Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
47. Secercah Kebenaran


__ADS_3

Niat Suri sih jalan-jalan, bukan jajan. Tapi karena sudah di luar, ya masa tidak jajan?


Kebetulan tempat jajan makanan street food masih cukup dekat dijangkau, jadi Suri langsung capcus mencari jajanan untuk dirinya, sekalian untuk Tanjung juga.


Fakta kalau Tanjung tidak punya piring, tidak punya gelas dan tidak punya apa pun itu selain air putih dan bir di kulkas ya berarti dia harus beli makanan siap saji buat makan.


"Tanjung suka makan apa, lo tau enggak?" tanya Suri, mumpung orang yang cukup dekat dengan Tanjung ini di sampingnya.


Siapa tahu Suri dapat info baru darinya.


Ikram mengangkat bahu. "Setau gue Bos enggak suka makanan kayak daging sapi. Dia lebih suka ayam. Terus enggak pedes. Bos enggak makan nasi putih juga, enggak suka minyak sama santen, terus enggak suka makanan minuman bungkusan, kecuali alkohol."


Buset, banyak juga pantangan dia. Suri belakangan lebih sering membuatkan Tanjung makanan sehat sih karena dia juga masa pemulihan. Tapi Suri tidak tahu kalau ternyata itu orang super duper pemilih dalam makanan.


"Pantes waktu gue bikin nasi goreng kornet dia enggak mau nyoba," gumam Suri, ingat momen itu pernah ada satu waktu.


"Lo masak buat Bos?"


Suri mengangguk polos. "Emang kenapa?"


"Dimakan?"


"Iya, tuh?" Masa dibuang. Memangnya kenapa, yah, mohon maaf? Dia pikir makanan Suri pantas dimuntahkan?


Ikram cuma senyum, enggak bicara apa-apa lagi. Mau Suri kepo, tapi mas-mas pedangang bakso seafood Korea sudah memanggilnya.


Suri duduk di tempat kosong dan Ikram di sampingnya, agak berjauhan.


Waktu sibuk mengunyah bakso udang di kuah pedas gelas styrofoam itu, mendadak seseorang memanggil.


"Suri!"


Gadis itu menoleh, langsung terkejut menemukan seseorang yang wajahnya sudah lama tidak ia lihat.


"Bang Teguh." Suri berdiri dari tempat duduknya. Kaget sekaligus heran mengapa dari semua tempat, orang ini bisa berada di sini.

__ADS_1


"Lo ngapain di sini?" tanya pria itu heran. Tapi waktu melihat Ikram, Teguh langsung tersentak. "Bentar. Jangan bilang lo pacar Ikram?"


"Pacar Bos." Ikram menjawab segera, tidak mau ada kesalahpahaman. Kalau Tanjung dengar, bisa-bisa Ikram kena tendang.


"Hah?"


Suri terkekeh. "Maksudnya Tanjung, Bang."


"Apa?"


Wajah Teguh terlihat agak terlalu pucat waktu mendengarnya.


Tentu saja Suri jadi tidak nyaman. Karena kesan yang Teguh berikan jadi seperti itu tidak seharusnya terjadi sama sekali.


Tunggu, kenapa Teguh mengetahui soal Tanjung? Teguh adalah teman Arul, kakak Suri, yang terbilang cukup dekat untuk Suri mengenalnya.


Namun sebelum Teguh bicara, Ikram merangkul bahunya. Menarik Teguh menjauh.


"Bos ngelarang orang ngomong sama pacarnya lama-lama, jadi izin dulu baru ngomong."


Emang iya? Suri terkejut sendiri.


Karena sibuk mengutuk itu, Suri tidak melihat Ikram semakin membawa Teguh menjauh, untuk bicara hal yang tidak akan pernah mau Suri dengar.


"Itu adeknya Arul?" tebak Ikram tepat sasaran.


Teguh mengangguk kaku. Bahkan terlihat tegang dan pucat.


Kacau, batin Ikram seketika.


Dari tadi Ikram langsung konek waktu Suri berkata dia kehilangan kakaknya dua tahun lalu. Namanya Arul pula.


Dan entah kenapa sekarang Ikram jadi merasa bahwa pertemuan Suri dan Tanjung itu berkat campur tangan seseorang.


"Jangan kasih tau siapa-siapa. Siapa pun. Bilang sama Dokter Moris, gue butuh 'perawatan' intensif."

__ADS_1


Dokter adalah mata-mata terbaik untuk mengorek informasi dari berbagai pihak. Terutama dari dokter gelap yang digunakan oleh banyak orang penting di belakang layar.


Orang itu sedikit banyak mungkin tahu.


"Gue perlu nyampein sesuatu buat Suri." Teguh menatap gadis yang kini sibuk jajan di gerai sate itu.


"Dari Arul?"


"Gue cuma mau nanyain soal uang."


"Uang?"


Teguh melirik ke sekitar sebelum kembali bicara dengan suara sangat rendah. "Duit yang Arul dapet waktu itu, dia kasih ke ceweknya buat disampein ke Suri."


Ikram menyeringai. "Duit yang Bos cari maksudnya?"


"Ayolah, Man. Bos udah dapet gantinya dari dulu. Suri udah jadi ceweknya Bos jadi anggep aja buat Suri."


Yah, itu benar. Tapi Ikram agak miris, karena pacarnya Arul itu ... kalau tidak salah dia sudah lama menghilang.


Tanjung dulu sempat menyuruh mengejar pacarnya Arul untuk menanyakan beberapa hal. Sayangnya ketika Ikram mencari gadis itu, dia sudah pergi.


Uangnya jelas tidak sampai pada Suri.


"Now it gets interesting." Ikram melepaskan rangkulan pada Teguh. "Jangan bahas itu lagi. Anggep aja lo enggak kenal."


"Tapi—"


"Atau lo penasaran ngeliat gimana reaksi Bos? Kenapa enggak bilang langsung?"


Ikram tersenyum melihat Suri.


"Bilang kalo orang yang Bos hajar sampe mati ternyata punya adek yang sekarang Bos sayang-sayang."


"...."

__ADS_1


"Menarik buat diliat, kan?"


*


__ADS_2