Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
52. Tebak-Tebakan


__ADS_3

Tanjung menatap punggung Suri yang dibalut selimut di atas tempat tidurnya. Terlihat jelas dia sebenarnya tidak sedang tidur, tapi pura-pura tidur.


Jujur, Tanjung tidak paham kenapa justru dia terlihat sedih.


Kenapa dia sangat mau tahu urusan Tanjung? Kerja apa, temannya siapa, hobinya apa, memang itu penting?


Orang tua Tanjung saja tidak mau tahu.


Dan menurut Tanjung itu benar-benar tidak penting. Tidak ada keuntungan untuk Tanjung kalau Suri tahu, sementara menjelaskan perihal dunia Tanjung itu butuh bahasa yang tidak sendiri.


Jadi Tanjung selalu yakin kalau Suri tidak perlu tahu.


Ia juga tidak mau tahu Suri itu siapa, kerjanya dia apa, temannya dia siapa, hobinya dia apa. Yang penting bagi Tanjung hanya Suri ada di depannya, dan Tanjung bisa menciumnya.


Besok juga waras lagi, pikir Tanjung akhirnya, lelah juga seharian bekerja. Ia tidur, dan terbangun waktu mendengar suara seseorang muntah.


"Lo kenapa?" Tanjung langsung menengok ke kamar mandi, melihat Suri tengah sibuk muntah-muntah di wastafel.


Dia tidak menjawab, mendorong Tanjung buat mendekatinya.


Badan Suri ternyata luar biasa panas.


"Suri."


Badan perempuan itu ambruk di tubuhnya, pelan-pelan mulai menangis meracau.


Tanjung buru-buru membawa Suri ke kasur, sekaligus menghubungi Ikram agar membawa dokter segera. Beruntung jadwal Dokter Moris pagi ini masih senggang, hingga pria itu bisa langsung datang begitu mendapat panggilan.


Biasanya, dokter ilegal punya jadwal yang tidak menentu. Dan Tanjung benar-benar tidak mau membiarkan Suri menunggu terlalu lama.


Tapi baru beberapa saat Dokter Moris memegang Suri, pria itu tiba-tiba berkata, "Bisa saya minta waktu sebentar? Ada pemeriksaan yang sifatnya pribadi."


"Hah?" Tanjung terusik akan kata pribadi. "Dia. Kenapa. Tugas lo cuma jawab itu."


"Saya baru mau cari tau, Tanjung. Dan kamu pikir saya udah gila mau ngapa-ngapain dia di kamar kamu? Menurut kamu berapa lama saya bantuin kalian? Percaya sama saya sedikit."

__ADS_1


Ikram mengangkat alis, sebenarnya juga heran. Mereka bukan orang tololl yang akan percaya begitu saja semua kata dokter.


Pemeriksaan pribadi itu mencurigakan padahal Suri hanya terlihat demam. Lagipula, pemeriksaan pribadi itu apa?


Tapi karena yang bicara cukup bisa dipercaya, Ikram mendukungnya. "Bos, kayaknya enggak pa-pa lima menit keluar. Gue juga mau laporan."


Tanjung berdecak jengkel, meski akhirnya keluar meninggalkan mereka.


Begitu Tanjung dan Ikram pergi dari ruangan itu, Dokter Moris langsung bersedekap.


"Kamu ngapain di sini, Suri?" tanya dokter itu, lengkap dengan nada 'harusnya kamu enggak di sini'.


Suri mengerang di antara demam. "Saya juga mau nanya ke diri sendiri, Dok."


"Saya serius."


"Bisa enggak langsung pemeriksaan terus kasih obat? Saya udah enggak kuat."


".... Kapan kamu menstruasi?"


Kenapa Dokter Moris menanyakan hal semacam itu?


"Dok, saya enggak kanker atau apa, kan? Iya, kan?"


"Mungkin."


"Mungkin?!" Bagaimana bisa dia mengatakan sesuatu semacam itu dengan sangat santai?! "Dok, saya mau mati beneran?!"


Dokter Moris menoleh ke belakang, berjaga-jaga Tanjung tidak masuk menginterupsi karena tidak sabar. Setelah yakin memang hanya mereka berdua, pria itu menunduk.


"Saya curiga kamu hamil."


Suri langsung mematung.


"Yah, ini cuma tebak-tebakan aja. Pemeriksaannya harus pasti di laboratorium. Tapi bukan mustahil karena kamu di sini."

__ADS_1


"Tapi—"


"Enggak usah kasih tau saya. Saya lebih tau Tanjung daripada kamu." Dokter Moris menghela napas. "Padahal saya harap kamu buruan pisah dari orang kayak dia. Ternyata malah sampe sini."


Hamil.


Kata itu terngiang-ngiang di kepala Suri tanpa henti.


Kalau Suri hamil, berarti itu anaknya Tanjung.


Dan kalau Tanjung ternyata cuma orang tidak bertanggung jawab maka ... maka sebentar lagi Suri terbuang?!


"Jangan kasih tau Tanjung." Suri harus melindungi dirinya. "Jangan kasih tau Tanjung sama sekali."


"Kamu mau kabur?" Dokter Moris langsung menyimpulkan.


Tapi Suri hanya bisa diam.


Kabur ke mana? Yang ada Suri dibuang bukan kabur.


"Saya bisa jaga rahasia, tapi buat mastiin, kamu harus ke rumah sakit. Kalau tebakan saya salah, ya itu lebih baik."


Dokter Moris mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Ini dokter sahabat saya. Kamu ke sana buat tes. Saya bakal bilang buat nutupin kalau hasilnya positif."


"...."


"Saya juga bakal bilang sama Tanjung kalau kamu butuh ke rumah sakit. Saya yakin Tanjung enggak bakal nemenin kamu, karena bahaya kalau dia ke rumah sakit, terutama sama perempuan."


Suri masih lemas, tapi berusaha duduk, menerima uluran kartu nama dokter rekomendasi Dokter Moris itu.


"Dokter kenal Tanjung? Dia siapa?" Suri masih berusaha mempertanyakannya.


"Maaf, Suri, saya enggak berani ngomong. Saya cuma bisa bantu sampe sini."

__ADS_1


*


__ADS_2