Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
116. It's A Peace of Cake


__ADS_3

Tanjung diam.


Yah, mari jangan lupakan bahwa Tanjung itu belum lulus kelas Berinteraksi Secara Normal. Dia pun belum pernah mengikuti kelas khusus Cara Menghadapi Perempuan Di Kehidupan Nyata Bahkan Jika Kalian Adalah Alpha Male.


Tanjung tidak pernah sudi tunduk di bawah seseorang, kecuali Bos Besar, itupun karena Bos Besar pernah hampir membunuh Tanjung.


Sekarang Tanjung loyal padanya sebab Tanjung mengakui dia lebih baik dari Tanjung. Cuma dengan Bos Besar-lah Tanjung mau minta maaf. Itupun, tidak benar-benar pernah.


Jika Tanjung terus bersikap seperti ini, yang ada Dayan malah semakin menikmati permainannya. Sebab yang paling menarik dari drama mereka bagi Dayan adalah kenyataan bahwa Tanjung tidak pernah tahu cara memperlakukan seseorang diluar dari pekerjaannya sebagai bos.


"Come on, Bos. Gue sama lo juga tau seberapa dangkal otaknya cewek," bujuk Ikram, mau tak mau merendahkan satu pihak biar Tanjung terpengaruh. "All they know is just about crying, begging, cringing, annoying, blablablabla, you know."


Jiwa misoginis Tanjung pasti masih tersisa, jadi Ikram memancing itu.


"Percuma lo minta istri lo ngerti. Dia bahkan enggak paham perjuangan lo dari kemarin. Lo ngebunuh penjahat, pengkhianat yang sampe sekarang masih ninggalin sisa-sisa di Aliansi—sementara istri lo cuma tau nuntut, nuntut, nuntut. Lo salah, lo salah, lo salah. Seakan-akan dia selalu bener."


"Lo ngasih dia duit, lo kasih dia rumah, lo kerja ngumpulin duit biar dia enggak pernah ngerasain yang namanya kurang duit; tapi karena satu urusan doang, dia teriak ke elo, dia pergi dari elo, ngikutin setan kayak Dayan."

__ADS_1


Oke, Tanjung tetap diam, jadi sepertihya dia terpengaruh.


Ikram mendekat, menepuk bahu Tanjung sebagai siasat bujukannya. Biar terkesan Ikram sedang memberi sebuah pencerahan jadi ayo berhenti keras kepala.


Ayolah, demi Tuhan. Ini semakin berlarut-larut padahal mungkin bisa selesai dengan cepat.


"Bos, lo mau ngandelin akal istri lo yang pendek banget? She knows nothing about the world. Dia cuma peduli sama perasaanya sendiri. Dia puas atau enggak, dia seneng atau enggak, dia punya yang dia mau atau enggak. Dia enggak bakal peduli sama yang lain, jadi Bos, percuma ngarepin dia."


Ya, itu kebenaran juga. Suri sekarang menuntut Tanjung peduli pada perasaannya terhadap Arul, tapi sedikitpun tidak mengerti dengan perasaan Tanjung.


Ayolah. Ikram sudah memberi semua alasan yang seharusnya rasional dan fakta yang sangat amat jelas. Tanjung hanya tinggal berkata iya, lalu dia minta maaf.


Kalau setelah itu Suri tidak memaafkan, itu hanya masalah waktu. Lagipula permintaan maaf adalah ilmu kebohongan, jadi seharusnya itu mudah.


"Bos?"


Tanjung menghela napas. Membuat Ikram tersenyum penuh harap, agar drama ini berakhir.

__ADS_1


Tapi ternyata Tanjung menepis tangannya, bersedekap layaknya bos.


"Dia istri gue. Akalnya enggak boleh pendek."


Akhhhhhh!!!


"Gue enggak salah jadi enggak ada minta maaf. Dia yang harus paham mana yang salah mana yang bener."


Caranya bagaimana?!


Itu yang Ikram maksudkan! Caranya bagaimana kalau Suri langsung kabur tanpa mendengarkan penjelasan sekali saja?!


"Bos—"


"Enough. Gue enggak bakal minta maaf jadi mending lo berenti nyuruh-nyuruh gue."


*

__ADS_1


__ADS_2