
Semua barang-barang Suri diletakkan di unit sebelah milik Tanjung, karena dia tidak suka tempatnya dipenuhi banyak hal apa pun, apalagi barang-barang pindahan.
Dia bahkan tak ragu menunjukkan muka kesalnya ketika melihat barang-barang Suri diangkat. Bahkan Tanjung mengeluarkan kalimat cukup panjang yaitu:
"Gimana lo idup sama barang-barang enggak penting kayak gitu?"
Tapi sebagai catatan, di lemari dapurnya Tanjung tidak ada gelas, tidak ada piring, tidak ada sendok. Jadi buat dia, memang tidak ada yang penting.
Karena capek menyusun kemarin, Suri hari ini belum membongkar, cuma duduk melihat Tanjung kerja.
Dia sibuk di depan komputer entah melakukan apa, tapi sudah kayak pekerjaan orang-orang kantor yang pakai diagram dan tulisan-tulisan tak dimengerti orang awam.
Mana layar komputernya tiga, dipakai semua dalam satu waktu. Suri memakai satu komputer berisi diagram saja sudah pusing.
"Kerjaan lo sebenernya apa?"
Sampai sekarang dia belum mau bilang.
"Lo CEO? Yang punya perusahaan kayak di film-film?"
Tanjung berhenti mengetik sebentar. "CEO bukan yang punya perusahaan."
"Emang iya?" Suri terkejut. "CEO tuh bukannya bos yang punya perusahaan, yah?"
Maklum saja, Suri mana tahu yang begituan kalau level kerjanya saja cuma pelayan kafe dan OB restoran kecil.
"Bukan," jawab Tanjung singkat.
"Terus CEO tuh apa?"
"Pegawai."
"Jadi lo bukan CEO? Terus lo apa? Yang punya perusahaan? Atau lo kerja di perusahaan?"
"Perusahaan apaan?"
Terus kerjaan dia tuh sebenarnya apa?!
Suri mendengkus jengkel, karena Tanjung malah tak kunjung jawab.
Daripada bete, Suri putuskan buat berkeliling. Melihat-lihat isi kamar Tanjung yang demi Tuhan sungguh kosong
__ADS_1
Foto tidak ada, kenangan masa kecil tidak ada, bahkan koleksi buku yang mungkin dia baca juga tidak ada.
Tapi yang bikin kena mental, waktu Suri mengecek merek baju kausnya Tanjung, lambung Suri bergetar.
Ini kaus harga HP kayaknya. Hidup sederhana ala orang kaya. Lemari tidak punya, lima lembar kausnya cukup buat beli lemari yang super duper besar sampai bisa guling-guling di dalamnya.
"Bos, gue masuk."
Suri kaget waktu pintu tiba-tiba terbuka, dan seseorang masuk bersama map kecil tersegel di tangannya.
Dia melihat Suri sekilas, lalu pergi menuju mejanya Tanjung yang tetap fokus ke tiga layar komputer di depan matanya.
Lelaki itu menunduk, bicara dengan suara kecil soal isi map. Kayaknya sengaja biar Suri tidak tahu.
"Tanjung." Suri beranjak. "Gue mau keluar boleh, yah?"
"Gak."
"Sama dia, kok." Suri menunjuk orang itu. "Yah? Gue mau jajan."
Sebenarnya Suri cuma mau melihat-lihat sekitar, tapi Tanjung itu tidak akan bilang iya kecuali Suri bilang lapar. Pokoknya apa pun yang Suri minta, asal soal makan, dia iya. Kalau yang lain 'gak'.
Tanjung berpikir dulu, hampir satu menit baru dia bergumam setuju.
"Nama lo siapa?" tanya Suri pada anak buahnya Tanjung itu, biar tidak kaku.
"Ikram."
"Lo siapanya Tanjung?"
"...."
"Kerjaan Tanjung apa, sih? Kok dia masih muda uangnya banyak banget?"
Ikram tidak menjawab, karena tidak perlu. Segala sesuatu tentang Tanjung itu rahasia sampai Tanjung sendiri mau membukanya.
"Lo sendiri siapanya Bos?" balas Ikram. Tidak seperti Tanjung memang, Ikram lebih tahu berkomunikasi ala manusia.
"Pacar kali? Terhitung."
Tanjung punya pacar? Sungguh jokes tidak lucu di abad ini.
__ADS_1
Yang Ikram lihat, Suri ini lebih seperti sugarbaby.
"Pacar Tanjung sebelum gue siapa?"
"Gak ada."
"Gak percaya." Suri melipat tangan. "Udah ganteng, tajir, enggak pelit, masa satu aja cewek enggak ada. Mustahil."
Sepertinya dia salah paham. Ikram cuma bilang tidak ada pacar. Kalau perempuan yang pernah tidur dengan Tanjung sudah banyak.
Bagi Tanjung, perempuan itu tidak lebih dari sebuah objek, benda, barang, tidak hidup.
Sesuatu yang dia gunakan kalau dia butuh, dia buang kalau sudah tidak.
Makanya Ikram penasaran kapan Tanjung akan bosan dengan Suri.
"Lo suka sama Tanjung?" Ikram iseng bertanya, hanya untuk memastikan.
Yang mengejutkan, Suri menggeleng. "Enggak tau."
"Kok gitu?"
"Gue belum tau dia bakal ninggalin gue atau enggak."
Ikram mengangkat alis terkejut. Mungkinkah dia susah tahu lelaki seperti apa Tanjung itu?
"Gue pernah punya kakak, namanya Arul."
Suri tidak sadar malah bercerita.
"Dua tahun kemarin dia udah enggak pulang. Enggak tau ke mana, ninggalin gue. Waktu kecil gue udah ditinggalin sama nyokap bokap."
"...."
"Gue enggak mau langsung sayang sama orang terus biarin dia ninggalin gue lagi."
Ikram tidak mendengar, sibuk berpikir sesuatu.
Arul. Dua tahun lalu.
Jangan bilang gadis ini ....
__ADS_1
*