Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
68. Kapan Anaknya Keluar?


__ADS_3

"Tanjung."


"Kalau dipikir-pikir," Tanjung menarik kaki Suri terbuka, tanpa memedulikan rengekannya, "ngapain gue dengerin alesan lo? Punya rahasia sama Ikram aja udah enggak perlu gue maafin."


Benar. Tanjung tidak pernah membolehkan dia punya rahasia dengan Ikram seperti berteman saja.


Dia memang harus diberi pelajaran untuk tahu. Kalau dikasih pengawal, ya gunakan dia sebagai pengawal, bukan teman berbagi rahasia.


"Tanjung, plis."


Suri melotot horor.


Tidak, tidak, tidak. Kalau Tanjung diberi kontrol penuh atas sesuatu, dia benar-benar bakal bertindak seenak jidatnya saja.


Apalagi Suri bukan tipe perempuan yang bisa tahan dipakai dengan cara apa pun.


Badannya tidak sanggup kalau harus meladeni kehendak Tanjung saja. Soalnya dia tidak akan berhenti sampai dia mengacak-acak Suri.


"Stop!"


Tanjung menahan paha Suri agar terbuka. Tidak peduli.


"Tanjung!"


Suri semakin panik.


"Tanjung, plis! Stop!"


Suri pucat pasi. Keengganan menguasai dirinya sampai Suri tanpa sadar berteriak.


"Gue hamil!"


Badan Tanjung langsung berhenti bergerak. "Apa?"


"Gue hamil," ulang Suri setengah ketakutan. "Gue hamil makanya kayak gitu! Plis, jangan."

__ADS_1


"...."


"Tanjung?"


Pria itu tiba-tiba menjauh, menatap Suri terkejut.


Tapi Suri jauh lebih terkejut ketika Tanjung mengambil kausnya lagi, buru-buru pergi, meninggalkan apartemen dalam keheningan.


Suri seketika beku.


Otaknya buntu.


Apa barusan?


Cowok itu kabur karena mendengar kabar punya anak?!


*


"Bos?"


Pikiran Tanjung masih belum berkumpul sempurna.


Sadar tidak sadar memijak dunia akibat perkataan Suri barusan.


Bahkan terlihat jelas di wajah Tanjung kalau ia sekarang tidak bakal sadar sekalipun ada orang menusuk pisau ke punggungnya.


Melihat ekspresi Tanjung itu, jelas Ikram tidak diam saja. "Bos, what's gotten into you?"


Tanjung mengerjap cepat berulang kali. "Dia hamil," gumamnya seperti orang heran.


Seketika Ikram syok mendengar Tanjung kini sudah tahu.


Kalau kemarin persoalan Arul dia santai, kira-kira apa yang akan bosnya ini lakukan mengenai anak?


"Gue mesti gimana?"

__ADS_1


Ikram kagok. "Sori?"


Seorang Tanjung baru saja bertanya dia harus apa pada Ikram? Seriously?


Atau Ikram hanya salah dengar jadi sekarang juga ia harus ke dokter telinga?


"Lo punya anak. Gue mesti gimana?"


Maksudnya dia meminta saran pada Ikram yang kebetulan punya anak tiga biarpun belum pernah menikah?


Ikram mendadak sulit bicara.


Soalnya mau bilang apa? Ikram juga tidak pernah mengurus pacarnya yang hamil.


Mereka semua hamil, lalu minta dinikahi, terus Ikram tolak, akhirnya pergi.


Walaupun pas anaknya lahir datang lagi minta uang, Ikram juga tidak pernah mengurus. Ia cuma memberi uang yang mereka minta.


Jadi mana ia tahu harus apa kalau punya istri hamil.


Tak mendapat jawaban, Tanjung berlalu.


Pergi ke angkringan yang sering Suri jadikan tempat jajan cuma buat duduk merenung.


Pikiran Tanjung sekarang dipenuhi hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


"Gue enggak tau cewek bisa hamil secepet itu." Tanjung bergumam pada Ikram yang mengikutinya. "Gue nidurin banyak cewek kemarin. Kenapa enggak hamil?"


Ini maksudnya Tanjung menolak kenyataan atau hanya bingung?


Ikram tidak tahu, tapi berusaha menjawab, "Cewek yang masuk ke markas emang semuanya dipastiin udah tubektomi, Bos, jadi emang enggak mungkin hamil."


"Kapan anaknya keluar?"


Sudut bibir Ikram berkedut mendengar pertanyaan konyol itu.

__ADS_1


***


__ADS_2