
Tanjung melihat Suri tertidur pulas dalam selimut, hanya setengah jam setelah dia minum obat yang katanya direkomendasikan dokter biar dia tidur nyenyak.
Sekarang Tanjung memikirkannya. Kenapa Suri sangat sering bertanya soal keluarga Tanjung? Memang ada apa dengan itu?
Tanjung itu simpel. Ia tidak akan menunjukkan apa yang menurutnya tidak perlu ditunjukkan. Apa Suri justru tipe orang yang akan menunjukkan apa pun itu sekalipun tidak penting?
Tanjung tidak pernah bertanya mengenai keluarga Suri sebab menurutnya itu tidak penting. Kalau mereka mau muncul ya muncul saja, tidak ya tidak usah. Tidak bakal mempengaruhi Tanjung juga.
Perhatian Tanjung tertuju pada uang pemberian Bos di dekat meja. Dibuka koper itu, mengeluarkan berkas resmi pernikahannya.
Tanjung akui memahami pernikahan itu sulit. Ia tak tahu itu hubungan semacam apa dan untuk apa. Kalau bukan karena Suri yang minta, Tanjung tidak akan melakukannya.
Nampak seperti tidak berguna.
"Lo di mana?"
Di seberang panggilan yang Tanjung lakukan, Dika menjawab, "Di markas. Emang kenapa, Bos?"
"Gue ada perlu."
Dika hanya butuh waktu lima belas menit buat muncul, memenuhi panggilan Tanjung.
Pria itu keluar dari unit apartemen, pindah ke sebelah di mana tumpukan barang-barang Suri berada.
"Gue mau rapihin ini. Minta orang dekor biar masing-masing punya tempat."
Tanjung menyerahkan segepok uang, sebab perintahnya barusan memang untuk kebutuhan pribadi, bukan organisasi.
"Beli aja yang diperluin."
Dika menerima uang itu, tapi tampak memikirkan sesuatu.
Karena ekspresi dia jelas, Tanjung bisa langsung tahu. "Lo mau ngomong sesuatu?" tanyanya lebih dulu, sekaligus isyarat mempersilakan.
"Gue bingung aja kenapa lo tiba-tiba ketemu cewek terus nikah, Bos."
Rupanya itu.
"Kerjaan gue sama dia enggak bakal ada hubungannya," jelas Tanjung.
Pikir Tanjung, dia khawatir performa Tanjung sebagai ketua akan menurun karena sibuk mengurus Suri. Itu tidak akan terjadi selama Suri tidak mencampuri urusan pekerjaan Tanjung.
__ADS_1
Tapi Dika memikirkan hal lain yang bukan soal performa.
Identitas Suri, atau lebih tepatnya status dia sebagai adiknya Arul, pengkhianat yang menjual informasi Aliansi sampai mereka kehilangan uang miliaran.
Tanjung adalah yang paling rugi, sebab Arul berada di divisinya.
Kemarahan Tanjung hari itu bisa dirasakan oleh semua orang. Arul dipukuli di depan seluruh petinggi Aliansi, Bos Besar, bahkan anak buah baru.
Tanjung memukulinya sampai pendarahan hebat terjadi di kepala Arul, lalu setelah memastikan dia tidak mati, Arul ditenggelamkan bersama jangkar berat ke dasar laut.
Pengkhianatan dalam Aliansi dianggap sebagai dosa terbesar. Karena itu bahkan kalau Arul bersujud memohon ampun, dia tetap akan mati.
Kalau Tanjung tahu ini ....
"Bos."
Tidak. Dia harus tahu.
"Cewek lo," Dika sudah diberitahu untuk diam oleh Ikram, tapi ia rasa Tanjung memang perlu diberitahu, "dia adeknya Arul."
Dika melihat perubahan perlahan-lahan di raut wajah Tanjung. Tentu saja sebuah kebetulan semacam itu sulit untuk dia duga.
Namun yang membuat Dika tercengang, setelah itu Tanjung membalas tenang.
Apa? Hanya itu?
"Bos?"
Tanjung berlalu untuk duduk, karena sebenarnya dia sangat terkejut.
Kalau tidak salah Suri memang bilang kakaknya menghilang dua tahun lalu.
Jadi kakaknya dia Arul.
Waktu itu dia sering mengigaukan nama seseorang, tapi Tanjung tidak terlalu memerhatikan karena menurutnya tidak penting.
"Boss, are you okay with that?"
"Maksudnya?"
"Ya dia ... dia adeknya Arul?"
__ADS_1
"Terus?"
Dika menggaruk kepalanya gusar. "Lo enggak mikir dia mungkin sengaja deketin lo buat bales dendam?"
Tanjung malah menatap Dika seolah dia sangat tololl.
Ibarat kata, kalau Tanjung bosan jadi anak buah Bos Besar dan mau membuat dia kesal, Tanjung bisa mengacaukan satu kota ini sekehendak hati.
Segala sesuatu memang dikontrol oleh Bos Besar, termasuk Tanjung, tapi kalau Tanjung tidak mau dikontrol, kota ini juga akan diluar kontrol orang lain.
Lalu Dika mengira Tanjung orang bodoh yang bisa ditipu perempuan?
"Lo enggak bisa bedain mana orang nipu mana yang enggak?"
Dika kicep.
Benar-benar bodoh. Makanya dari awal Tanjung bingung dengan Suri.
Dia membantu Tanjung, padahal tidak tahu siapa Tanjung.
Dia memberi Tanjung tempat, membantunya tetap hidup, tapi diberi uang dia malah marah.
Tanjung juga sudah melimpahinya dengan harta, Suri masih saja tidak mau dikendalikan.
Menurut Dika orang dengan kepribadian bodoh begitu bisa menipu Tanjung?
"Lain kali pikirin pertanyaan lo sebelum lo nanya." Tanjung beranjak. "Intinya gue mau tempat ini direnovasi. Sesuaiin sama maunya dia."
"Bos."
"Apa lagi?"
"Gue rasa cewek lo enggak bakal sesantai itu mikir."
"Hah?"
Dika mengangkat bahu. "Arul pengkhianat buat lo, tapi buat cewek lo, itu kakaknya."
"Terus?"
"Kalo cewek lo dibunuh orang, kira-kira lo maafin orang itu?"
__ADS_1
Tanjung seketika membeku.
*