
Ketiga hal itu berbeda. Setidaknya Tanjung menangkap isyarat tersebut.
Otak Tanjung langsung memikirkan. Siapa dirinya sekarang?
Perkataan Bos barusan adalah isyarat dari apa yang akan Tanjung minta.
Jika ia ayahnya Rana, maka Tanjung akan meminta anaknya kembali. Jika ia suami Suri, maka Tanjung akan minta Suri kembali sekalipun wanita itu membencinya setengah mati. Dan kalau Tanjung adalah Tanjung yang dulu ....
Semua beban itu akan ia buang tanpa berpikir sekali lagi.
Kalau begitu, siapa Tanjung sekarang?
"Gue enggak nyesel soal Arul." Tanjung merasa itu perlu untuk ia tekankan.
"Gue enggak pernah biarin diri gue nyesel soal apa pun," jawab Bos, yang berarti dia juga sama dan tidak mau mendengar penyesalan. "Tapi istri lo ngeliat Arul dari sudut pandang lain."
"Bos, gue—"
"Eksekutif Jakarta cabang A," dengan kata lain Tanjung, "bakal gue ganti kalau lo milih mereka."
Tanjung terbelalak.
Pekerjaan yang Tanjung dibesarkan hanya untuk itu, kebanggaan baginya sekaligus hal yang sudah jadi hidup Tanjung—adalah harga keluarganya, begitu yang coba Bos katakan?
"Tapi, gue enggak bilang mau buang lo karena udah enggak guna. Bukan gitu juga."
__ADS_1
Tanjung langsung memicing. Jika Bos tidak membuang sesuatu yang sudah tidak digunakan, berarti cuma satu.
Dia mau mengolahnya ulang di tempat lain.
"Sebelum kita bahas soal bisnis atau status lo kedepan, gue rasa bahas dulu istri sama anak lo," ucapnya mengakhiri pembukaan.
"Jadi Tanjung, antara tetep di posisi lo, lupain istri anak lo—which is gue bakal nyuruh Dayan buang mereka jauh-jauh—atau tinggalin posisi lo buat ngemis maaf istri lo, mana yang lo pilih?"
Tanjung ... mengemis?
Seorang Tanjung ... dia bilang harus mengemis?
*
"Gue denger lo sakit."
Sambil mengeratkan jaket tebal di badannya, Suri duduk. Menutup mulutnya saat terbatuk-batuk.
"Anak lo enggak pa-pa?"
Rana juga sakit, mengikuti Suri. Semalam suntuk Suri cemas lantaran demam Rana begitu tinggi.
Maka dari itu juga Suri menuruti permintaan Dayan. Sebab dia yang mengirim dokter ke kamar hotel Suri untuk menangani Rana.
"Gue tau lo mau ngomongin sesuatu." Suri tak mau basa-basi. "Soal apa?"
__ADS_1
"Hmmm, ada banyak yang enggak bisa selesai sejam." Dayan mengangkat bahu. "Tapi yah, gue persilakan kalau lo mau minta sesuatu."
Seakan dia tahu Suri mau meminta sesuatu padanya.
Tapi kalau begitu, maka Suri tinggal—
"Ah, tapi lo mesti tau dulu kalo posisi lo itu cuma mainan."
Suri langsung menatapnya tanpa emosi. "Mainan lo?"
Dayan malah tertawa. "Maksud gue, mainan orang yang ngejebak lo."
"Yang ngejebak gue, huh? Elo atau yang itu?"
Yang itu jelas Tanjung. Dia bahkan sudah jijik menyebut namanya.
Nampaknya Suri masih belum benar-benar paham siapa Tanjung itu.
Kekuasaan selalu bersanding dengan kebencian dan pergantian. Dulu Dayan pernah berkata kan kalau organisasi sebelah, Karya yaitu kembaran Tanjung pernah dijebak oleh Bos Besar secara langsung demi membuat kekacauan dalam organisasi.
Kekacauan itu dimanfaatkan oleh Bos Besar memilah anak buahnya, lalu membangun Aliansi dan memberi posisi baru pada Karya.
Nah, kejadian Suri dan Tanjung ini nyaris sama namun berbeda.
Dayan sudah cukup yakin bahwa Bos Besar bukan dalangnya. Tapi, Bos sepertinya tahu dan sengaja membiarkan untuk menggantikan Tanjung.
__ADS_1
Jadi maksud Dayan berkata Suri itu cuma mainan ya ... niatan dia menggunakan Dayan buat balas dendam itu percuma. Karena Bos Besar sudah tahu dan kemungkinan besar Tanjung tidak akan jadi bagian dari Aliansi sebentar lagi.
*