
Suri baru sadar. Ini bukannya tempat yang kembarnya Jungkook pernah tunjukkan? Katanya di sini seseorang bisa dapat uang puluhan juta dalam semalam asal tahu triknya.
Walau Suri hanya tertarik pada cerita dan bukan mencoba karena pada akhirnya judi.
Tunggu, kenapa orang ini membawanya pergi ke sini? Jangan-jangan dia punya bergepok-gepok uang karena judi?
Wah, wah. Kalau dia sampai kalah terus terlilit utang, Suri juga akan kena karena dia tinggal di rumah Suri.
Ini harus dihentikan!
"Lo mau ikutan main?"
Mata itu meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada ponsel.
Cih. Dia membuang rokok Suri, mengabaikan ucapannya, seenaknya menyeret Suri, sekarang mau berjudi, dia membawa Suri.
Mungkin Suri tidak menyinggung tapi lengannya sakit gara-gara dia. Dia pikir tangan dia yang mirip balok kayu itu tidak menyakitkan?
Pada akhirnya Suri fokus saja pada sekitaran, daripada stres sendiri. Nanti kalau dia berjudi, Suri akan kabur.
Arena, atau apa pun namanya ini, punya dua lantai yang masing-masing mengarah pada satu ring bertarung. Suri sekarang berada di lantai dua, memegangi palang pembatas selasar yang menyajikan puluhan, atau mungkin ratusan orang berkumpul mengelilingi ring di lantai satu.
Suri pernah ke sini, jadi ia tak kaget.
"Lo tunggu di sini."
"Eh, mau ke manaβ"
Cowok itu pergi begitu saja. Bersamaan dengan kemunculan orang berkaus hitam polos juga, seperti menahan Suri agar tidak kabur atau menyusul dia pergi.
Apa sih dia? Mafia atau apa?
Lagi-lagi Suri terjebak. Menopang dagu cemberut sekaligus menahan marah.
Sekalian ia sumpahi orang itu mati tersedak kodok saja!
Ting!
__ADS_1
Suri mengeluarkan ponselnya. Nyaris meloncat jaget waktu chat dari si Ganteng masuk, setelah sekian lama dia tidak menelepon padahal bilang akan menghubungi Suri.
Yuhu.
π
Suri membayangkan orangnya menirukan emoticon. Pasti luar biasa ganteng. Duh, memang yang good-looking tidak ada counter.
^^^Hai. ^^^
Tau arah jam enggak?
^^^Arah jam? Maksudnya jam berapa? ^^^
π π
Jam tangan lo bukan digital, kan?
^^^Bukan. ^^^
^^^Emang kenapa? ^^^
Suri mengangkat lengannya, melihat angka satu pada jam, lalu meluruskan mata mengikuti arah itu.
Mulutnya terbuka tanpa suara menyaksikan Dayan di sana, berada di seberang tengah melambaikan tangan kecil.
Lalu dia menulis pesan lagi.
Sama kakak lo?
Duh, mana Suri bohong lagi. Lagian mau bikin alasan apa kalau bukan itu? Masa dirinya bicara 'ada cowok mau mati jadi gue tolong tau-tau malah dia betah'.
Lebih masuk akal bilang itu kakaknya.
Apalagi, si yang dimaksudkan juga bisu. Mau dibilang apa pun rasanya tidak akan dibantah saking malasnya dia bicara.
Bohong lagi tidak, yah?
__ADS_1
Iya, sama abang.
Bohong sajalah. Sudah terlanjur. Seperti kata pepatah, kalau sudah terlanjur basah, ya sekalian nyebur saja.
*
Dayan tergelak membaca kebohongan Suri itu. Mau tak mau Dayan berpikir kalau perempuan itu punya kebodohan yang lucu.
Mau dilihat dari angel mana pun, dia dan Tanjung mana mungkin saudara.
Orang itu, namanya saja Tanjung, tapi garis keturunannya dipandang 'luar biasa' di negara ini. Apa itu namanya? Blasteran?
Bukan secara kekayaan, jujur saja, tapi dari darah. Ibunya Tanjung adalah pelacurr berdarah Prancis-Indo, sementara ayahnya pengangguran keturunan Inggris-Spanyol.
Mereka tak kaya, tapi bule. Tanjung lahir dengan kulit putih pucat, walau tinggi badanya terbilang menyedihkan untuk ukuran laki-laki, tapi dia unggul soal wajah. Kata cewek-cewek, Tanjung punya kegantengan baby face yang didukung badan pendek, tapi kekar dan tegap.
Di organisasi, kedudukan Tanjung di atas Dayan. Dia terpilih karena brutal, punya wajah, punya karisma, dan tahu cara mengontrol orang.
Suri adiknya dia? Dayan mau terbahak memperlihatkan ini pada Tanjung.
Yah, baiklah kalau dia merasa bisa berbohong.
Kakak lo juga main judi? Mau taruhan?
^^^Um, enggak tau. ^^^
^^^Nanti gue tanyain. ^^^
^^^Orangnya lagi ke toilet.^^^
Dayan melarikan matanya ke arah Tanjung pergi, dan jelas bukan toilet.
Orang itu harus mengambil alih tempat ini sesuai dengan peraturan organisasi yang melarang tempat perjudian ilegal menggunakan nyawa sebagai taruhannya.
Tapi omong-omong, kenapa dia sampai membawa Suri ke sini? Padahal sudah jelas dia akan bekerja, lalu kenapa gadis itu harus ikut?
Tanjung memang selalu penuh misteri, dan sejujurnya kemisteriusan dia itu kadang menjengkelkan.
__ADS_1
Sejauh ini Dayan cuma bisa menyimpulkan kalau Tanjung 'menganggap' Suri berbeda dari kebanyakan gadis lainnya.
*