Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
102. Tanjung yang Dulu, Tanjung yang Sekarang


__ADS_3

Ikram hanya memandangi punggung Tanjung yang semakin lama semakin jauh.


Tidak pernah Ikram sangka walau sudah melihatnya sejak kemarin, bahwa Tanjung benar-benar menyayangi keluarga barunya.


Keluarga yang dia akui pula.


Jika memikirkan bagaimana Tanjung kemarin, percaya bahwa meteor akan jatuh dan kiamat tinggal dua hari lagi jauh lebih mudah dilakukan daripada percaya Tanjung mengakui seseorang sebagai keluarga.


Dia benar. Aliansi adalah tempat anjing-anjing tersesat. Mereka yang tidak punya keluarga, tidak punya 'rumah', tidak memiliki apa-apa selain kebutuhan akan uang.


"Anak-anak di markas pada enggak tenang nunggu pengumuman." Dika mendatangi sisi Ikram, memberitahunya. "Keputusan Bos gimana?"


Ikram menggeleng. "Dia bilang dia punya keluarga."


"Boss? He say that?"


"He did."


Tiga kali punya anak dari tiga wanita berbeda, Ikram tidak pernah mengambil keputusan sama dengan Tanjung.


Ya, organisasi ini alasan Ikram tidak menikahi perempuan yang ia hamili.


Sebab Ikram sadar bahwa keluarga akan membelenggu sekaligus memberi Ikram kelemahan.


Terlebih dalam posisi ini. Sesuatu seperti keluarga bagi Ikram cuma akan membuatnya tidak bebas bergerak.

__ADS_1


Contohnya seperti Tanjung. Kini dia harus memilih antara sesuatu yang dia besar bersama itu, atau dua orang yang sebenarnya baru bersama dia sebentar.


"Hah!" Ikram mengacak rambutnya sendiri. "Minta pertemuan pribadi sama Bos Besar. Plus buat pengumuman ke anak-anak di markas kalau Tanjung diberhentiin."


Dika mengangkat alis. "Itu urusan lo. Lo wakilnya Bos—maksud gue, Tanjung."


Ikram mengangkat bahu. "Gue masih wakilnya."


Kalau Tanjung keluar, Ikram keluar. Anggap saja kalau Ikram memang lebih suka mengikuti orang semena-mena itu.


Lagipula, kalau Tanjung berhenti di organisasi atas izin Bos Besar, berarti Tanjung masih jadi anak buah Bos Besar yang pindah dari A ke B.


Selama Tanjung masih anak buah Bos, peluang uang di belakangnya akan selalu besar.


"Gue kira lo temen gue!"


Ikram kira ia tak pernah menganggap Suri teman.


Setidaknya itu yang Ikram kira.


*


Tanjung kembali ke kediamannya bukan untuk mengambil sesuatu yang ia butuhkan, tapi sesuatu yang bagi Tanjung sangat penting.


Tanjung kembali untuk mengambil kotak kecil hadiah istri Bos Besar, berlian merah Rana.

__ADS_1


Suatu saat benda ini pasti akan dipakai oleh putri kecilnya, jadi sampai hari itu datang, Tanjung akan memastikan ini tidak hilang.


Tanjung berharap anak itu akan menyukainya.


Waktu menunjuk ke pukul sembilan pagi ketika Tanjung menengok jam. Tentu ia akan langsung beranjak, namun terhenti melihat Ikram berdiri di depan pintu.


"Gak ada dokumen di sini," ucap Tanjung datar.


Segala pekerjaan Tanjung cuma tersimpan di markas, jadi rumahnya tidak sedikitpun punya ruang untuk pekerjaan apa pun itu.


Kalau Ikram datang mengambil dokumen, dia salah tempat.


"Gue mau ngikutin lo boleh kan, Bos?"


Balasan Ikram diam-diam membuat Tanjung terkejut. Untuk apa dia melakukan hal merepotkan seperti itu?


"Buat?"


"Kecanduan."


Tatapan Tanjung langsung membuat Ikram tertawa kikuk.


"Maksud gue, yah, gue enggak pengen kerja di tempat yang gue rasa bukan buat gue. Entah lo ngerti atau enggak, Bos, di mana elo ya menurut gue di mana gue harus ada. So I'll follow your way."


Tanjung terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Terserah."

__ADS_1


__ADS_2