
Pertanyaan yang aneh dan mendadak.
Tapi Suri mengangkat bahu, terus berjalan. "Yap."
Butuh drama panjang menerima Tanjung yang apa-apa diam sampai Suri sering salah paham.
Meski begitu, Suri bahagia dan merasa hidupnya tidak semelelahkan yang dulu.
Buat Suri, asal ia bisa makan, tidak kesepian dan tidur cukup, hidupnya sudah bahagia.
Terlalu banyak mengeluh bikin capek sendiri, kan? Lagipula sekali lagi, Tanjung memberi kenyamanan dengan cara yang dia bisa.
"Lo nerima Bos apa adanya?" Ternyata Ikram belum puas.
"Pertanyaan lo apa banget."
"Jawab aja."
"Yaiyalah. Tolong jangan lupa dia suami gue, yah."
Suri mendengkus. Rasanya pertanyaan dia menguji kesabaran.
Heh, tolong, yah. Apakah Suri kurang sabar padahal itu manusia cuma tahu diam dalam segala jenis badai?
"Intinya, gue udah enggak bakal salah paham lagi soal Tanjung. Enggak juga mikir dia bakal ninggalin gue, nyakitin gue, atau apa pun."
Semua kesalahpahaman Suri dipatahkan oleh Tanjung tanpa banyak bicara.
Walaupun bicara itu enak, tapi pembuktian juga bisa disebut bicara.
__ADS_1
Ya sebel dikit ada, lah.
Apalagi kalau Suri sudah mengeluarkan seluruh ekspresi dari mulai 😀😬😁😂😃😄😅😆😇😉😊🙂🙃☺😋😌😍😘😗😚😜😝😛🤗🙄😡😠😔😕🙁😣😖😫😩😤😮😱😨😰😯😦😧😢😥😪😓😭, tapi ekspresinya Tanjung dari awal sampai akhir cuma 😶.
Tapi tidak apa-apa.
Ambil positifnya saja.
Dia konsisten dalam segala hal termasuk ekspresi muka.
"Kalo misal Bos nyembunyiin sesuatu dari lo?"
Suri seketika berhenti berjalan.
*
Cowok memang pembohong, tapi cewek juga tidak konsisten, jadi sama aja bohong.
Ini sudah dua bulan berlalu, badai apa pun belum terjadi.
Ikram bukannya bilang harus ada badai, tapi faktanya, status Suri sebagai adik Arul sudah ada di tangan Dayan dan beberapa eksekutif lain.
Kalau Dayan kembali iseng membeberkan fakta Arul mati di tangan Tanjung, kira-kira Suri bakal menerima itu selega Tanjung menerima Suri?
Ikram ragu.
Soalnya Tanjung legowo pada segala sesuatu karena dia kurang peduli, sementara Suri, terutama untuk kakaknya, mustahil dia bisa bilang yasudah.
Kemungkin besar, dia akan membenci Tanjung setelah tahu.
__ADS_1
"Emang dari awal, kan?" Suri menjawab tenang, tanpa tahu makna sebenar dari pertanyaan Ikram.
"...."
"Gue aja sampe sekarang belom tau dia kerja apa. Pokoknya yang gue tau Tanjung rapat tiap bulan, kerja pake tiga komputer, bisa tiba-tiba dipanggil pas lagi enak tidur, punya anak buah, bosnya konglomerat, tapi Tanjung bukan CEO, enggak punya perusahaan, duitnya sebulan gue pusing mau diabisin kayak gimana."
Bingung, kan? Sama, Suri juga.
Tanjung tidak pernah mau jawab.
Oh, pernah, dia pernah jawab.
Suatu kali Suri sudah capek bertanya dan kayaknya Tanjung capek mendengar, dia akhirnya mau buka suara.
Kata Tanjung, "Lo enggak usah kepo."
Sudah, selesai di sana, cerita berakhir. Karena kayaknya kalau Tanjung lanjut bicara, Suri malah sakit hati.
Suri pasti tersinggung kalau tidak coba paham, jika Tanjung tidak menjawab sesuatu, ya berarti buat dia itu tidak penting.
Karena setelah Suri pikir-pikir lagi, ya memang tidak penting ia tahu.
Buat apa? Suri juga tidak bakal bertemu siapa-siapa untuk menjawab kalau memang takut ada yang bertanya 'suamimu kerja apa?'.
Tanjung juga melarangnya kerja, karena dia merasa tidak butuh bantuan Suri untuk kebutuhan finansial.
Daripada overthinking, yaudah gue enggak usah tau sekalian. Idup gue bakal lebih damai.
***
__ADS_1