
"Lo?"
Dayan tersenyum miring. "Ini abang lo?"
Omong kosong apa yang bocah ini katakan? Jelas-jelas dia datang ke sini karena Tanjung lalu sekarang bersikap seolah tak tahu apa pun?
"Iya, Abang gue." Suri menjawab ceria. Terlalu ceria sampai Tanjung sakit mata melihatnya.
Walau tahu itu omong kosong, Tanjung diam saja.
"Dia lagi sakit jadi kayak gitu. Btw, thanks yah, Yan, udah ngajakin."
"Sama-sama. Nanti gue telfon angkat, yah."
"Sip."
Pemandangan menjijikan.
Tanjung hanya menatap Dayan dalam diam, membiarkan pemuda itu pergi seolah dia percaya Tanjung adalah kakak Suri.
Kapan dia datang ke kota? Bos-kah yang menyuruh? Tapi buat apa dia mendekati Suri?
Ah, brengsek.
Tanjung paling tidak menyukai Dayan. Orang itu mungkin terlihat ramah dan dikagumi karena blablabla yang kata orang keren itu, tapi Tanjung rasa dia jauh lebih busuk dari Tanjung sendiri.
Jika hobi Tanjung adalah menghajar orang, hobi Dayan adalah mempermainkan orang lain.
Jika Tanjung bisa mendorong seseorang dari atas ketinggian, Dayan adalah orang yang terkekeh-kekeh melihat itu.
Dia orang tersialan yang pernah Tanjung kenal seumur hidupnya sebagai manusia siialan pula.
"Lo dari mana?" Tanjung langsung mendekati Suri. "Siapa tadi?"
Karena memang tidak ada gunanya Suri tahu siapa Dayan dan soal Tanjung kenal dia, lebih baik ikuti permainan bodoh itu.
Tanjung cuma mau jawaban, tapi Suri memberinya kekesalan.
Gadis itu menoleh, tersenyum lebar. Itu membuat Tanjung sempat terkejut waktu anak itu mengangkat tangan, menunjukkan jari-jarinya.
__ADS_1
"First, none of your business. Second, none of your fuckiing bussines."
Suri berlalu, nampaknya mau ke kamar mandi setelah berkata kurangajar.
Tapi sikap dia, ucapan dia, dan keberadaan Dayan tadi membuat kekesalan Tanjung memuncak.
Ditarik bahu gadis itu, mendorongnya pelan agar berhenti.
Atau setidaknya, niat Tanjung pelan. Dan pikir Tanjung memang pelan.
Jelas Tanjung tidak tahu bahwa pelan baginya sudah termasuk sangat keras bagi orang normal, terutama seorang gadis.
Suri terdorong sampai lemarinya bergoyang, seolah akan rubuh oleh kencangnya tekanan.
"Lo apaan, sih?!" teriak Suri spontan.
Tanjung meletakkan tangan pada pintu lemari, tepat di sisi kepala Suri.
Bagi Tanjung yang setiap kesalahan itu tinggal pukul saja, ini adalah cara terlembut mengatur seseorang.
Biasanya Tanjung akan langsung memukul wajah orang kurangajar yang berani membantah, apalagi mengumpat.
"Satu," gumamnya rendah. "Gue tanya, jawab."
"Dua." Tanjung menatap mata itu lurus-lurus agar dia melihat kenyataan lebih jelas. "Sekali lagi lo ngomong kurangajar, lo enggak bakal mau tau nasib lo gimana. Ngerti?"
Suri mendadak terpaku.
Mata yang Tanjung kenali. Mata mangsa yang ketakutan setelah berlagak berani.
Mata yang bagus untuk anak pemberontak agar dia tahu dia tidak bisa bertindak bebas di depan semua orang.
"Ngerti?" tanya Tanjung, sangat pelan, dan menekan.
Meski terpaksa, dia mengangguk dalam diam.
Tanjung jelas tidak berpikir bahwa ia telah menjajah hidup seorang gadis. Hal-hal seperti itu sedikitpun tidak terlintas di pikirannya.
Bagi Tanjung, segala sesuatu yang ia lakukan adalah benar. Kalau tidak suka, silakan melawan.
__ADS_1
Tapi saat melawan, jangan salahkan Tanjung kalau dia terluka.
Maka pilihan dia patuh atau habis.
"Lo dari mana?" Tanjung berbaik hati mengulang sesi introgasinya.
*
Suri sudah lupa kapan terakhir kali ia ketakutan pada orang lain.
Instingnya memberitahu bahwa orang ini bisa mencekik lehernya kalau Suri tidak patuh, jadi meski benci bagaimana dia menekan Suri, mau tak mau ia harus berbicara.
"Main judi," jawab Suri pelan, patuh dan tunduk.
"Bareng cowok tadi?"
Suri mengangguk. Walau secara teknis yang bermain adalah Dayan.
Habis bermain judi kartu, Dayan mengajaknya pergi ke klub malam.
Bedanya, ini bukan klub malam tempat disko-disko. Melainkan sebuah arena tarung bebas tempat selanjutnya dia berjudi.
Di sana, Dayan memasang uang taruhan pada seseorang, lalu mereka menyaksikan pertandingan tinju penuh darah yang lebih brutal dari pertandingan tinju di TV.
Katanya kalau kita memasang uang ke orang yang bakal menang, maka uang kita akan berlipat. Atau tidaknya, itu di permukaan. Lalu Dayan mengajarinya trik agar pemasang taruhan terkecoh dan rugi.
Hanya itu.
"Lo tau dia siapa?"
Suri menggeleng. "Namanya Dayan. Katanya dia orang Palembang."
Napas Suri akhirnya lega karena cowok ini menjauh.
Seketika, Suri melampiaskan amarah—dalam kepala.
Apa-apaan sih dia?! Memangnya dia pikir Suri ini pembantunya, punya hak marah kalau Suri telat membuatkan makanan atau memijat bahunya?!
Tapi karena takut dicekik, Suri cuma mendumel dalam hati. Baru ia sadar sudah membiarkan orang berbahaya tidur di rumahnya.
__ADS_1
"Lo suka sama dia?"
*