
Sebenarnya ketika Dayan berkata akan membantunya, Suri sama sekali tak tahu bantuan macam apa yang akan dia berikan. Bahkan Teguh sendiri bilang kalau kelakuan Dayan itu sulit ditebak.
Dia tipe manusia yang melakukan sesuatu sesuai mood-nya, tapi di satu sisi juga dia melakukan itu dengan sangat bersih.
Makanya Suri tak menduga kalau dua hari kemudian, Dayan berkata bahwa Euna ada di Bali, menyewa hotel yang Suri tempati ini.
Bukan hanya itu, Euna dua minggu lagi akan mengadakan pemberkatan alias dia akan menikah.
"Lo bantuin gue jambakin rambutnya?" celetuk Suri, mau tak mau berpikir begitu.
Mereka kini berada di teras depan hotel, terlihat seperti sedang menikmati siang di pinggir pantai tapi sebenarnya memandangi perempuan itu.
Dia berkumpul dengan keluarganya di sana. Bersuka cita hingga timbul kebencian lebih dalam diri Suri, melihat betapa menjijikan dia bahagia bersama keluarganya.
"Hmmmmm," Dayan sibuk meneropongi cewek-cewek cantik di pantai, "gue enggak terlalu mau liat cewek jambak-jambakan because itu norak dan terlalu jelas nunjukkin kalian hmmmm apa yah bahasa halusnya enggak punya otak? Do you have any idea?"
Suri menatap datar padanya, tapi memutuskan abai.
Pokoknya apa pun yang orang ini katakan diluar Arul, Suri akan berusaha abai.
__ADS_1
"Yah," Dayan meletakkan teropong ke tangan Suri, "gue enggak terlalu peduli lo mau norak atau apa. Feel free, Lady, gue ngundang dia buat elo."
Tapi setelah mengatakan itu, Dayan mengisyaratkan Suri melihat ke arah lain.
Suri memakai teropong itu sebab tak paham maksudnya, meski ia langsung melempar teropong tersebut karena menemukan Tanjung.
Tentu saja Dayan tertawa menikmati. "Bukannya durhaka sama suami itu dosa?"
"Gue enggak nikah secara agama, jadi dia bukan siapa-siapa."
"Ow, that's a good one."
Dayan tiba-tiba tersenyum memikirkan ide yang terlintas di benaknya. Pria itu menopang dagu, memakai sunglasses-nya dan tahu benda itu membuat ketampanan dia semakin terlihat menonjol.
"Hah?" Suri nyaris muntah akan perkataan tak jelas orang ini. Apalagi waktu dia tersenyum-senyum yang meski dulu terlihat tampan, sekarang di mata Suri itu hanya terlihat minta ditimpuk batu.
"Come on, Tanjung ngeliat."
Suri terdiam. Melirik ke arah dirinya melihat Tanjung tadi, berdiri mengawasi Suri tanpa bisa mendekat.
__ADS_1
Bukankah itu lucu? Dulu dia melarang siapa pun menyentuh Suri, bahkan itu Ikram. Sekarang dia cuma bisa melihat Suri dari kejauhan, terhentikan oleh pengawalan ketat dan peraturan bos besarnya sendiri.
Meski Dayan selalu punya pikiran tidak jelas, Suri kali ini setuju. Tangannya terulur ke wajah Dayan, tersenyum manis.
"Someday, I'm gonna kill you." Suri tersenyum sambil menggumamkan hal itu di wajah Dayan. "Gue juga bakal senyum, ketawa jauh lebih lepas waktu lo mohon-mohon sama gue."
Pria itu tergelak. "You're so funny, Bunny. But sorry to disappoint you 'cause ...."
Dia beranjak, melepaskan diri dari sentuhan Suri sekaligus menjauh. ".... I'm untouchable man, Baby."
Cih.
Suri akan memastikan ia cuci tangan sebelum menyentuh Rana nanti. Jangan sampai anak tercintanya ditulari oleh virus kesintingan orang itu.
Entah ke mana Dayan, tapi Suri memutuskan berpaling ke arah Tanjung berada. Bahkan tanpa teropong, Suri tetap bisa melihat semarah apa pria itu karena Suri menyentuh wajah orang yang dia anggap musuh.
"Suri."
Lamunan Suri buyar oleh panggilan Dayan itu. Entah dari mana dia, tapi sekarang pria itu kembali dengan topi lebar bersama outer tipis putih yang diberikan pada Suri.
__ADS_1
"Come on. Gue tunjukkin yang namanya the real revenge."
*