Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
112. Pacarnya Arul


__ADS_3

"Sebenernya waktu itu Tanjung masih baik banget."


"Apa?"


Dayan tersenyum lebar. "Kalo gue dapet yang kayak Arul, gue kulitin dia depan semua anak Aliansi biar semua yang sama kayak dia tau nasibnya kedepan gimana."


Napas Suri tercekik oleh kebencian.


Orang ini sedang memprovokasinya agar Suri marah, agar Suri menggila dan dia bisa menikmati drama lebih banyak lagi tanpa harus melanggar peraturan apa-apa.


"Lo enggak ngerti apa-apa, Suri. Lo tau dampaknya Arul? Sekarang ada banyak tikus sialann di Aliansi yang jauh lebih pinter ngumpet daripada Arul. Gara-gara itu, lo kira berapa orang dari kita yang mati?"


"GUE ENGGAK PEDULI!"


"So do I." Dayan membuka matanya lebar-lebar agar Suri melihat. "Lo enggak peduli berapa orang gue yang mati, berapa orangnya Tanjung yang mati—jadi kenapa gue harus peduli soal Arul mati?"


Suri tersekat. Tak dapat membalas perkataan itu sama sekali.


"Tapi itu enggak penting sekarang. Orang mati yaudah mati."


Dayan berbalik lagi, menatap hamparan pantai dari atas ketinggian hotel itu seperti tengah menatap pertunjukkan musik.

__ADS_1


"Gimana kalo sekarang kita cari ceweknya Arul dulu? Dia harusnya ngasih lo duit banyak dari kerja kotor kakak lo kemarin-kemarin."


Pacarnya Arul.


Suri tidak pernah tahu bahwa Arul punya pacar. Kakaknya sedikitpun tak pernah cerita padahal dia bukan tipe yang benar-benar akan malu menceritakan orang yang dia cintai pada Suri.


Siapa gadis itu?


*


"Mantan pacarnya Arul." Dayan menyerahkan sebuah map yang sudah disertai dengan foto dan lembar dokumen mengenai perempuan itu. "Namanya Euna. Dia seperempat Korea, pacaran sama Arul kira-kira dua tahun sebelum Arul mati."


Dia juga memakai pakaian terbuka seperti yang disukai Tanjung, juga kayaknya semua laki-laki di dunia.


Tapi, untuk ukuran seorang Arul, perempuan sejenis ini mustahil dia dapatkan. Karena perempuan sejenis ini pula memerlukan begitu banyak uang untuk perawatan dan mustahil punya hubungan dengan pria pas-pasan.


Firasat Suri mengatakan ada sesuatu dibalik hubungan mereka.


"Lo kayaknya juga kepikiran. Teng tong! Yap, benar sekali, saudara-saudara. Euna dulunya enggak terlalu menonjol, jelas karena modal dia cantik kurang. Terlepas dari kemungkinan lain, kayaknya dia sama Arul emang saling suka, a-wal-nya. Tapi—"


"Dia ngambil duit abang gue buat dia sendiri?" tebak Suri tepat sasaran.

__ADS_1


"Lo tau pesona duit ngalahin semua pesona di dunia, Baby. No judgement."


Dengan uang yang Arul kumpulkan hingga kakaknya harus meregang nyawa, perempuan ini justru bersenang-senang dan tidak peduli pada nasib Arul sama sekali.


Sepertinya sekarang Suri tidak menyesali keputusannya ikut dengan Dayan. Perempuan ini memang layak mendapat kemarahannya.


"Berapa duit Arul yang dia pake? Bukan cuma dari Arul ngamil duit kalian, tapi dari awal dia sama Arul."


Pasti akan cukup banyak. Suri tidak akan pernah percaya jika seseorang berkata perempuan semacam ini mau punya hubungan tanpa dimodali uang.


Dan nampaknya itu memang benar, sebab Dayan seketika merespons.


Dayan melompat duduk ke atas meja yang tersedia di dekat mereka, lalu berputar menghadap pada Suri. Kakinya dilipat santai sementara Dayan bersedekap, menimbang-nimbang berapa kemungkinan semua jumlah itu.


"To be honest, gue enggak tau berapa jumlah pasti yang Arul dapet. Dia selalu ngambil duit cash, enggak via transfer. Terus masalah duit yang dia terima itu bisa kecil bisa besar tergantung jagonya Arul negosiasi."


"...."


"Tapi kerjaan dia bikin Tanjung rugi miliaran cuma dalam hitungan tiga bulanan. Jadi kalau gue nempatin diri jadi bosnya, pertimbangin risikonya, dan jumlah informasi yang bocor—hmmmm, mungkin Arul digaji seratus sampe dua ratus juta."


*

__ADS_1


__ADS_2