
"Harus banget meluk sekarang?" Suri bertanya, tapi membiarkan pelukan itu berlangsung sehendak Tanjung. "Kenapa?"
Tanjung cuma diam, terus meresapi.
"Kadang gue ngerasa lo orang kesepian," gumam Suri di pelukannya. "Gue juga sama jadi satu server."
"...."
"Kenapa? Enggak mau ngomong? Mau makan aja?"
Suri cuma tersenyum kecil, lepas dari pelukan Tanjung buat menariknya duduk.
Biarpun Tanjung baru makan selepas bangun tadi, Suri tetap memesan porsi untuknya, biar mereka bisa makan bersama.
*
Tanjung jadi tidak bisa tidur setelah tadi tidur dua belas jam lebih.
Setelah melakukan kegiatan kesukaannya—meniduri Suri, jelas—Tanjung cuma beristirahat sejenak lalu ia beranjak keluar apartemen.
Ikram langsung datang membuntutinya, mengantisipasi kejadian beberapa bulan lalu Tanjung hampir mati sendirian.
Keadaan organisasi masih cukup damai akhir-akhir ini. Orang yang bertanggung jawab atas penyerangan Tanjung pun telah ia temukan dan Tanjung pastikan tidak hidup lagi.
Namun orang yang bergerak dibelakang orang itu masih belum jelas.
Yah, hidup Tanjung memang selalu penuh tekanan.
__ADS_1
Langkah Tanjung secara pasti menuju pelabuhan, berdiri di tepi laut. Matanya menatap hamparan air berbau asin itu, berusaha menjernihkan pikiran.
"Lo masih mikirin Arul, Bos?" tanya Ikram, menebak alasan Tanjung tiba-tiba memandangi lautan di malam hari.
Dan memang benar.
"Dia masih suka bahas kakaknya." Tanjung menjawab samar. "Gue enggak ngerti kenapa."
"Lo kepikiran?"
"Gue enggak suka." Karena setiap kali Suri bicara soal Arul, Tanjung merasa telah berbuat salah.
Padahal Tanjung tidak boleh merasa bersalah. Terutama jika itu perilaku yang ia lakukan demi menjaga martabatnya sebagai Eksekutif.
Lagi Tanjung tekankan. Kalau ia bisa menghidupkan Arul, maka orang itu akan ia bakar hidup-hidup hingga seluruh kulitnya melepuh, lalu Tanjung tunggu hingga sembuh dan ia bakar lagi.
"Lo tau cara bikin dia lupa?" Tanjung berbalik tiba-tiba. "Dokter atau apa?"
Mungkin ada cara tertentu seperti mencuci otaknya agar seseorang bernama Arul itu dianggap tidak pernah ada. Agar mulut Suri pun berhenti mengucapkan nama Arul, Arul, Arul tanpa henti.
"Gue mau dia lupain yang enggak penting."
Ikram tersentak mendengar pemikiran Tanjung yang brutal. Walau kalau dipikir ulang, ya memang Tanjung begitu.
Justru harusnya aneh kenapa Tanjung bisa berpikir lembut.
Tatapan Ikram sejenak beralih pada hamparan laut, membayangkan masa depan yang mungkin memang lebih mudah.
__ADS_1
Jika Tanjung meminta pada Bos Besar untuk cuci otak, Ikram rasa itu bisa. Suri juga bakal lebih patuh, lebih diam dan lebih tidak merepotkan.
Tapi .... Kalau harus jujur, Ikram lebih menyukai bosnya yang sekarang ini.
Tanjung yang lebih manusiawi sekalipun kemarin dia mematahkan tangan orang.
Pada kenyataannya, Suri yang seperti itulah alasan Tanjung jadi menyesuaikan diri dan pelan-pelan bersikap beda.
"Biarin hubungan lo apa adanya justru menurut gue ya cara lo sayang sama cewek lo, Bos."
Ikram baru pertama kali menolak isyarat perintah Tanjung padahal itu tidak merugikan mereka.
"Kalo menurut gue aja, Bos. Cewek itu gampang berubah dari tulus jadi palsu kalo lo terlalu maksain."
Tanjung diam.
"Sori, Bos, gue ikut campur."
Tatapan Tanjung tertuju ke tengah lautan lagi, mengingat hari ia membuang tubuh Ikram ke tengah laut.
Jauh. Sangat jauh dari tempat ini dan mustahil suapa pun berenang ke sana menarik dia dari dasar lautan yang buas.
Orang yang Suri cari ada di sana. Tanjung yang membuangnya secara langsung.
Dan Suri berharap Tanjung mencarinya.
Sementara Tanjung harap Suri melupakannya.
__ADS_1
*