
Setelah menunggu dengan sangat tidak sabaran di luar, Tanjung akhirnya bisa masuk. Tatapan pria itu sudah menusuk, sebab kepalanya berulang kali coba memikirkan pemeriksaan pribadi macam apa yang dilakukan dokter ini pada Suri.
Segala sesuatu yang bersifat pribadi itu biasanya intim. Dan kalau dia melakukan sesuatu yang intim, setidaknya dia harus siap-siap berjumpa malaikat penjaga kubur.
"Jadi, dia kenapa?" Tanjung bertanya dingin.
Dokter Moris pura-pura mengemasi barang ke tas kerjanya. "Saya khawatir di rahimnya ada kista, karena Suri bilang perutnya nyeri."
Suri yang tidak pernah mengeluh begitu pun cuma pura-pura memegang perut padahal yang sakit itu kepalanya. Tidak seperti Tanjung, Suri selalu manut kata dokter, karena ia adalah pasien yang berbudi.
"Kalau bisa saya rekomendasi dia ke rumah sakit. Tenang aja, saya punya kenalan yang bisa nutupin identitas dia."
Dokter Moris kembali mengulurkan alamat rumah sakit ke Tanjung.
"Bawa dia ke sana buat pemeriksaan lebih lanjut. Saya enggak bisa apa-apa kalau itu kista, karena penanganannya harus operasi."
Sengaja Dokter Moris menekankan kata operasi, agar Tanjung mau tak mau terdesak. Bahkan sekalipun Tanjung itu nekat, dia pasti tahu operasi tidak bisa dilakukan di kamarnya ini.
Setelah mengatakan itu, Dokter Moris beranjak keluar.
Tanjung menatap alamat rumah sakit itu lalu Suri. Dibiarkan saja Dokter Moris pergi, beralih duduk ke tepi kasur.
"Perut lo sakit?"
Suri mengalihkan mata.
"Kenapa enggak jawab? Bilang kalau sakit."
Karena Suri tidak menjawab, Tanjung pun beranjak. Pria itu berlalu melewati Ikram dan Dika yang juga ia tugaskan hari ini.
"Anterin dia ke rumah sakit kalau udah bisa. Tunggu di sini, pastiin enggak kenapa-napa."
Tanjung tidak bisa, karena posisinya tidak membolehkan hal itu. Masuk rumah sakit saja Tanjung tidak boleh seenak hati, sebab itu hanya akan jadi informasi kalau pusat dari divisi yang ia pegang sedang lemah, dan satu dua tikus bisa saja mengobrak-abrik banyak hal.
__ADS_1
Melihat Tanjung pergi begitu saja, Suri menghela napas.
Tapi napasnya cuma bisa bebas sejenak, karena sebuah bom tiba-tiba jatuh.
"Lo hamil?"
Itu berasal dari mulut Ikram yang kini tersenyum tanpa beban.
Suri gelapan, tapi Ikram menganggap itu jawaban. Jawaban yang sangat jelas malah.
"Gue udah hamilin cewek tiga kali, jadi enggak bakal ketipu kayak Bos."
Dika menyenggol lengan Ikram. "Entar dia ngadu." Khawatir kalau nanti Suri bilang pada Tanjung kalau dia diintimidasi.
Tapi Ikram menggeleng. Fokus menatap Suri. "Kenapa lo enggak bilang?"
Dan Ikram juga merasa ingin bertanya pada Dokter Moris. Kenapa mereka menyembunyikan itu dari Tanjung?
Pertanyaan Ikram dijawab keheningan oleh Suri.
"Buat apa?" balas Suri akhirnya. "Buat dibuang? Iya? Tanjung ujung-ujungnya cuma ngeliat gue kayak boneka. Kalo gue punya anak, otomatis gue beban."
Jadi dia masih termakan omongan Dayan, kah?
Padahal Ikram sudah mulai yakin tentang bosnya benar jatuh hati pada perempuan ini.
Tanjung itu biasanya cuma mengandalkan Ikram atau Dika dalam segala urusan pekerjaan. Dalam divisi mereka, posisi Tanjung adalah bos, dan Ikram juga Dika adalah wakil bos.
Segala sesuatu akan Tanjung sampaikan pada mereka, baru mereka berdua menyampaikan lagi pada pihak yang sebenarnya dibutuhkan.
Tapi demi Suri, dia meninggalkan Dika dan Ikram di sini.
Cuma buat mengurus perempuan sakit. Padahal Tanjung membutuhkan mereka di luar.
__ADS_1
"Lo enggak lapor Bos?" tanya Dika kemudian.
"Belum pasti." Ikram menjawab tenang. "Perlu dipastiin dulu, makanya lo disuruh ke rumah sakit, kan?"
Suri mengangguk. Hanya bisa terdiam setelah itu, karena dua penjaganya juga diam.
Pikiran Suri berkeliaran di mana-mana. Ia takut kalau Tanjung benar menelantarkannya kalau memang benar Suri hamil.
Siapa yang mau dibuang seperti barang setelah dia puas memakainya dan merasa Suri sudah membosankan?
Tapi, kalau Suri berharap lebih, ya memang Suri ini siapa?
Tanjung kan memang tidak pernah menganggapnya penting.
"Omong-omong, lo laper?"
Pertanyaan Ikram menyadarkan Suri kalau perutnya kosong sejak kemarin siang. "Laper."
"Bubur?"
"Gue mau nanas manis, ada enggak?"
Ikram mengedik pada Dika. "Sana."
"Lah, kenapa gue?"
Ikram senyum, memiringkan sedikit wajahnya sebagai bahasa isyarat. Artinya : kalo dia ngadu mau makan tapi enggak dikasih, lo mau dipukulin Bos?
Itu cukup membuat Dika langsung beranjak pergi, sayang pada kesehatan badannya sendiri.
Tapi alasan utama Ikram mengusir Dika bukan makanan, melainkan karena Ikram mau bicara berdua.
"Lo kemarin cerita soal kakak lo ke gue." Ikram duduk di kursi tempat Dokter Moris tadi duduk. "Maksudnya ngilang gimana?"
__ADS_1
Ada kemungkinan Suri cuma pura-pura kehilangan kakaknya buat menjebak Tanjung, kan? Itu perlu dipastikan.
*