
Tanjung menatap gadis yang sekarang mengeluh sambil memasang sepatu boots untuk kakinya. Meski merasa masih ada yang kurang—dia kurang make up—Tanjung sudah bisa melihat kecantikan yang berbeda dari sebelumnya.
Memang seharusnya dia begini. Jadi perempuan tulen.
Bisa-bisanya dia merusak mata Tanjung dengan baju laki-laki yang selalu dia pakai, sudah berulang kali dicuci dan bikin tidak selera.
Mulai sekarang Tanjung tidak akan membiarkan Suri berpakaian tidak jelas lagi, terutama di depannya.
"Kenapa gue kesiksa terus sih, ya Tuhan?"
Tatapan Tanjung bergeser dari wajah ke badan Suri. Crop top yang dia pakai membungkus payudaaranya, membuka bagian tulang selangka dan perut.
Karena dia tinggi dan langsing, itu jadi terlihat pas di badannya. Dan Tanjung senang melihatnya
Lalu rok celana yang dia pakai menutupi sedikit dari paha Suri. Tanjung selalu senang melihat paha wanita, terutama yang kakinya jenjang.
"Sumpah yah, gue enggak mau keluar pake baju kayak gini!"
Tanjung beranjak lagi, kali ini memang untuk keluar.
Ia berjalan santai, dan Suri mau tak mau ikut alias keluar juga. Dengan baju itu.
Memang orang kaya bikin emosi. Mentang-mentang bapaknya dia punya kebun sawit.
Oke, Suri cuma asal tebak. Tapi memang siapa dia kalau bukan anak petani sawit yang kayanya ampun-ampunan?
Dia bahkan bisa menyuruh pemilik toko mengirim baju ke alamatnya karena dia malas menenteng barang.
Kalo bukan juragan sawit, fix dia ngepet!
*
Tanjung langsung berbaring di tempat tidur begitu sampai di kontrakan Suri. Niat Tanjung memang mau langsung tidur, apalagi perutnya agak sakit dan tangannya mulai terasa panas, tanda efek obat anti nyeri mulai hilang.
__ADS_1
Tapi Suri malah berteriak.
"Tunggu sebentar!"
Dia menunjuk Tanjung emosi. Mencak-mencak tanpa alasan jelas.
"Lo narik gue, maksa gue, ngambil hak gue milih baju cuma buat diganti terus lo tidur?!"
Lalu apa?
Tanjung cuma sakit mata melihat dia, jadi bajunya ia ganti. Kalau disuruh ganti sendiri, seleranya dia meragukan, tidak dapat dipercaya.
Lagipula kalau mau langsung Tanjung nikmati dia malah menolak, jadi ya tentu saja Tanjung memilih tidur.
Perempuan ini sangat rumit sampai Tanjung bingung.
"Lo yah! Lo! Gue kesiksa pake baju kurang bahan begini tapi lo malah mau tidur! Buat apa gue lo suruh ganti baju kalo ujung-ujungnya lo tidur juga?!!!!"
Mulutnya langsung diam. Apalagi ketika Tanjung menahan kedua tangannya di atas kepala, menatap lekuk badan Suri dari atas ke bawah.
"Terus lo mau apa?" gumam Tanjung di wajahnya.
"...."
"Banyak omong. Gue udah bilang diem kalau enggak penting."
Karena dia marah-marah, Tanjung rasa sekarang dia sudah siap memuaskan Tanjung.
Kebetulan juga, ini posisi yang pas.
Tanjung mengecup pipi Suri sebagai awal, turun ke telinga dan bergeser ke lehernya. Leher jenjang itu membuat Tanjung tak tahan tidak menggigitnya, mengisap kuat sampai Suri terpekik.
Suri yang mendapat perlakuan semacam itu mengerjap tak mengerti.
__ADS_1
Dia bilang dia tidak suka Suri, tapi kenapa dia terus berusaha mendekat?
Dia bilang dia tidak punya alasan menyukai Suri, tapi dia sampai membelikan Suri baju agar terlihat nyaman dia pandangi. Kenapa?
Pikiran Suri entah kenapa mengawang. Ia menelan ludah susah payah ketika Tanjung menatapnya lekat-lekat, memikirkan sesuatu yang Suri tahu apa.
Mungkin efek samping stres, Suri jadi tidak waras. Karena ia malah memegang wajah Tanjung yang seketika itu sayu.
"Lo suka sama gue?" tanya Suri lagi. "Iya, kan? Makanya lo begini."
Pasti. Tidak ada alasan lain dari perilakukan kecuali dia menyimpan perasaan pada Suri. Bahkan kalau dia menyangkal terus, tingkahnya benar-benar menunjukkan itu.
Tak ada jawaban. Tanjung malah mau menciumnya kalau saja Suri tidak berpaling.
"Gue enggak mau ciuman sama cowok sembarangan." Suri bergumam. "Lo emang ngasih gue duit, tapi gue enggak minta. Enggak bisa seenaknya lo begini cuma karena udah beliin gue macem-macem."
Suri mau tahu apa yang dia pikirkan di sana, jadi ia buat alasan saja seperti ini.
Setidaknya jujurlah kalau dia suka orang,brengsekkk!
"Jujur sama gue, Tanjung. Lo suka kan sama gue? Iya, kan?"
Tapi, ternyata dia diam.
Tanjung menyelipkan tangan ke sela rambutnya. Sentuhan yang diluar dugaan jadi lembut, padahal tangan dia seharusnya sakit.
Tapi sebelum Suri sadar, Tanjung mendorong tengkuknya, mencium bibir Suri tanpa izin.
Bagi Tanjung, aturan mutlak dipegang olehnya.
Hanya oleh dirinya sendiri.
*
__ADS_1