Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
17. Orang Nyebelin


__ADS_3

"Gue laper." Suri berkata begitu waktu mereka melewati kedai kebab di pinggiran japan. "Gue ciao makan dulu, yah."


Seperti kata pepatah, sambil menyelam minumlah air. Sambil beralasan mau pergi makan, Suri akan menunggu dia pergi baru Suri kabur dan akhirnya mereka berpisah selama-lama-lamanya.


Bukankah itu adalah happy ending terbaik di dunia dalam hubungan manis mereka yang bikin gula darah naik?


Tapi sayang seribu sayang, Suri lagi-lagi harus kecewa karena orang itu mengikutinya. Waktu Suri mau antri, tubuhnya didorong ke depan, jelas memotong antrian.


Mana dia kasar pula!


"Hei!"


"Buruan."


Dia ini melihat Suri sebagai apa, sih?! Mentang-mentang punya otot dia pikir dunia miliknya?!


Suri sudah sangat muak sampai melotot lebar padanya. Dengan emosi ia menyebutkan pesanan, tiga kebab ekstra pedas, ekstra daging, dan satu minuman large manis.


Kedai itu kedai legendaris jadi harganya lumayan mahal untuk ukuran jajanan street food.


Waktu mau membayar, Suri langsung pergi. Meninggalkan cowok itu yang mau tidak mau harus membayar.


Rasain! Dia pikir Suri tidak bisa melawan? Hah!


Suri sangka dia marah, ternyata hanya diam. Kembali berjalan di depannya, entah mau membawa Suri ke mana.


"Kita mau ke mana?" tanya Suri, sebagai manusia yang berbudi.


Hening.


Dia benar-benar cowok egois yang cuma bicara saat mau bicara, bodo amat dengan orang lain. Dia ini jelas tipe yang berpikir kalau dunia tercipta untuk dia seorang.


Suri mulai benci cowok macam dia.


Tiga kebabnya habis dalam waktu sepuluh menit. Suri bersenandung sambil menyedot minuman, lalu berhenti melihat jajanan lagi.

__ADS_1


Maklum, Suri dulu sering menahan keinginan jajan demi bayar kontrakan.


"Oi." Suri menarik-narik kaus hitam orang itu. Membuat dia menoleh dengan mata tajam.


Cowok itu menepis tangan Suri seolah jijik disentuh. "Gue bukan oi."


"Makanya jawab kalo ditanya nama lo siapa!"


Kentara dia tak mau, karena langsung berkata, "Apa lagi?"


"Mau itu." Suri menunjuk kedai yang ia maksud, lengkap bersama muka dibuat melas. "Gue masih laper. Plisssssss."


Orangnya menatap datar.


"Plisssss?"


Matanya nampak seperti melihat alien aneh.


"Pliiiiiiiiiiiiiiiiissssssssss?"


Dih! Maksudnya boleh? Dia tidak protes?


Suri segera meluncur, mulai berpikir kalau ia sedang berada di surga saja. Jelas gadis itu riang gembira memesan, kali ini ia bayar sendiri karena punya uang pemberian cowok tanpa nama ini.


"Lo mau?"


Meskipun dia masih dingin, berbalik masa bodo. "Buruan."


*


Tanjung mengecek ponselnya untuk memastikan ia berada di tempat yang tepat. Melihat jam sekarang sudah menunjuk ke angka lima sore, maka ada waktu untuk Tanjung berjalan-jalan kecil mengelilingi tempat.


Baru saja ia mau melangkah, Tanjung lagi-lagi mendengar suara korek dinyalakan.


Memaksa Tanjung menoleh, pada gadis yang dari tadi kerjanya hanya makan lalu merokok.

__ADS_1


"Buang." Tanjung sudah bosan mencium bau rokok. Terutama dari cewek ini. "Rokok sama korek lo sini."


"Dih, ngapain lo ngelarang-larang?" Dia melindunginya seperti harta berharga. "Gue ngerokok biar enggak mati bosen, denger! Siapa suruh diajak ngomong diem mulu."


Tanjung menarik paksa lengannya, merampas rokok dan korek di tangan Suri.


Dia memekik sakit, tapi Tanjung tidak mengerti.


Menganggap pegangan tangannya biasa saja.


Dasar lemah.


"Jangan ngerokok lagi."


Dari yang Tanjung amati di kehidupannya, yang biasa merokok itu hanya laki-laki dan pelacurr.


Sekali dua kali orang ini merokok, okelah. Tapi sesering ini membuat Tanjung jadi teringat akan pelacurr yang biasa datang ke tongkrongannya.


"Eh!" Suri memberontak. "Lo tuh tau enggak sih ada yang namanya hak asasi manusia?! Lo kira gue babu lo, lo ngomong apa pun gue mesti denger?! Kakak gue aja enggak ngomong kalo gue ngerokok.


Tanjung mengecek ponselnya yang berdenting, tak mengindahkan Suri mencak-mencak.


"Lo tu mesti belajar yang namanya menghargai manusia, lo denger?! Lo kalo ngomong aja harus didengerin giliran orang ngomong lo malah sibuk ngeliat HP! Lo kira blablabla."


Tanjung sedikitpun tidak peduli dia bicara apa, sibuk mengecek pesan masuk di ponselnya.


Itu pesan dari anak buahnya, Ikram.


"Sini." Tanjung merampas lengan Suri, tidak punya waktu mengajak dia yang setiap disuruh pasti membantah.


Tak peduli Suri berkata apa, Tanjung tetap menariknya berjalan masuk ke arena.


"LO DASAR ORANG NYEBELIN!"


*

__ADS_1


__ADS_2