
"Bentar, bentar. Gue tanya yang ngawasin."
Lalu Ikram menghubungi anak buahnya, meminta info mengenai Suri.
"Gue kirimin fotonya sekarang."
Tanjung menjauhkan ponsel dari telinga, melihat foto yang baru saja dikirim anak buahnya itu.
Itu Suri. Duduk di ... entahlah di mana itu, tapi nampaknya sangat gelap. Dia menutup kepalanya dengan hoodie, bersandar seperti anak yang kabur dari rumah, tidak mau pulang tapi tidak punya tempat tinggal cadangan.
Kenapa dia tidak pulang?
Harusnya dia langsung pulang. Buat apa juga dia seperti anak hilang di sana?
"Nah, Bos."
Ikram bersuara ketika Tanjung sibuk memandangi foto bodoh itu.
"Lo ngapain sih gangguin anak orang? Emang dia ada salah? Tinggal lo hajar aja kelar. Ngapain juga lo ngurusin dia di mana?"
Tanjung tak peduli ocehan itu.
"Kirim alamatnya," ucapnya singkat, sekaligus isyarat Ikram jangan banyak tanya.
Setelah menerima alamat, Tanjung langsung mencabut infus dari tangannya. Ia merasa lemas, tahu bahwa kondisinya tidak sedang baik. Luka di perutnya pasti akan memburuk setelah ini.
Namun Tanjung tidak mengira bahwa Suri akan pergi menyendiri. Tanjung juga tidak paham kenapa ia mau Suri pulang.
Dia kan dipecat. Kenapa tidak pulang minta uang?
Sulit dimengerti bagi Tanjung.
Tanjung membuka kotak obat yang ia lihat selalu Suri buka untuk dimasukkan ke infusnya. Menemukan suntikan dan beberapa botol obat anti nyeri.
Diambil suntikan itu, mengisinya dengan cairan anti nyeri, lalu menusuk tangannya sendiri.
__ADS_1
Tanjung jelas tak tahu ia benar atau tidak. Bodo amat soal teori. Dokter bilang Tanjung tidak akan hidup kalau selalu bertarung sampai organ dalamnya hancur, tapi sampai detik ini ia masih hidup.
Ucapan Dokter bukan ucapan Tuhan, jadi Tanjung tidak mau peduli.
Lepas itu, Tanjung langsung pergi. Mengambil satu dari sekian topi koleksi Suri, dan sadar itu sebenarnya bukan topi perempuan.
Kebanyakan barangnya milik laki-laki. Milik siapa semua ini? Atau cuma hobi?
Tanjung berjalan mengikuti arah map lokasi Suri. Pelan-pelan rasa sakit itu mereda, membuat Tanjung bisa sedikit memaksakan diri.
Butuh waktu untuk sampai di sana, tapi Tanjung menemukan Suri berada di lokasi pasar, melipat dirinya sendiri seperti kucing kedinginan.
"Lo di sini."
*
Suri mendongak, kosong menatap cowok aneh itu berdiri di depannya. Tapi sekarang Suri terlalu malas untuk berurusan dengan dia.
Segala peristiwa menjengkelkan yang ia alami hari ini sudah cukup merenggut tenaga Suri. Sekarang bukan waktunya emosi pada cowok tanpa nama.
"Lo kenapa di sini?" Dia malah bertanya.
Suri rasanya mau menangis emosi. "Bukan urusan lo."
"Ayo pulang."
"Pulang?" Suri mendongak lagi. "Lo pulang ke rumah lo! Jangan ngurusin gue!"
Apa dia tidak tahu apa itu peka? Sadar sedikit kek kalau orang lain itu bisa punya masalah hidup yang jauh lebih berat! Dia hampir mati terus hidup karena ditolong Suri.
Sekarang Suri mau mati dan tidak ada yang datang menolong!
"Pergi lo! Jangan gangguin gue!"
Tangan Suri tiba-tiba ditarik paksa, diseret mengikuti langkah cowok itu.
__ADS_1
Jelas Suri memberontak. Demi Tuhan, sekarang bukan waktunya mengurusi orang sekarat yang semena-mena.
Suri sedang ingin mati sekarang.
"Lepas!"
Cengkramannya kuat luar biasa, njir. Padahal Suri bukan orang lemah. Dia padahal tidak makan beberapa waktu terakhir tapi kenapa Suri tetap lemah di depannya?
"Lepasin, brengsek! Lepas!"
Harusnya Suri tak lupa kalau orang ini tidak tinggi, namun ototnya di mana-mana. Dia hanya santai menyeret tangan Suri berjalan, membuatnya menyerah.
Sambil terus diseret, Suri menangis terisak-isak.
"Bangsatt banget tau enggak," umpatnya tanpa kendali. "Emang salah gue gitu kalo maling masuk?! Kok gue yang dipecat?! Malingnya penjarain kek, apa kek! Kenapa gue?!"
"...."
"Apaan juga harus ada kartu mahasiswa?! Kalo mau bikin semua orang sekolah, ya jangan majakin orang yang masuk sekolah! Gratisin sekolah, kasih makan biar bisa belajar! Bullshit banget nyuruh sekolah tapi nyuruh idup pake duit sendiri! Gunanya punya pemerintah apaan?! Hubungannya sama gue apa?! Kenapa gue mulu, anjiiing!"
Cowok di depannya tidak sedikitpun membalas, hanya terus menarik Suri.
Tak peduli bagaimana orang melihatnya menangis diseret-seret, Suri sudah terlalu capek memedulikan orang.
Namun yang tidak ia duga adalah, ketika mereka berada di dekat apartemen, langkah cowok itu tiba-tiba berhenti.
Dia berhenti total.
"Kenapa?" tanya Suri yang sudah tidak sadar dari tadi ia diseret.
Hanya sedetik setelah itu, tubuh kekar yang tadi berdiri tegak mendadak seperti patung.
Patung yang kalian dorong dari tempatnya berdiri, tumbang lurus tanpa memedulikan apa pun di depannya.
*
__ADS_1