
"Oh, jadi lo butuh uang sekarang?" Begitu kata Dayan lepas Suri selesai mengoceh padanya.
Suri mau menepuk jidat karena terbawa suasana sampai bercerita bahwa ia dipecat dari tempat kerjanya.
Orang ini luar biasa tampan, luar biasa wangi dan luar biasa dalam memancing seseorang bicara. Ya mohon maap saja kalau Suri jadi lupa.
"Yah, nyari duit susah, sih." Dayan berkata begitu sambil tersenyum.
Perkataannya membuat Suri mengangkat alis. Apa dia bilang?
Bukannya Suri mau menjudge, cuma ... memangnya orang yang pakai jaket LV—LV, loh, brand yang biasa dipakai seleb dunia—memangnya dia tahu susahnya cari duit?
Tapi cowok itu tertawa seolah menyadari isi kepala Suri.
"Pasti lagi mikir 'lo kan pake duit orang tua'. Atau, 'emang lo tau rasanya susah nyari duit?'. Gitu, kan?"
Agak, sih. Memangnya tidak? Cowok macam ini kalau tidak dibelikan Mama mana mungkin kan punya jaket LV? Kalau bukan duit Mama, ya pasti duit Papa.
Kalau bukan juga, pasti warisan.
"Enggak, dong," jawab dia, padahal Suri cuma berbicara dalam hati. "Gue udah enggak minta duit dari bonyok sejaaaaak, hmmmm, SMA kali?"
"Serius?" Suri terlonjak kaget. "Kerja apa dari SMA?"
Cowok itu tersenyum misterius. Tiba-tiba menarik Suri beranjak, hingga spontan ia berlari mengimbangi langkah Dayan.
Sudah keberapa kali Suri katakan ini? Oke, mungkin sudah tiga atau empat kali tapi sumpah orang ini wanginya menghipnotis.
Lari di belakangnya serasa lari di ruangan yang dipenuhi parfum. Tapi tidak sesak atau bikin bersin-bersin, wangi parfum khas cowok kaya bin ganteng bin ngangenin bin gemesin bin idaman.
Yang bikin perempuan pada ketar-ketir minta dikawini.
"Mau ke mana?"
Dayan menoleh sekilas. Tersenyum ganteng. "Nunjukin cara nyari duit dalam semalem."
__ADS_1
Emang ada selain jual diri?! Atau jangan-jangan jual organ?!
Suri syok sampai mempercepat larinya. Alhasil, Dayan tidak perlu menarik, karena Suri berlari mengimbangi dia.
Sensasi angin menerpa wajahnya membuat Suri tertawa. Entah kenapa suasana hatinya membaik sejak bicara dengan Dayan.
Bodo amatlah soal orang arogan di apartemennya.
Mereka terus berlari sampai langkah Dayan memelan di depan sebuah klub malam yang masih tertutup karena masih siang.
Dia menarik Suri untuk ke belakang, turun ke sebuah pintu besi dan seketika itu mereka seperti berpindah dimensi.
Suri mengerjap pada pemandangan sekitaran yang mengingatkannya pada kasino di film-film. Dengan suasana retro sebagai tema ruangan, Suri bisa langsung tahu ini tempat berjudi.
"Gue enggak mau judi, Yan." Untuk satu ini, biarpun si Ganteng mohon-mohon, Suri tidak mau.
Karena kata Arul, judi diciptakan buat merampas duit orang miskin yang berpikir bisa kaya dalam semalam.
Dayan tergelak. "Kan gue bilang, mau nunjukin. Bukan ngajakin."
"Lagian judi bahaya. Bego-begoin diri," timpal Suri langsung.
Dayan menariknya untuk duduk di atas meja sebuah permainan kartu. "Lo mau tau judi yang enggak bikin bego?"
"Apa?"
"Jangan main buat duit."
Dayana santai-santai saja menerima kartu, dan Suri hanya melihat itu seperti anak SD polos.
"Soalnya judi emang diciptain buat begoin orang yang lagi butuh duit."
Nah, kan. Sesuai kata Arul.
Tapi kalau tahu begitu, kok Dayan main?
__ADS_1
Suri memiringkan wajah. "Terus?"
"Main buat seneng-seneng. Duit itu bonus." Dayan mengedipkan sebelah mata. "Kalo kebalik, duit dulu baru seneng-seneng, biasanya zonk."
"Pengalaman pribadi?"
Ada senyum aneh di wajah Dayana waktu dia menjawab, "Sebagai yang selalu menang, ya."
Orang ganteng aneh.
Tapi Suri tak punya pilihan kecuali melihat.
*
Gadis kecil itu harus paham bahwa ada yang disebut waktu pulang.
Ini sudah jam sembilan malam, kenapa dia masih berkeliaran seakan-akan dia punya kerjaan di luar? Punya waktu santai malah digunakan buang tenaga.
Dasar anak kecil.
Jangan bilang dia ke diskotik sungguhan?
Ah, tidak. Tampangnya mencerminkan dia bahkan mabuk minum soda. Mana mungkin minum alkohol.
Tanjung berdecak jengkel. Baru akan menelepon Ikram untuk tahu di mana gadis itu waktu mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Seriusan kayak gitu?" Itu suara Suri, bicara dengan sangat semangat sampai Tanjung curiga. "Kalo orangnya menang kita dapet uang? Bego banget!"
"Emang."
Hah? Suara itu ....
Tanjung beranjak dari kasur segera saat mendengar suara laki-laki. Bersamaan dengan ia menarik tiang infusnya, pintu kamar terbuka, memunculkan Suri bersama seseorang yang detik itu juga mau Tanjung masukkan ke liang lahat.
Orang gila ini, apa yang dia lakukan di teritori Tanjung?
__ADS_1