Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
11. Uang Ya Uang


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, lo nih enggak dicariin sama orang apa?" tanya Suri pada orang Sok Bisu di kontrakannya ini.


Suri memutuskan berceloteh mau dijawab atau tidak dijawab. Karena kalau tidak, seluruh dunia serasa tengah mengheningkan cipta.


Pagi ini karena ia tak pergi kerja, Suri hanya pergi membeli sekotak es krim dan rokok.


Iya, Suri tahu seharusnya sekarang pergi cari kerja. Tapi kalau manusia tidak punya waktu depresi dan putus asa, maka dia bukan manusia.


Syukurnya Suri manusia. Jadi sekarang Suri cuma menikmati kedepresian hidupnya yang bingung mau bayar kontrakan pakai kertas apa.


Ia capek, marah, kesal, bodo amat terhadap dunia sekarang. Mau besok kiamat juga mungkin Suri sujud syukur. Memang dunia sampah ini harus cepat game over.


"Lagian lo dirampok apa dibegal?" tanya Suri sekali lagi. "Tapi kalo lo dirampok, kenapa duit lo malah tinggal segepok? Dompet lo enggak ada KTP, enggak ada STNK, enggak ada apa-apa. Berarti lo dirampok apa enggak? Emang ada gitu orang ngerampok STNK sama KTP doang?"


Suri menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa, mulai menyalakan televisi sambil menikmati es krim cokelat dan rokoknya.


"Oi, lo jawab dong kalo punya mulut. Gue nih nanya elo, bukan nanya setan."


Hening.


"Lo kalo mau ngomong nanti, tolong buka sama perkenalan diri dulu, deh. Udah capek gue mikir nama lo tuh siapa, sih?" gumamnya putus asa.


Hening.


Entah ini orang memang punya masalah di mulut atau karena gangguan mental yang bikin dia ogah bersuara, yang jelas Suri kadang-kadang mau mencekik lehernya itu.


Bingung Suri kenapa tidak ia biarkan saja dia koit.


"Kerja apa yah gue?" Suri akhirnya bicara pada diri sendiri. "Jual diri enak kali, yah? Jadi piaraan Om-Om?"

__ADS_1


Tapi jadi peliharaan Om-Om tidak semudah itu, bestie.


Suri sudah dari kemarin mau jadi peliharaan om-om jika itu membuat hidupnya mudah, namun kata temannya ia terlalu 'datar' untuk om-om yang mencari selingkuhan demi selangkang*n.


Memang sih Suri itu orangnya lempeng. Hidupnya terlalu banyak ditimpa kenyataan sampai Suri tidak suka bercanda, tidak suka mendayu-dayu juga, apalagi bertingkah ala baby-babynya sugar dady.


Hadeh.


...*...


Tanjung sebenarnya bukan tipe orang yang suka banyak bersabar. Makanya ia kesal mendengar celotehan Suri sejak tadi.


Menahan sakit di perutnya, ia beranjak. Membuka laci di mana dompetnya diletakkan, tapi bukan mengambil dompet, melainkan setumpuk uang yang baru saja diberikan oleh Ikram.


Tanjung mendekati Suri, sekali lagi memberikannya. Melemparnya ke depan Suri agar dia diam.


Suara uang jatuh itu adalah melodi terbaik di dunia kapitalis ini, jadi sebaiknya dia berhenti mengoceh.


Awas dia kalau berkata tidak lagi. Sekarang dia tidak punya alasan, tidak punya pekerjaan dan sedang sangat butuh.


"Lo siapa, sih?" balas Suri.


Lagi-lagi banyak bicara, bukannya mengambil uang itu. Tanjung sampai heran kenapa ada manusia mempermasalahkan terlalu banyak hal yang sebenarnya bukan masalah.


"Lo anak orang kaya? Punya perusahaan gede gitu makanya habis ngebakar uang tiba-tiba jadi segepok lagi?"


Kenapa dia harus selalu butuh penjelasan? Uang kan uang. Intinya uang.


Mau uang itu dari dasar laut, mau dari puncak gunung, mau dari kotoran ayam, intinya uang yang bisa dia gunakan. Ambil saja dan diam kan bisa.

__ADS_1


"Oke." Akhirnya dia mengambil. "Gue terima. Gue udah capek kerja. Makasih, Duhai Pahlawan Gue."


Tanjung hanya diam ketika Suri melewatinya, pergi memasukkan es krim ke kulkas, lalu membuka lemari untuk mengeluarkan jaket.


"Mau ke mana?"


"Diskotik," jawab dia, tak lupa membanting lemari. "Mau buang-buang duit. Mumpung duit gue banyak!"


Sedikitpun Tanjung tidak paham kenapa dia marah-marah dan meninggalkan apartemen dengan pintu lagi-lagi dibanting.


Salahnya apa?


Atau memang ada manusia yang ketika diberi uang, dia justru merasa diberi kotoran anjing?


*


Jelas saja Suri tidak ke diskotik. Ia merokok, tapi tidak minum alkohol. Sejujurnya suara musik berdentum-dentum itu membuatnya mau mengamuk pada siapa saja yang memutar musik.


Tidak lucu kalau lima menit setelah minum Suri malah pergi menghajar manager klub.


Suri mampir ke rumah ibu kontrakannya, membayar uang bulanan tempat untuk dua bulan kemudian. Asal kontrakan aman, Suri tidak bakal depresi lagi.


"Kan belum waktunya, Suri."


Gadis itu cengengesan. "Biar enggak repot aja, Bu. Kebetulan lagi dapet uang. Daripada nanti abis belanja enggak jelas, mending bayar kontrakan buruan."


Ibu Nia ikut tertawa, menerima uangnya dengan senang hati. "Kiriman Arul, yah? Apa kabar dia? Kapan mau balik?"


Senyum Suri langsung retak.

__ADS_1


*


__ADS_2