
Gue baru tau, beberapa bulan kemarin kalo lo sama Tanjung sengaja ditemuin buat kepentingan orang.
Gue tau risikonya bilang kayak gini. Lo bisa aja ngadu ke Tanjung dan besok gue mati. Tapi sedikit aja gue percaya lo masih Suri adeknya Arul yang brengsek itu.
Lo tau kakak brengsek lo sayang banget sama lo, kan? Itu enggak berubah. Enggak pernah.
Kakak lo masih sayang sama lo.
Suri menghapus air matanya yang justru makin banjir.
Jika ada satu orang yang Suri tahu sayang padanya tanpa syarat, itu pasti Arul.
Suri tahu betul kakaknya sayang pada Suri. Ia cuma sering menghina Arul karena jengkel, tapi di hatinya, Suri tahu betul ia adalah kesayangan kakaknya, dan begitu sebaliknya.
Gue enggak pernah pengen ngeliat lo kayak sekarang. Gue sedih, ngerasa bersalah sama Arul biarin lo punya anak dari Tanjung.
Jangan maafin gue. Tapi plis jaga diri.
Tanjung enggak sayang sama lo. Jadi jangan sayang sama dia sampe gue dateng ngasih tau lo.
Suri menghapus semua tulisan itu sesuai kata Teguh, melenyapkan semua jejak yang nanti mungkin bakal Tanjung periksa.
Beberapa jam sampai Tanjung datang, jantung Suri tak berhenti berdetak. Ia gelisah dan takut sampai berulang kali menggendong Rana tanpa alasan jelas.
Begitu pintu apartemen terbuka, Suri langsung pura-pura mengajak Rana bicara.
__ADS_1
"Apa, Nak? Apa? Papa pulang, yah? Papa udah pulang kerja, yah?"
Suri tersenyum, padahal hatinya gundah gelisah.
Beberapa waktu Tanjung cuma ke kamar mandi. Membersihkan diri, lalu mendekatinya buat menggendong Rana.
"Ikram bilang lo dikasih HP."
Suri berusaha mengangguk tenang. Biar terlihat tidak menyembunyikan apa-apa, Suri yang mengambilkan, memperlihatkan bukti bahwa ponsel itu sedikitpun tidak berbahaya.
"Soalnya waktu ketemu dulu gue bilang ke Bang Teguh enggak punya HP. Jadi dia ngasih HP. Tapi enggak ada kartunya jadi cuma buat foto Rana. Nih, liat deh. Bagus, kan? Imut banget anak kita."
Itu sogokan.
Ekspresinya melembut saat membaringkan Rana, lalu dia berbaring di samping Rana.
Ponsel Suri sepenuhnya diabaikan, dan Tanjung lebih fokus mencium tangan bayi kecil mereka.
Pikiran Suri mengawang-awang pada tulisan Teguh. Apa sebenarnya yang Tanjung sembunyikan mengenai Arul? Kenapa kesannya Suri akan meninggalkan Tanjung nanti saat ia tahu kebenaran?
Apa Suri tanyakan saja? Bagaimana kalau Tanjung marah?
Suri sudah lama tidak mengingatnya tapi kalau sekarang mau diingat lagi, Tanjung dulu meremukkan handphone Suri pakai tangan.
Satu tangan.
__ADS_1
Dan Tanjung melakukan banyak pekerjaan berbahaya yang Suri tidak pernah tahu apa.
Suri takut membayangkan hal yang tidak-tidak. Tapi ia malah tak berhenti membayangkan hingga rasa takutnya semakin besar.
Ketika Rana mendadak menangis, Suri langsung tersentak.
"Enggak pa-pa, enggak pa-pa. Mau susu yah kamu? Udah laper?"
Tanjung ikut duduk melihat Rana menyusu. Dia mencium kening Rana, tidak banyak bicara tapi melihat dengan teliti anaknya.
Pikiran Suri berbelit-belit sekarang. Sulit bagi dirinya menahan semua itu dan Suri takut malah produksi ASI-nya bermasalah.
"Papa."
"Hm?"
"Lo enggak mau jujur soal Arul?"
Tatapan Tanjung langsung berubah. Pria itu menatap Suri lekat-lekat dan entah kenapa Suri mendadak takut.
Takut jika pria ini melukainya atau melukai Rana.
".... Kenapa?" tanya Tanjung dengan suara rendah yang menurut Suri menakutkan.
*
__ADS_1