
Orangnya sedikitpun tidak mau diajak berkomunikasi, jadi setelah mandi, ganti baju plus makan es krim, Suri membuka ponselnya untuk mencari tahu profil Tanjung ini.
Sialnya, meski sudah membuka satu per satu akun bernama Tanjung, tak satupun ia dapati wajah orang ini.
Jangan bilang dia tidak punya sosial media?
Ah, tidak. Namanya pasti dipalsukan. Seperti Bastian kah atau entah siapa itu yang bukan Tanjung.
Suri mengintip ke ranjangnya, kepo mengetahui apa yang si Tanjung lakukan. Damai sekali dia tidur di kasur orang sementara pemilik kasurnya alias Suri tidur di lantai.
Apa orang ini tidak punya rumah, yah? Normalnya kan dia merasa harus segera pulang memastikan rumahnya kemalingan atau bagaimana.
Dia malah menikmati tumpangan yang Suri berikan tanpa ingat rumah sendiri.
Tiba-tiba, mata cowok itu terbuka. Menatap tajam Suri seolah bilang 'gue bunuh lo' hingga Suri terkesiap, spontan kembali berbaring.
Hishhhh! Dia ini manusia atau hewan buas?
Tapi ....
Mukanya, kalau diliat-liat lebih ganteng dari Dayan. Suri berbaring telentang, membayangkan si Ganteng berjaket LV itu.
Bagaimana yah mengatakannya? Dayan punya wajah ganteng yang ... intinya memenuhi standar semua orang, sementara orang ini punya wajah babyface.
Kecuali dia melotot, sebenarnya dia terlihat manis dan memikat.
Yah, masalahnya dia mirip anjing gila.
*
Ting!
Suri sedang membuat bubur buah untuk pasiennya waktu notifikasi dari Dayan masuk.
__ADS_1
Dichat pagi-pagi oleh cowok ganteng jelas membuat Suri langsung semangat. Ia bersenandung kecil, dengan satu tangan menghancurkan alpukat di mangkuk dengan satu lagi bermain ponsel.
Kakak lo enggak mukulin lo, kan?
Oh, dia jelas langsung berpikir orang yang Suri akui sebagai kakaknya bisa berbuat lebih kasar.
^^^Enggak kok. ^^^
^^^Dianya enggak sengaja juga. ^^^
^^^Kakak gue emang begitu. ^^^
😊😊😊
Kakak lo serem yah?
Emang, dumel Suri dalam hati.
Ingin rasanya ia mengetik bahwa orang itu sangat menyebalkan. Menyebut namanya saja butuh waktu berhari-hari.
Dan jangan lupakan dia mengatur Suri seolah dia sungguhan kakaknya.
Juga, Suri tidak akan pernah lupa bahwa cowok itu pernah mengatainya berisik padahal Suri tidak mengatakan omong kosong.
Dia menyebalkan!
Meski pada akhirnya Suri cuma bisa membalas penuh kepalsuan.
^^^Enggak juga, kok. ^^^
Cuih, cuih, cuih. Suri mendadak alergi karena membela dia.
Ohya, Suri.
__ADS_1
^^^Ya? ^^^
Lo punya pacar enggak, sih?
Suri tersedak, terbatuk-batuk membaca chat itu. Maksud dia apa nih bertanya? Mau mengajak Suri pacaran?
Tidak, tidak, tidak. Suri mana punya waktu pacaran. Ia harus cari uang untuk hidup dan harus menunggu Arul pulang.
Lagipula, dipikir bagaimanapun Dayan mana mungkin suka pada—
"Lo senyum-senyum kenapa?" Sebuah tangan meraih ponsel Suri, merebutnya begitu saja.
"Heh! Lo enggak boleh ngambil—"
"Hah?" Tanjung membuat ekspresi dingin menakutkan saat membaca isi forum chat Suri.
Insting bertahan hidup Suri mengatakan untuk tidak melawan atau ia dicabik-cabik sampai habis, namun Suri juga tak bisa menahan kesal karena perbuatan seenaknya orang ini.
Aaaaaakhhh! Kenapa sih dia?!
"Jangan ngeladenin dia."
"Udah cukup!" Suri kelepasan. "Ini hidup gue, yah! Mau gue ngapain, mau gue sama siapa, mau gue ngeladenin siapa, itu bukan hak lo!"
"...."
"Lagian, lo tuh enggak bisa berterima kasih apa?! Gue yang nolongin lo! Gue yang bikin lo enggak jadi mati! Bukannya terima kasih, kenapa lo malah ngatur-ngatur idup gue harus apa?!"
Krak.
Suri terkesiap bahkan tanpa kata dari Tanjung.
Matanya turun ke bawah, pada cengkraman Tanjung di ponselnya yang meretakkan kaca ponsel itu.
__ADS_1
Glup.
Ini perasaan Suri saja atau nyawanya sedang terancam hilang?