
Saking seringnya Suri bergumam hal bodoh, Tanjung sudah malas mendengarnya. Telinga Tanjung benar-benar berdengung akibat suaranya.
Jadi meski Suri bicara, itu cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri buat Tanjung.
Perhatian Tanjung malah lebih tertuju pada pakaian Suri.
Celana panjang yang sepertinya dari baju tidur, kaus oversized bergambar kartun bekas dicuci ratusan kali, yang secara keseluruhan cuma harus diberi satu kata: jelek.
Tanjung heran. Dia sudah diberi uang banyak, kenapa satu saja baju yang enak dipandang tidak dia beli? Apa dia tidak tahu yah kalau membeli baju bersih adalah kebutuhan pokok manusia setelah makan?
"Gue lagi ngomong!"
Tiba-tiba, tangan Suri mendarat di bahunya. Menatap Tanjung seperti ingin menelan bulat-bulat.
"Dengerin gue ngomong, plis! Gue lagi ngomong jadi dengerin gue, Tanjung"
Tanjung menatap wajahnya.
Cantik. Sebenarnya dia cantik. Bentuk hidungnya agak kecil dan itu manis. Lalu bibirnya tipis, alisnya pun cuma butuh dibentuk sedikit.
Kalau dia berpakaian lebih baik, dia pasti akan semakin cantik. Lalu mukanya dipoles make-up, agar dia benar-benar terlihat seperti perempuan.
Kenapa dia malah betah terlihat seperti pengemis begini?
Ah, mungkin karena kemarin-kemarin dia cuma berpikir soal makan apa hari ini dan besok. Tanjung juga pernah ada di titik itu jadi bukan ia tidak paham.
Mental dia masih mental pengemis. Bahkan meski sekarang Tanjung memberikan dia uang, Suri masih tidak paham kalau dia punya uang.
Hah, Tanjung mau tak mau harus menyelesaikan masalah penting ini.
"Ikut gue."
Suri rasanya mau menangis darah waktu ia sudah berceloteh jungkir balik, Tanjung malah langsung menariknya pergi tanpa sedikitpun terlihat peduli.
Kepala Suri sudah berdenyut. Memilih diam daripada nanti ia depresi betulan.
Orang ini benar-benar cuma mau dengar sesuatu yang mau dia dengar. Bodo amat pada hal lain.
Tapi Suri jadi syok lagi waktu Tanjung menariknya masuk ke butik.
Bukan butik sekelas Guccci memang, tapi baju harga ratusan ribu itu sudah bisa bikin Suri nangis dua hari saking mahalnya.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?"
Tanjung menunjuk Suri. "Kasih dia baju yang enggak bikin dia jadi gembel."
"Heh!"
Tanjung mendorong Suri pergi, tidak terlalu merasa harus dengar protesan dia.
Pria itu duduk malas-malasan, sebenarnya tidak suka dengan kegiatan macam ini, tapi matanya tidak kuat melihat Suri terus berpenampilan jelek.
Beberapa saat, Suri akhirnya keluar, dengan pakaian baru.
"Puas?"
Tanjung menatap dia tanpa berkedip.
Ternyata ... ada perempuan yang berbakat jadi jelek.
Dengan isyarat tangan, Tanjung menyuruh pekerja menarik Suri. Biarpun dia teriak-teriak, Tanjung tidak peduli.
"Permisi, Mas." Pramuniaga yang lain mendatangi Tanjung. "Kalau boleh tau, model baju untuk Mbaknya harus seperti apa? Biar saya seleksi yang Masnya suka."
Karena dia masih gadis, seharusnya dia pakai pakaian yang sejenis ini.
Di dalam ruang ganti, Suri melotot lebar-lebar waktu melihat dress pilihan Tanjung.
"Gak!" Suri menolak keras. "Enggak, Kak. Enggak usah. Saya yang mau pake, jangan dengerin dia!"
Suri menyambar kaus laki-laki yang harganya lima ratus ribu, keluar untuk memperlihatkan bahwa itu bagus.
Gila saja baju harga setengah juta tidak bagus.
Itu sih gila.
"Lo enggak keluar dari sini kalau enggak ganti baju," kata Tanjung semena-mena.
Ternyata memang gila.
"Ini gue ganti baju!"
"...."
__ADS_1
Akh!
"Coba dulu pake, Mbak." Wanita yang membantunya ganti baju malah menahan tawa. "Pasti cocok Mbaknya. Ayo, Mbak."
"Yang begini bukan selera saya, Kak. Lagian ketat banget! Saya nanti enggak bisa napas."
Dibujuk seperti apa pun, Suri kokoh dengan pendirian. Sampai akhirnya pramuniaga jadi capek, dan akhirnya memberi ide.
"Yaudah, Mbak. Coba pake ini, deh."
Suri menatap ngeri pada crop top bertali tipis yang diulurkan, tapi lebih horor melihat rok celana pendek yang lebih pendek dari rok cewek Jepang.
"Enggak sekalian bikini, Kak?"
"Coba aja dulu, Mbak. Dicoba dulu."
Suri capek. Jadi diambil baju itu, terus ganti baju, menatap pantulan dirinya di cermin.
Cakep sih baju begini. Lihat perempuan di sosial media pakai baju mini itu cantik. Tapi Suri tidak terbiasa, jadi jatuhnya malah risi.
Suri keluar, jutek luar biasa melihat Tanjung.
"Gue kasih tau yah, gue enggak bakal make ini lebih dari lima menit!"
Tanjung beranjak. Bicara pada pramuniaga, abai pada Suri. "Kasih dia baju perempuan. Sekalian sama itu."
"Heh!"
"Kasih dia sepatu juga."
Suri cengo luar biasa.
Sejelek itukah dirinya sampai pendapat untuk diri sendiri pun tidak didengarkan?
Helo?! Dia ini hidup di zaman apa sampai tidak kenal yang namanya emansipasi?!
Apa dia sama sekali tidak mengenal yang namanya 'hak' perempuan?
Dasar badjingan!
*
__ADS_1