
Suri bukan bete karena Tanjung tidak suka padanya, yah. Jelaslah tidak. Buat apa juga Suri berharap Tanjung suka padanya?
Suri bete karena dia sudah berbuat seenak jidat, sudah pula nyaris memperrkosa, tapi kesannya malah Suri yang berharap!
Muka Suri mau ditaruh di mana?!
Lama Suri melampiaskan kemarahan dengan marah-marah, tapi begitu puas, Suri jadi sadar sekarang lagi di tengah laut. Tunggu, sejak kapan mereka di sini?
"Ini kenapa malah ke tengah laut?" tanya Suri, benar-benar baru sadar.
"Daripada capek lari?" balas Dayan santai.
Yaiya, sih.
Suri menopang dagu, menatap hamparan air laut yang bikin dirinya merasa tenang. Biru alam dan pantulan matahari menjelang siang tampak indah sampai Suri pun luluh.
Setidaknya pemandangan itu setidaknya membikin Suri berhenti misuh-misuh.
"Lo ada rokok?" Walau ia masih butuh bantuan lagi biar benar-benar waras.
Dayan mengulurkan rokok yang seketika ia ambil untuk diisap.
Hening sejenak melingkupi mereka. Suri termenung memikirkan Arul yang entah ada di mana, sedang apa, dan apakah dia juga mengingat kalau ada adik yang menunggu dia pulang.
Demi Tuhan, sedang apa dan di mana dia sebenarnya?
"Misal, nih." Suri bergumam. "Kalau cowok pergi terus enggak pulang-pulang lagi, itu karena apa?"
"Dia ninggalin lo." Dayan ikut bersandar, mengisap rokok juga.
"Karena?"
"Entah. Tapi kalau cowok udah pergi, itu biasanya emang dia enggak mau stay lagi sama lo. Jangan lo tungguin."
Lalu Suri harus menunggu siapa? Malaikat maut?
Satu-satunya keluarga yang ia tahu cuma Arul. Orang tua mereka meninggalkan Suri dan Arul sejak masih kecil. Kata Arul, Suri sudah tidak usah memikirkan lagi siapa ayah ibu mereka, karena yang lebih penting adalah diri mereka sendiri.
__ADS_1
Terus kalo gitu gue ditinggalin lagi? Gue enggak perlu nunggu lagi karena Arul enggak mau lagi nemenin gue?
Suri mengusap matanya sebelum ada tetesan yang jatuh.
Emang harusnya dari dulu gue ke luar negeri. Harusnya dari lama enggak usah gue tungguin.
Suri menunduk sampai pantulan wajahnya terlihat di permukaan air.
Daripada ngabisin duit bayar kontrakan, harusnya gue seneng-seneng, happy-happy-an. Liat sekarang. Udah gue mau diperrkosa cowok anjiing, kerjaan gue enggak ada, ditinggalin pula.
Goblock lu, goblock. Suri goblock!
Suri mengisap rokoknya dalam-dalam sebelum membuang batang rokok yang sebenarnya masih setengah itu ke tengah laut.
"Lo pernah enggak sih mikir kenapa lo mesti berjuang?"
Suri berceloteh lagi. Ia cuma bisa melakukan ini sekarang agar setidaknya melampiaskan emosi.
"Kayak, kalau lo mau kaya ya lo harus kerja. Kalau lo mau sukses lo harus kerja. Lo mau bahagia ya lo harus berusaha. Terus pertanyaan gue, pernah enggak sih lo minta dilahirin buat berjuang?"
Masuk akal juga, untuk ukuran perempuan yang terlihat tidak terlalu pintar.
"Gue boleh enggak sih bilang ke Tuhan gue enggak mau lahir?"
Suri tiba-tiba menutup wajahnya, tak mau terlihat sedang menangis untuk orang itu.
"Kayak, percuma juga, kan? Enggak ada yang ngerasa gue penting banget."
Dayan tersenyum geli. Sungguh anak gadis.
"Terus kenapa enggak bunuh diri?" tanyanya iseng.
"Gue takut, lah. Sakit. Maksud gue tuh, kalau dari awal enggak lahir, ya enggak perlu gue bunuh diri juga."
"Terus lo ngerasa tertindas?"
Suri terisak, bergumam iya di antara suara seraknya. Memang sejak dulu ia merasa tertindas. Sejak ia tak tahu siapa orang tuanya, Suri butuh waktu buat ikhlas kalau keluarga yang ia punya cuma Arul.
__ADS_1
Apalagi sekarang.
"Lo ngerasa Tuhan enggak adil?"
"...."
"Kenapa enggak ngelawan Tuhan?"
"Orang ganteng emang suka gila, ya?" balas Suri keki.
"Lo enggak bisa?" Dayan tersenyum polos. "Yakin enggak bisa?"
Suri langsung duduk. "Emang bisa?"
"Enggak, dong."
Kamprett.
Untung dia ganteng. Kalau tidak, Suri tenggelamkan sekarang juga.
"You know, Pretty? Hidup tuh punya sistem diktatorial. Sistem master-budak. Lo enggak tau?"
"Maksudnya?"
Dayan menjatuhkan diri ke samping Suri, merangkul lengannya. Dia mengusap-usap kepala Suri kayak mengusap-usap kepala anak kecil.
"Lo dipaksa lahir, terus begitu dewasa dipaksa kerja, dipaksa berusaha buat dapetin yang lo mau. Padahal lo minta aja enggak buat dilahirin. Tapi ngelawan takdir enggak bisa, ngubah kenyataan enggak bisa, berusaha juga harus bergantung sama kemauan Tuhan."
"...."
"Lo enggak bisa apa-apa. Sama sekali. Selain ngikutin apa kemauan Tuhan. That's the thing you called 'life'. Makanya gue bilang hidup itu diktatorial. Lo mau apa kek, lo mau gimana kek, itu terserah Tuhan bukan terserah lo."
Suri mengerjap.
"Enggak usah ngeluh, oke? Emang enggak ada jalan keluar selain terima, jadi enggak usah ngeluh."
*
__ADS_1