Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
63. Tanjung Adalah Tanjung


__ADS_3

Tanjung kembali ke kamar dan berbaring di samping Suri. Tapi mendadak kantuknya hilang tak berbekas, memikirkan pertanyaan Dika yang tidak ia pikirkan.


Buat Tanjung, kalau Suri adiknya Arul, yasudah. Memangnya Tanjung bisa mengubah kenyataan?


Tanjung cuma bisa berpikir 'oh, ternyata begitu'.


Pantas saja Bos Besar mengingatkan dan seperti mengisyaratkan ada sesuatu yang Tanjung tidak tahu, bisa jadi masalah kalau ia lanjut menikahi Suri.


Tapi di mata Tanjung, Suri dan Arul tidak punya hubungan sama sekali, mengenai pengkhianatan itu.


Pikir Tanjung kemarin, adiknya Arul itu laki-laki dan dia menerima uang dari Arul dua tahun lalu.


Ternyata salah. Ternyata adiknya Arul itu Suri.


Yasudah. Memang Tanjung harus apa jika sudah begitu?


"Engh."


Tanjung menoleh. Langsung merapatkan dirinya pada Suri.


Tangannya merapikan rambut di pipi Suri, menepuk-nepuk punggung perempuan itu. Namun dia tetap terbangun.


"Dari mana?" bisik Suri, yang ternyata sadar Tanjung sempat pergi.


"...."


Daripada bicara, Tanjung memeluknya. Membiarkan Suri agak menindih badannya.


Terus terang, bagi Tanjung itu sulit dimengerti. Mungkin karena Tanjung tak punya saudara.


Tanjung membunuh Arul bukan tanpa sebab, jadi kalau Suri tahu sebabnya, logika Tanjung bilang dia seharusnya maklum.

__ADS_1


Tapi kenapa ada sebagian dari diri Tanjung merasa Suri akan meninggalkannya?


Hal itu membuat Tanjung tidak ingin Suri tahu apa pun mengenai Arul lagi.


*


Suri menopang dagu sendirian di kamar sejak Tanjung pergi. Pikiran Suri sekarang tertuju pada cara memberitahu Tanjung tentang kehamilannya.


Mereka sudah menikah, begitu yang tertulis. Tapi saking santainya semua mengalir, Suri malah jadi tidak tahu bagaimana cara membuka pembicaraan soal anak.


Sepertinya sih Tanjung tidak akan menolak keberadaan anaknya.


"Gue belum ngasih tau Tanjung soal gue hamil."


Satu-satunya orang yang bisa Suri ajak bicara cuma Ikram, jadi waktu dia datang, Suri langsung curhat.


"Gue bingung ngomongnya dari mana."


"Gue mesti mulai dari mana kalo ngomongin anak? Gue enggak ngerti. Harusnya kayak gimana? Langsung ngomong aja, gitu?"


Ikram tetap diam saja, bahkan sampai dia memberikan cone gelato ke tangan Suri.


Setelah izin dengan Tanjung, Suri diperbolehkan turun buat jajan dan jalan-jalan.


"Gue sampe sekarang ngerasa belum kenal sama Tanjung. Dia enggak mau cerita apa-apa," ucap Suri, masih tetap curhat walaupun belum dibalas.


Akhirnya Ikram melirik sebagai respons. Dia juga lagi bingung memikirkan banyak masalah.


"Lo terlalu ribet," kata Ikram tiba-tiba.


"Apa?" Suri bahkan sampai tercengang mendengarnya.

__ADS_1


"Bos ya bos. Lo enggak perlu tau soal ABCD idupnya. Daripada lo sibuk mikirin yang begituan, mending lo pikirin kedepan mau ngapain."


Soalnya Tanjung juga tidak mempermasalahkan siapa Suri.


Waktu Dika bilang dia memberitahu Tannjng identitas Suri, Ikram mau menggeplak otaknya Dika.


Tapi ternyata Tanjung cuma berkata 'gitu' lalu mengabaikan segalanya.


Buat Tanjung, yang penting adalah Suri, kan? Dia bahkan sedikitpun tidak berpikir bahwa Suri itu mata-mata, atau seseorang yang dikirim buat menipu Tanjung agar dia jatuh cinta lalu lengah dan membunuhnya.


Tanjung masih melihat Suri sebagai Suri.


Jadi sebaiknya Suri juga berhenti mempermasalahkan siapa Tanjung, karena Tanjung tidak pernah berpura-pura melakukan sesuatu cuma buat menipu orang.


Tanjung adalah Tanjung.


Dia di depan, di belakang, sendirian, banyak orang, ya dia begitu-begitu juga.


"Lo pernah ditinggalin orang?" tanya Suri alih-alih membalas perkataan Ikram tadi.


Ikram mengangkat alis. "Dalam konteks apaan?"


"Pacar lo mungkin? Keluarga lo atau siapa gitu."


"Bokap nyokap gue udah enggak ada. Kalo itu maksud lo."


"Terus lo enggak takut ngerasa sendirian lagi? Ditinggalin lagi?"


"Gak."


Suri malah cengo dengan jawaban Ikram yang tanpa perasaan.

__ADS_1


*


__ADS_2