Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
37. Rapat Dengan Diri Sendiri


__ADS_3

Suri kira ia benar-benar bakal kehilangan harga diri.


Pernah Suri dengar kata seorang cewek di sosial media kalau keperawanan itu enggak menentukan tingkat kesucian seseorang.


Katanya, itu cuma diskriminasi gender karena laki-laki yang perjaka dan tidak perjaka sendiri malah enggak bisa dibedakan.


Kenapa perempuan malah terkesan murah jika dia tidak perawan dan mereka yang perawan kesannya mahal? Itu kan tidak adil, kata orang itu.


Jadi keperawanan itu enggak menentukan harga kalian.


DAN SURI ENGGAK SETUJU! ENGGAK SUDI SETUJU!


Enak saja ngomong semena-mena padahal Suri selalu menjaga diri enggak ngangkang di mana-mana. Orang yang ngomong begitu sih emang dasarnya suka ngangkang jadi tidak mau direndahkan biarpun dia merendahkan diri sendiri.


Tidak sudi Suri disamakan dengan perempuan yang sok-sok suci padahal hobinya joget di atas badan pacarnya yang gonta-ganti tiap bulan.


Kalau Suri udah open BO, ya dirinya enggak berhak protes. Mungkin dirinya juga bakal pro. Tapi ini tidak, makanya Suri protes.


"Dokter Moris kan udah bilang tangan lo jangan dipake ngapa-ngapain dulu."


Suri mendumel sambil mengoleskan salep di tangan Tanjung.


"Makanya sesekali orang ngomong lo dengerin, bukan cuma lo liatin."


"...."


Suri beranjak dari sana, masuk ke kamar mandi buat cuci muka.

__ADS_1


Begitu melihat pantulan dirinya di cermin, Suri langsung kehilangan ekspresi tenangnya.


Hufh! Hampir saja, hampir saja.


Tapi fix sih itu cowok suka sama gue. Dianya enggak mau ngaku. Pasti. Cowok tsundere. Mana ada orang enggak suka tapi tiap ada kesempatan nyosor mulu, terus beliin gue apa-apa enggak minta.


Sejujurnya, Suri sudah lupa kapan ia pernah suka cowok. Mungkin cuma pas SMP atau SMA.


Pokoknya sebelum Suri ditimpa kenyataan bahwa di dunia ini cinta enggak ada gunanya sama sekali.


"Terus nasib gue ceritanya gimana?" gumam Suri bingung, pada dirinya sendiri.


Suri mengusap-usap air ke bekas ciuman Tanjung di leher dan tulang dadanya.


"Masa gue pacaran sama dia?" tanyanya lagi, pada pantulan cermin.


"Tapi gue tolak juga dia udah kayak Jalangkung. Semaunya aja dateng. Percuma, dong."


Ditolak tidak ditolak, ujung-ujungnya sama dia juga. Bahkan pas sudah ditolak saja dia sudah meremukkan HP Suri dengan tangannya.


Dia benar-benar tidak merasa kalau suara Suri itu ada harganya.


"Atau gue terima aja?" gumam Suri pada dirinya sendiri. "Nah, bener. Gue terima, biar dia ngerasa enggak perlu ngejar-ngejar gue lagi. Kan ada tuh cowok semangat ngejar, pas memiliki eh malah bosen."


Tapi Suri melipat tangan, berpikir kritis juga. Kini seperti terjadi percakapan betulan antara Suri A dan Suri B di depan cermin.


"Entar dia minta jatah gimana? Masa gue kasih? Cowok brengsekk macem dia mana mungkin mau terima 'aku mau menjaga kesucian sampai kita nikah, mas'. Mustahil. Dih, gue dong yang rugi."

__ADS_1


Suri berkacak pinggang, tidak sadar kalau dia sudah sangat tidak waras bicara pada dirinya sendiri di depan cermin.


"Atau gue minta duit lagi? Satu M gitu sebelum begituan. Minimal ada harga juga."


Suri melipat tangan lagi. "Tapi kemahalan, anjir. Satu M buat bayar cewek mah cuma cowok tololl yang mau. Daripada bayar yang perawan satu M mah mending dia bayar seratus cewek pake duit satu M. Malah kayaknya ada lebih. Kecuali gue nih keturunan kerajaan Arab gitu, baru kali bisa."


Lagi, Suri berkacak pinggang. "Kalo sepuluh juta doang, misal, malah kemurahan buat gue juga! Masa harga gue disama-samain sama cewek obral? Sepuluh juta pula! Yang sembilan puluh juta aja bukan perawan masa gue perawan malah murah?!"


Suri mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia dilema dengan pilihan yang sama-sama berat itu.


Kalau Tanjung enggak diladeni, kayaknya dia bakal memaksa buat diladeni. Kalau Suri ladeni, nanti dia ngelunjak dan Suri yang rugi.


Tapi Suri pun enggak punya waktu, karena Tanjung kayaknya bakal selalu melakukan apa yang dia mau, bodo amat dengan siapa pun.


"Oke."


Suri menepuk kedua pipinya bersamaan, menatap penuh keyakinan pada dirinya sendiri di cermin. Ia harus membuat keputusan dan ini adalah keputusannya.


"Oke, Saudara-Saudara, ini jamannya emansipasi. Harus menghargai perjuangan Bunda Kartini."


Suri mengangguk sendiri, biarpun kayaknya Bunda Kartini tidak peduli.


"Rayu aja dulu, dapet berapa itu serahkan pada Yang Di Atas. Daripada gue begini terus, lama-lama juga diperkkosa baru ditinggalin. Mending gue duluan yang maju."


Keputusan Suri sudah bulat, walaupun sebenarnya itu keputusan yang putus asa.


Yasudahlah. Daripada nangis.

__ADS_1


*


__ADS_2