Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
25. Tidak Bisa Bernapas


__ADS_3

Suri sudah capek kalau harus melawan Tanjung. Karena dia benar-benar tidak ragu menyakiti seseorang biarpun itu perempuan.


Kayaknya ada yang salah dengan otak dia. Mungkin salah gaul atau salah didik waktu kecil.


Jadi biar selamat, Suri ikuti saja dia berjalan sambil di belakang ia diikuti dua orang.


Dua cowok besar berotot dan tinggi, tapi tak tahu kenapa masih lebih menakutkan cowok pendek di depannya.


"Oi." Namanya Tanjung, cuma lidah Suri enggak terbiasa menyebut nama dia jadi spontan selalu berkata oi.


Ternyata dia berhenti. Berbalik pada Suri. "Nama gue bukan oi."


Iya, tau! Cuma aneh saja namanya Tanjung. "Mau itu."


Sisi 'baik' (harus pakai tanda kutip) orang ini adalah kalau Suri bilang mau makan sesuatu, dia juga tidak ragu mengabulkan.


Suri duduk di kursi angkringan, menyesap banyak-banyak cokelat keju yang ia pesan tanpa mikir harga.


Sementara itu, Tanjung malah cuma duduk diam.


"Mau?" tawar Suri ragu-ragu.


Tahu soalnya pasti enggak dijawab.


"Gue boleh nanya enggak sih sama lo?"


Mana mungkin Suri jadi cewek lembek begini kalau bukan karena ancaman. Cuma, belajar dari pengalaman, ini cowok benar-benar tidak mau dilawan.


Kalau Suri jinak, nyawanya aman. Dan perutnya juga.

__ADS_1


Daripada jadi gila, mending Suri berusaha bicara baik-baik. Siapa tahu dapat petunjuk cara lepas dari jeratan setan.


"Kok lo ngasih gue uang terus, sih?" tanya Suri dengan nada polos. "Atau lo bales budi gitu karena gue nolongin lo? Iya? Makanya lo baik terus sama gue?"


Cuih, cuih, cuih. Baik taikucing!


Suri memasang muka tidak berdaya, muka-muka kucing melas yang lapar, haus, tapi malah diusir-usir di berbagai tempat.


Tak tahu Suri kalau Tanjung menatap itu lekat bukan karena apa pun melainkan bingung.


Kenapa?


Iya yah, kenapa?


Tanjung bukan orang kaya. Dan ia akan menonjok siapa pun yang berani mengatakan ia kaya tanpa tahu perjuangan Tanjung.


Bagi Tanjung, uang itu segalanya. Yang mengendalikan dan bisa membuat seseorang dikendalikan. Dari kecil, Tanjung sudah memukuli berbagai jenis orang demi uang.


Kepala Tanjung mendadak sakit. Dirinya paling benci sebuah tindakan tanpa alasan jelas.


Dan perempuan ini sudah membuat dia bertindak tanpa alasan jelas entah soal pelukan atau soal uang.


Cih, apa sih ini?


"Kalo lo mau bales budi, gue sebenernya enggak—"


"Bacott." Tanjung menatap tanpa ekspresi. "Enggak usah banyak tanya."


Tanjung tidak tahu jawaban pertanyaan dia jadi jangan banyak tanya.

__ADS_1


Pikir Tanjung dia bakal paham dan diam, karena sebenarnya itu sudah jelas. Namun perempuan ini memang sulit dimengerti oleh otaknya.


Dia mendadak membuat ekspresi murung.


"Kok lo selalu gitu, sih?"


Hah?


"Lo tuh selalu 'enggak usah banyak omong', 'enggak usah banyak nanya', 'enggak usah banyak bantah'. Lo ngeliat gue apa, sih?"


Tanjung mengerutkan kening, heran.


Melihat dia apa? Kenapa dia jadi membuat pertanyaan tidak jelas itu?


"Gue tuh manusia. Ini hidup gue. Lo dateng, ngatur gue, nyuruh gue begini begitu, tapi gue nanya enggak boleh, setuju sama lo aja enggak. Kenapa, sih?"


Tanjung terpaku.


"Emang lo suka yah digituin? Enggak, kan? Terus kenapa lo gituin gue?"


"...."


"Tuh, kan. Lo ditanya juga diem mulu. Ngomong kalo mau ngomong, tapi kalo lo yang nanya gue mesti jawab. Enggak adil banget."


Adil? Tanjung memang tidak pernah ingin berbuat adil. Lagipula ini soal siapa yang lebih kuat adalah yang mengatur segalanya.


Kenapa dia jadi mempertanyakan—


"Gue takut sama lo." Suri bergumam gemetar. "Gue takut sampe enggak bisa napas."

__ADS_1


*


__ADS_2