Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
108. Sama-Sama Kesepian


__ADS_3

Suri sudah memutuskan bahwa ia akan menuruti perkataan Dayan selama dia pun mengabulkan permintaan Suri mengenai Arul. Jadi sekalipun Dayan berkata Suri harus membawa Rana, maka ia membawa Rana.


Tidak apa. Suri juga sudah menidurkan dia dan Rana digendong oleh Dayan. Walau menyebalkan memang, tapi Rana nyaris tidak pernah menangis jika yang menggendongnya adalah laki-laki.


Suri tak tahu kenapa. Yang penting Rana tertidur, tidak perlu melihat wajah pembunuh itu.


"Tanjung enggak bakal berani maksa lo atau ngambil anaknya, jadi lo enggak perlu takut. Kalaupun iya, Aliansi masih ngelindungin lo."


Suri membuang wajah dingin. "Sekalipun lo bohong, emang gue bisa apa?"


"Ya ampun, emang Tanjung enggak pernah bilang sama lo? Kita dari Aliansi diajarin buat enggak bohong terutama soal kesepakatan. Tanjung enggak pernah bohong, lo tau?" ujar Dayan sok ramah.


"Terus apa maksudnya dia nyari Arul padahal dia yang bunuh kakak gue?" balas Suri, mendadak emosi.


Tapi Dayan malah tersenyum. "Makanya gue heran kenapa Tanjung bela-belain bohong. Lo mungkin enggak tau yah, soalnya lo sering bohong. Kalau lo terbiasa enggak bohong, bakal susah buat bohong."


Cih, terserah dia saja.


Suri tidak perlu meladeni omong kosong soal mereka apalagi memusingkan kepalanya buat peduli setiap ucapan Dayan.

__ADS_1


"Hah, gue enggak sabar liat Tanjung." Tidak diajak bicara, Dayan bervokal sendiri.


Tapi perkataannya membuat Suri berpaling, tiba-tiba ingat akan sesuatu.


"Kalo lo benci sama Tanjung, kenapa lo enggak musuhin dia secara langsung?"


Orang ini sejak awal selalu mengganggu Tanjung. Kalau dia memang benci, kenapa tidak dia katakan saja sejak awal, dan musuhi Tanjung itu?


"Benci?" Dayan memiringkan wajah, tersenyum suci. "Gue enggak punya hati buat benci sama orang, Cantik."


"...."


"Ayolah, ngapain gue benci sama Tanjung? Enggak guna amat. Beda sama hidup lo yang super duper damai, gue ini banyak urusan. Kepala gue mesti mikirin banyak hal, nyari duit, mimpin rapat, ngatur divisi. Enggak ada waktu buat benci orang."


"Yap."


"Ternyata lo sama Tanjung sama aja."


"Oits, tolong jangan bikin statement semua cowok sama aja. Duh, cewek dan dramanya."

__ADS_1


"Sama-sama kesepian." Suri menoleh, tersenyum mengejek. "Sama-sama enggak ngerti rasanya punya keluarga, punya perasaan, punya hati, makanya yang lo bisa cuma sok sibuk sama urusan lo, seakan-akan lo beneran enggak punya hati."


Sebenarnya Suri mengatakan itu cuma karena emosi, tapi tidak ia sangka Dayan terdiam.


Selama ini Suri selalu merenungi kenapa Tanjung, kenapa Ikram, kenapa Dayan semuanya bertingkah seakan mereka tidak merasakan apa pun pada siapa pun, hingga mereka sering bingung pada perasaan orang lainnya.


Ternyata memang benar mereka kesepian. Tidak punya orang yang memberitahu ini dan itu hingga mereka menganggap semuanya tidak penting.


Ya terserah dia, sih. Suri juga sudah tidak peduli.


Daripada fokus pada hal itu, Suri mengarahkan fokusnya pada orang yang kini berdiri di halaman vila tempat pertemuan.


Waktu Suri berhenti berjalan, Tanjung berbalik.


"Lo enggak—" Ucapan Tanjung terhenti ketika matanya melihat Rana berada di gendongan Dayan.


Ekspresinya yang sempat datar seketika berubah penuh amarah. "Lo biarin Rana digendong sama dia?"


"Terus gue harus biarin dia digendong sama siapa? Pembunuh kayak lo?"

__ADS_1


Ekspresi Tanjung tak bisa disembunyikan sama sekali. Dia marah pada bagaimana Suri mengatakan dia pembunuh.


*


__ADS_2