
Semua ucapan Dayan itu menjadi serangan telak bagi Suri.
Perempuan itu berdiri masih dengan ekspresi kosong. "Gue ... mau balik dulu," gumam dia nyaris tanpa suara.
Dayan tidak menahan Suri waktu perempuan itu beranjak pergi dengan muka pucat pasi.
Pemuda itu cuma tersenyum-senyum santai, tidak bergerak bahkan waktu Ikram berdiri di belakangnya. Orang itu sejak tadi mengawasi, walau mungkin dia sebenarnya diperintahkan oleh Tanjung buat membunuh Dayan.
"Lo ngapain ngomporin ceweknya Bos?" Dia bertanya, pertanda dia juga menyimak percakapan tadi.
Dayan tersenyum. "Anggep aja gue ngajarin Tanjung buat tobat."
Sebenarnya sekali lihat juga Dayan tahu Suri sudah sangat spesial.
Tanjung mungkin memandang dia berbeda, sampai Tanjung mengurung Suri di kamar untuk dirinya sendiri.
Tapi omongan Dayan juga tidak salah, kan? Karena Tanjung memang sudah terbiasa memperlakukan siapa pun seperti boneka.
Dan pada akhirnya Suri terprovokasi.
"Lo tenang aja," ujar Dayan seraya beranjak.
Menepuk-nepuk dada Ikram dengan senyum ramahnya.
"Gue pasti bakal ngasih tau kok ke cewek Tanjung, semuaaa yang pengen dia tau. Apalagi soal kakaknya yang ninggalin dia sebenernya bukan mau ninggalin dia."
Meskipun Dayan tidak menjamin setelah itu Suri masih akan jadi 'ceweknya Tanjung'.
Tapi yah, mari berdoa.
Yang terburuk.
*
"Yakin dia suka?"
Pertanyaan Dayan itu bikin Suri pucat menatap kenyataan.
Dirinya sudah terlalu nyaman sampai lupa memijak tanah. Padahal Suri sudah bilang jangan suka yang tidak terjangkau.
Tanjung cuma butuh alat, cuma butuh budak, bukan butuh Suri suka padanya atau dia suka pada Suri. Karena buktinya dia tak mau Suri tahu apa pun soal dia, dan dia tidak pernah peduli pada keinginan Suri bebas.
Gue malah kegeeran.
Karena, kalau dipikir lagi, sekalipun dia sangat pendiam, tidak mungkin dia sediam ini, kan?
Kerjaan dia apa, Suri tidak tahu.
Lalu, apartemennya Tanjung, barang-barang dia saja tidak ada.
__ADS_1
Mungkinkah itu bukan tempat tinggal aslinya? Bagaimana kalau itu cuma seperti ... tempat yang dia sewa selama Suri jadi mainannya?
Karena kalau dipikir lagi, masa ada manusia hidup tanpa lemari pakaian? Iya, kan? Tidak ada piring atau mangkok atau gelas juga. Padahal semiskin-miskinnya orang, pasti punya yang begitukan?
Apalagi Tanjung yang uangnya banyak.
Rumah asli dia pasti punya lemari sepuluh pintu, piring dan gelas dari emas.
"Suri."
Perempuan itu menoleh lesu, pada Ikram yang berlari menyusulnya.
Ah, peliharaan Tanjung (Suri) keluar kandang jadi penjaganya segera datang memasukkan Suri kembali ke dalam kandang.
"Lo dari mana?"
Suri tersenyum kecut. "Enggak ada. Ini mau masuk."
"Kenapa—"
Pintu apartemen Tanjung ia tutup, dan pintu itu otomatis terkunci jika sudah tertutup.
Ikram di luar menghela napas, paham sebenarnya dia kenapa.
Kalau saja Tanjung tidak sedang mempersiapkan rapat bulanan aliansi, niscaya dia akan langsung datang memukuli Dayan.
Tapi sejujurnya, Ikram menantikan tindakan Tanjung juga.
*
Suri duduk diam memeluk bantal sampai akhirnya pintu terbuka, memunculkan sosok Tanjung.
Pikir Suri dia bakal bertanya, tapi Tanjung cuma berlalu ke dalam kamar mandi, bersih-bersih, baru dia keluar dengan handuk melilit pinggangnya.
Badan kekarnya terlihat bercahaya dibawah sinar lampu terang. Luka lebam di perutnya pun semakin pudar. Kecuali tangannya yang menghitam karena Suri.
Dia menjadikan Suri peliharaan, tapi satu sisi melindungi Suri hingga ia pikir itu cinta.
"Mana HP lo?"
Suri menyerahkan, semata karena memang itu milik dia. Dia yang beli dengan uang dia, bukan uang Suri.
Nampaknya dia mengecek chat Dayan, lalu memasukkan benda itu ke laci, dengan kata lain disita.
"Gue ngelarang lo ketemu Dayan, kan?" tanya Tanjung dengan nada menusuk.
"...."
"Lo keluar buat ketemu Dayan padahal gue bilang diem di kamar."
__ADS_1
"...."
"Lo emang mau ketemu dia? Lo suka ketemu dia?"
Lihat cara dia bicara. Seakan dia cemburu saja.
Keterdiaman Suri nampaknya menyulut Tanjung. Pria itu mendekat, berdiri di depan Suri dengan mata menyorot dingin. Hawa dingin di sekitarnya yang baru mandi justru menambah horor mata itu.
Tapi kini Suri bukan takut.
Hanya kecewa.
Pada akhirnya Tanjung cuma memandang Suri sebagai boneka.
"Kenapa diem?"
"Enggak pa-pa." Suri menjawab samar. "Cuma capek."
"Capek kenapa?"
"Gak ada."
"Jawab."
"Gak ada."
"Jawab!"
Suri tersentak kaget akibat bentakan itu. Tapi Suri tak mau berlara diri hanya karena itu.
Seseorang membentak hewan peliharaannya yang nakal sudah wajar, kan?
Suri terdiam sejenak. Mengerjap dan menarik napas berharap ia tenang.
"Lo siapa?"
Sorot mata Tanjung malah semakin dingin. "Gue lagi enggak main-main."
"Gue juga. Lo siapa? Nama lo Tanjung. Udah, gitu doang gue tau."
Suri tertawa kering.
"Keluarga lo siapa, kerja lo apa, temen lo siapa, hobi lo apa, gue enggak tau apa-apa. Capek aja. Ternyata buat lo, ya gue bukan siapa-siapa buat tau."
Suri beranjak, pergi ke kasur untuk tidur. Walaupun diam-diam ia tidak tidur, dan cuma terus memejamkan matanya.
Tak tahu kenapa, Suri punya feeling sebentar lagi bakal merasakan itu lagi.
Perasaan kesepian ditinggal oleh satu-satunya hal yang ia punya.
__ADS_1
*