Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
75. Ulang tahun Tanjung


__ADS_3

Suri membulatkan tekad sejak ia paham bahwa cuek pada suami bisa memberi ketenangan mental.


"Gue tau Tanjung nyembunyiin sesuatu dari gue. Banyak kali."


Suri berjalan santai lagi, tidak mau susah memikirkan hal yang bukan urusannya.


"Yang penting dia pulang, inget gue sama anaknya. Udah, titik."


Ikram di belakang agak tersenyum mendengarnya.


Jodoh memang cerminan diri yah, teman-teman? Bos santuy, istrinya santuy.


Yah, semoga Suri benar-benar bisa konsisten dengan pendiriannya itu. Dan lebih baik memang dia tidak perlu tahu ke mana perginya Arul sejak dua tahun lalu.


Bos seharusnya sudah cukup buat Suri.


*


Suri real cuma ngidam bakso udang yang dulu beberapa kali ia makan pas masih susah. Rasanya lebih baik dan menurut Suri lebih enak.


Tapi Suri tidak menyangka waktu lewat, ia melihat toko kue Ayudia terbuka.


Ingat Ayudia, kan?


Tidak?


Yasudah, Suri ingatkan. Dia dulu bos Suri yang katanya mau pindah ke Bandung karena ada klien dan katanya lama.

__ADS_1


Pengalaman terpahit Suri dipecat dari tiga tempat berbeda di hari yang sama.


Waktu Suri masuk, ternyata benar Ayudia buka toko.


"Suri?"


"Mbak." Suri tersenyum seadanya. Jujur agak sakit hati, tapi lebih kepada keadaan. "Kapan balik dari Bandung?"


Ikram di belakang Suri menatap Ayudia dengan senyum kecil. Membuat Ayudia langsung melihat kesana-kemari penuh gugup.


"Ba-baru. Baru seminggu. Lo apa kabar?"


Suri tahu itu bohong. Tapi ia menjawab saja, terus beralih ke etalase buat sekalian beli.


"Wah, tumben mau beli kue. Baru gajian kemarin, yah?" tebak Ayudia sesuai kebiasaan Suri.


"Loh? Lo hamil?"


"Iya, udah tiga bulanan."


Percakapan panjang itu terjadi karena ucapan Suri. Ayudia sempat mengira Ikram suaminya, tapi Suri langsung membantah, cuma memperlihatkan foto Tanjung dengannya.


Lamaaaaaaa kali Ikram menunggu dua perempuan itu selesai bicara, baru akhirnya nampak akan berpisah.


Ekspresi lega Ikram tak bisa disembunyikan seketika.


"Lo yang bikin gue dipecat dulu, kan?"

__ADS_1


Eh?


Suri menatap kesal orang itu. "Tanjung nyuruh lo?"


Begitu Suri sadar Ayudia bohong, langsung juga Suri ingat kalau ia kenal orang gila yang punya power melakukan hal-hal tidak waras.


Pantas saja dulu Suri dipecat dengan berbagai alasan bodoh. Kalau Suri tahunya waktu itu, ia pijak-pijak Tanjung yang lagi terluka.


"Bos cuma enggak paham nunjukin perasaan. Jangan marah," elak Ikram, berkelit di balik karakter sintingnya Tanjung.


Ya percuma juga marah sekarang, kan? Suri cuma bete karena dulu ia mengira nasibnya sangat buruk.


"Daripada lo ngurusin itu," kata Ikram mengalihkan, "lo enggak tau bos ulang tahun minggu kemarin?"


Suri syok. "Emang iya?!"


"Gue malah kaget lo enggak tau. Kalo Bos sih wajar."


Suri mengerjap. Ya mana dirinya bisa tahu kalau semua berkas disimpan oleh Tanjung. KTP Suri pun dia yang simpan.


Berkas pernikahan dulu, Suri cuma melihat judulnya, bukan isinya. Nama panjang Tanjung siapa—kalau memang ada—Suri tidak punya kesempatan melihat.


Pasti kalau Suri tanya, orang itu bakal bilang 'gunanya lo tau apa?'.


"Gue jadi inget karena ngeliat kue. Lo mau ngasih surprise?"


Waktu ngomong begitu, Ikram dalam hati ketawa, karena sudah tahu Tanjung bakal mengacaukan surprise tersebut.

__ADS_1


*


__ADS_2