
"Gue cuma mau tau sesuatu." Suri meneliti senyum Dayan itu. Setelah diperhatikan, pria ini selalu tersenyum buat sesuatu yang mengerikan. "Gimana caranya buat lo bantuin gue?"
Gue bilang apa. Dayan menopang dagu. Dia enggak ngerti politik.
"Lo bisa kasih apa kalo gue bantu?"
"Makanya gue nanya."
"Dan makanya gue nanya juga, lo punya apa?"
Ini permainan yang menyenangkan. Dayan paking suka bermain-main dengan emosi dan perasaan orang.
Apalagi orang yang ia anggap bodoh.
Bukan Dayan benci, ya. Tapi, lucu saja. Mereka merasa bergerak atas keinginan sendiri, padahal orang lain mendorong mereka melakukan itu dan berpikir itu keinginan pribadi.
"Lo mau bales Tanjung yang bikin kakak lo menderita?" tanya Dayan, atau yang lebih tepat disebut pancingan. "Emang lo punya apa buat bikin Tanjung menderita? Cinta? Tanjung mau lo bikin menderita pake cinta? Duitnya dia bisa bayar rumah sakit paling canggih yang bisa nyembuhin sakit hati. Percaya sama gue."
Suri mengepal tangannya kuat-kuat. Kini ia diperlihatkan pada dunia di mana Suri sedikitpun tidak berkutik, bahkan jika ia berusaha mencoba.
*
__ADS_1
"Bos."
Tanjung melirik ke belakang, pada Ikram yang ia tahu akan mengatakan apa.
"Bos, gue enggak setuju." Ikram menahan diri tidak menarik tangan Tanjung agar berbalik mendengarnya. "Lo enggak bisa ninggalin organisasi gitu aja buat—"
"Apa?"
Buat Suri dan anaknya adalah apa yang Ikram mau katakan, Tanjung tahu. Tapi kalau dia menyelesaikan kalimat itu, Tanjung tidak menjamin Ikram akan baik-baik saja.
Sejak Tanjung masih kecil, ia selalu melihat kalau ternyata keluarga itu tidaklah penting. Bahkan jika Tanjung meninggalkan ayah ibunya di kota lain, satu-satunya yang penting adalah Tanjung mengirim uang pada mereka, bukan soal Tanjung pulang, Tanjung makan, atau Tanjung baik-baik saja.
Keluarga adalah omong kosong tertololl yang ada dalam hidup Tanjung.
Tanjung tidak suka Suri cerewet. Tanjung tidak suka Suri marah atau berteriak-teriak tidak jelas. Tanjung pun tidak suka kalau Suri banyak tanya. Namun Tanjung menunggu semua hal kecil yang sering Suri lakukan.
Banyak tanya, marah-marah karena Tanjung terlalu bekerja keras sampai sakit, atau saat dia berteriak histeris karena Tanjung ketiduran waktu menjaga Rana.
"Anak-anak enggak bisa segampang itu disuruh ngelayanin orang baru, Bos." Ikram mengganti ucapannya. "Mereka enggak bakal terima kalo alesan lo keluar dari Aliansi itu karena istri sama anak lo."
"Gue enggak peduli."
__ADS_1
"Jelas lo peduli. Gue tau lo peduli."
Tanjung hanya diam.
"Gue tau istri sama anak lo penting buat lo, Bos. But we need you here."
Tanjung menghela napas. "Lo tau Aliansi tempat buat apa?"
Tentu saja dia tahu.
"Ini tempat anjing yang enggak tau mau ngapain kecuali ngumpulin duit buat dirinya sendiri, plus ngasih Bos keuntungan yang dia mau."
Dulu, Tanjung adalah anjing tersesat itu.
Tidak punya rumah, tidak punya kumpulan keluarga, hanya menjadi pemimpin dari anjing-anjing liar saja agar mereka lebih mudah diatur. Ia hadir di sini sebagai anjing paling liar, paling kuat sekaligus paling kesepian untuk memimpin jiwa-jiwa liar mereka.
Tapi itu dulu.
"Gue punya keluarga sekarang." Tanjung berlalu. "Gue udah enggak cocok jadi Bos kalian."
Dia butuh anjing tersesat baru yang Tanjung tahu sudah disiapkan oleh Bos Besar.
__ADS_1
*