
Dulu Tanjung tidak pernah berpikir menyakiti Suri, tapi lengan Suri malah kadang lebam gara-gara Tanjung memegangnya dengan perasaan 'itu pegangan biasa'.
Suri yang bisa berteriak sekeras teriakan dari toa saja bisa terluka, apalagi anak ini.
"Papa, ayok."
Tapi Tanjung juga mau menyentuhnya. Sangat mau sampai tanpa sadar, tangan Tanjung sudah menyentuh pipi halus itu.
Pelan-pelan Suri malah menuntunnya memegang ke belakang, pelan dan pelan hingga saking pelannya, entah sejak kapan anak itu melepas susu, dan sepenuhnya berada di gendongan Tanjung.
Muka Tanjung langsung tegang.
Napasnya pendek-pendek, saking takut dia merasa terganggu. Jantungnya berdebar keras oleh rasa khawatir.
Tanjung tidak pernah seperti ini. Tidak pernah sekalipun ia mengalami hal semacam ini.
"Papa." Suri menunduk, bicara pada anak itu. "Ada Papa. Rana digendong Papa."
Tanjung memejamkan mata tiba-tiba. Berusaha menahan sesuatu yang rasanya ingin keluar dari sana.
Tidak mungkin. Tidak mungkin seorang Tanjung menangis cuma karena hal semacam ini.
"Ambil." Tanjung tidak tahan. "Buruan, Suri."
Suri bergegas mengambil anak itu, hati-hati menggendongnya. Sementara Tanjung berlalu ke kamar mandi, mencuci wajahnya berulang kali.
__ADS_1
Dan Tanjung benar-benar tidak percaya waktu ia bercermin, matanya memerah, bersama cairan hangat yang mengalir di pipinya.
Tanjung ternyata bisa menangis.
***
"Bos, gue masuk."
Ikram berusaha buat enggak tertawa waktu ia masuk, Tanjung ternyata sedang menggendong anaknya berjemur di tepi jendela.
Biarpun sudah berlalu seminggu sejak kelahiran anaknya Tanjung, Ikram masih tidak terbiasa melihat bosnya itu menggendong bayi.
Makhluk yang membuat seorang Tanjung setelah menggendongnya justru jadi bau bayi.
"Ada kiriman hadiah buat Rana." Ikram memperlihatkan kotak yang dia bawa.
"Taro di sebelah."
"Ini dari istrinya Bos."
Maksudnya, istri Bos Besar. Semua orang yang bisa disebut kolega Tanjung mengirim hadiah, termasuk Dayan juga, tapi semuanya Tanjung letakkan di kamar sebelah, tidak peduli isinya apa.
Cuma Suri yang membukanya ketika Rana sedang tidur.
Namun karena ini hadiah dari istri Bos Besar, Ikram rasa Tanjung harus melihatnya sendiri. Sebab isinya batu berlian merah yang belum ditempelkan pada apa pun.
__ADS_1
"Gue rasa ini lebih kayak aset buat Rana, Bos." Ikram menutup kotak kecil yang nilainya bisa membeli lusinan manusia itu. "Gue simpen di sebelah?"
Tanjung tidak pernah peduli soal uang, karena yang penting buat Tanjung itu aset. Jadi Ikram tahu Tanjung tidak mungkin menepikan benda ini, dan pasti akan menyimpannya baik-baik untuk Rana.
"Taro di sana." Tanjung mengedik ke kasur, dan Ikram meletakkan baik-baik kotak itu di sana. "Terus, perlu lo?"
Ikram membahas mengenai pekerjaan yang perlu diketahui Tanjung. Mendengar instruksi dan pemecahan masalah darinya, berhubung ada hal yang tidak bisa diwakilkan sama sekali.
Nada suara Tanjung selalu lebih halus dan tenang jika menggendong Rana. Dia bicara pada Ikram bukan seperti bicara pada bawahan.
Sesuatu yang luar biasa, kalau menurut Ikram.
"Ohiya, Bos, terakhir."
"Hm?"
"Anak lo boleh gue gendong enggak?"
Satu-satunya waktu Ikram bisa bercanda dengan Tanjung cuma ini.
Sengaja bilang begitu karena tahu mata bosnya bakal menatap dingin, siap melenyapkannya dari dunia ini.
Ikram cengengesan. Rindu juga pada anaknya yang jarang bisa ia gendong.
*
__ADS_1