan menurut Suri kualitasnya sebelas dua belas, namun ia tetap bertahan di sini untuk alasan pribadi.
Ia harus menunggu seseorang di sini. Satu-satunya tempat yang orang itu tahu akan menemui Suri di sana adalah tempat ini.
Kalau Suri pindah ke tempat lebih murah lalu dia pulang dan tidak menemukan Suri, demi Tuhan, Suri tidak mau sampai harus menunggu lebih lama bertemu orang itu.
"Lo mau tau?" Suri memasang topinya, berbalik pergi. "Bye-bye."
"Kenapa lo enggak mau dibayar?"
Suri menoleh kesal. Dasar cowok mata duitan!
"Giliran gue mau pergi, langsung banyak omong. Apa, sih? Kesepian gue tinggal? Gak usah sok deket. Nama lo aja gue enggak tau."
__ADS_1
Bodo amat namanya siapa sekarang. Suri bakal lebih berterima kasih kalau orang menjengkelkan ini hengkang saja.
"Gue bayar sepuluh juta sebulan, lo tetep enggak mau?" tawar dia lagi, dengan angka yang tidak masuk akal.
Cih. Mana ada orang membayar sepuluh juta cuma buat Suri tinggal di rumah. Kalau hidup semudah itu, Suri bakal tinggal di rumah seumur hidup.
Biar tidak perlu mencari uang tapi hidupnya tetap nyaman.
"Gak." Ayo pergi saja.
Suri hanya akan terbawa emosi kalau berurusan dengan orang macam ini.
*
Sulit dimengerti kenapa dia marah. Kalau dia benci uang, kenapa dia sekeras itu bekerja?
Tanjung cuma mau meringankan, dia malah sensi. Dasar perempuan. Memang dari dulu tidak pernah waras.
Tatapan Tanjung bergeser ke atas lantai, di mana ponsel Suri tergeletak begitu saja. Susah payah Tanjung meraihnya tanpa harus membungkuk, sebab itu akan menyakiti luka Tanjung.
Baiklah, kalau Suri tidak mau diatur. Tinggal Tanjung mengaturnya secara paksa.
Tanjung membuka ponsel tanpa password itu, lalu menekan nomor telepon anak buahnya untuk segera datang ke tempat ini.
Tak butuh waktu lama, pintu kamar terbuka.
"Lo ngapain di sini?" tanya anak buahnya keheranan.
Tanjung rasanya tak perlu menjelaskan kenapa kondisinya begini. Karena tidak penting juga bagi siapa pun.
"Suruh anak-anak ngikutin dia."
Anak buahnya yang bernama Ikram itu melihat foto Suri baik-baik. "Ini siapa?"
"Gak usah tau. Di mana-mana dia kerja, gue mau dia dipecat. Bodo amat alesannya apa."
Akan Tanjung atur dia baik-baik.
__ADS_1
*