
"Suri—"
"Oh, tau nama gue. Kirain enggak tau. Tapi gue enggak seneng, sih."
Sebagaimana Tanjung mengernyit marah pada Rana yang digendong oleh Dayan, Suri pun mengerutkan wajahnya penuh kebencian.
"Gue cuma dateng buat bilang: jangan repotin diri sendiri. Gue lebih milih mati sama anak gue ketimbang harus sama pembunuh kayak lo!"
Kebencian Suri bahkan langsung menumpuk cuma dalam waktu singkat itu. Tanpa sadar ia justru sudah berlari pada Tanjung, mencengkram kerah kaus mahalnya itu.
"Lo denger baik-baik, brengssek. Denger baik-baik! Gue bakal bales semua yang Kakak gue rasain dari lo, berkali-kali lipat kalau perlu!"
Tanjung mencengkram lengan Suri. "Lo cuma marah karena satu orang mati sampe ngorbanin Rani?"
"Ngorbanin? Gue? Gue yang mau mati waktu dia lahir! Lo ke mana, hah?! Lo ke mana waktu Rana lahir?! Lo ada?! Lo enggak ada, bajingann!"
Suri benar-benar ingin menghancurkan semua tulang Tanjung jika saja ia bisa.
Kepalanya tak bisa berhenti memikirkan bagaimana Arul dipukuli sampai habis, lalu dengan tega dia membuangnya ke lautan.
__ADS_1
Suri benar-benar tak bisa memaafkan bagaimana semua itu jadi alasan Suri menunggu! Ia menunggu dan berusaha untuk hal yang sudah mati!
"Lo paling tau!"
Suri menarik kerah Tanjung lebih keras, menunjuk Dayan yang cuma tersenyum menikmati.
"Dia, lo tau dia! Dia itu cuma mau ngeliat lo menderita, jadi dia enggak bakal bantuin lo!"
Setidaknya itu yang Suri lihat. Bahwa Dayan, entah dia benci pada Tanjung atau tidak peduli, orang itu sangat menikmati ketika Tanjung menderita. Jadi seharusnya dia tidak akan membantu Tanjung.
"Kalau sampe gue kenapa-napa, kalo lo berani nyakitin gue buat ngambil Rana, gue enggak perlu minta buat dia jauhin Rana dari lo! Lo ngerti? Lo enggak bisa ngapa-ngapain sekarang jadi jangan banyak tingkah!"
*
Melihat seorang Tanjung, demi Tuhan, seorang Tanjung yang memukuli Arul sampai mati tanpa sedikitpun mengedipkan matanya ragu, kini cuma diam dihina oleh perempuan.
Dayan merasa antusias karena ia tahu Tanjung sebenarnya bisa memukul Suri sekarang. Tanjung sebenarnya bisa membunuh Suri sekarang dan Dayan mau tak mau harus menyerahkan anaknya pada Tanjung.
Yang Bos Besar permasalahan dalam situasi Tanjung itu cuma Suri. Yang berbahaya bagi Tanjung itu cuma Suri, karena jika Tanjung memiliki Rana tanpa Suri, kemungkinan besar Tanjung akan menyewa langsung intelligent yang Bos Besar punya demi menjaga keamanan anaknya tercinta.
__ADS_1
Tapi lihat dia. Dia cuma diam.
Dia cuma menatap Suri sekalipun dia marah atas penghinaan gadis itu.
Dia tidak mengambil pilihan termudah padahal itu di depan mata.
Cuma karena sesuatu yang menggelikan seperti cinta.
Dayan rasanya mau tertawa. Wanita dan seluruh dramanya. Tadi Suri bilang apa? Dayan kesepian?
Jika Dayan harus kesepian agar mendapat seluruh kesuksesannya sekarang, maka Dayan lebih suka kesepian. Sebab kesuksesan Dayan nyatanya bisa membeli orang semacam Suri, bahkan lebih dari Suri.
Hah, Tanjung sedang membodoh-bodohi diri sendiri.
"Lo enggak bakal nyentuh Rana lagi. Enggak bakal pernah!"
Suri berbalik, meninggalkan Tanjung begitu saja. Dia mengambil Rana dari tangan Dayan dan pergi disusul oleh empat orang pengganti Dayan.
Begitu Suri tidak terlihat lagi, Dayan mendekati Tanjung. Mengangkat bahu seolah tidak ada yang bisa ia lakukan.
__ADS_1
"Lo harusnya minta maaf," katanya seolah-olah sedang menasehati.
*