Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
83. Namanya Rana


__ADS_3

Tanjung hanya diam. Atau lebih seperti menyerah dan lemah.


Lagipula apa yang bisa ia lakukan? Orang yang Suri minta itu sudah mati, dan jika dia hidup lagi pun Tanjung akan membunuhnya lagi.


"Lo tau gue enggak bakal bantuin lo apa-apa." Bos Besar menekankan hal itu. "Lo yang mutusin nikah, lo juga yang mutusin punya kelemahan. Lo yang milih buat berubah. Gue enggak punya urusan."


Tanjung tahu.


"Tapi, yah, kalo harus ngomong, lo mending pulang. Lalu-lalang ngambil duit, ngasih duit, ngambil lagi, ngasih lagi, enggak bakal ngasih solusi. Walaupun itu ngasilin duit."


Entahlah.


Tanjung hanya merasa seluruh dunia sekarang menjadi gelap.


*


Wajah pucat Suri masih terlihat jelas meski seluruh proses persalinan telah dijalani. Kentara jelas kalau Suri baru saja menghadapi yang namanya perjuangan hidup ketika rasanya ingin mati kesakitan.


Mata Suri lelah, tapi senyumnya tulus terulas saat dibiarkan mendekap bayinya.


"Tanjung mana?" Itu yang pertama Suri tanyakan ketika Ikram masuk.


Tatapan Ikram sejenak bergeser pada bayi di pelukan Suri. Seorang bocah yang terlihat rapuh dan bisa terluka bahkan oleh tiupan kecil.


Anaknya Tanjung.


Sulit dipercaya. Bos yang itu benar-benar punya anak sekarang.


"Ada anak buah kita yang mati," dusta Ikram. "Bos mesti di sana nyelesaiin. Dia minta maaf karena enggak bisa nemenin lo."


Suri tertawa kecil.

__ADS_1


Bukan. Bukan senang karena Tanjung minta maaf. Cuma tahu kalau Ikram berbohong.


Sesayang-sayangnya Tanjung pada Suri, tidak pernah sekali saja mulut Tanjung mengucapkan maaf. Bagi Tanjung, minta maaf itu haram.


Mungkin lebih mustahil daripada dia mendadak jadi cerewet. Tapi setidaknya Ikram mau berbohong buat menghibur Suri.


"Nama," gumam Suri nyaris tanpa suara. "Tanyain namanya."


Dia menghindari Suri. Dia tidak pulang karena tidak mau melihat Suri.


Mungkin Suri itu payah berbohong, tapi sejago apa pun Tanjung bohong, Suri bakal jadi orang terakhir yang termakan kebohongannya.


Dia tidak mencari Arul. Dia tidak suka mencari Arul. Ekspresi Tanjung tidak pernah suka mendengar nama Arul. Dia tidak mau Suri bertemu Arul.


Makanya dia pergi ketika Suri menangis tersedu-sedu merindukan kakaknya.


Ikram yang sadar kalau Suri sudah bukan gadis bodoh seperti dulu sempat diam memandanginya.


"Kenapa bukan lo yang ngasih?" tanya pria itu. "Bisa lo yang ngasih kalau lo mau."


"Ini anaknya." Suri menjawab lemah. "Kalo ada apa-apa seenggaknya dia bakal inget ini anaknya. Harus dia yang kasih."


Tanjung selalu diam jika Suri bertanya bagaimana mengenai nama. Sepertinya Tanjung mau memikirkan itu sampai di waktu-waktu terakhir, untuk memutuskan mana nama terbaik.


Jadi dia saja.


Lagipula mau dinamai oleh siapa pun, kenyataan ini anak Suri tidak berubah.


"Oke." Ikram menjawab demikian dan bergegas menghubungi Tanjung.


Dia menyalakan loudspeaker seperti yang Suri minta, lalu berkata apa adanya. "Suri nunggu nama buat anak lo, Bos."

__ADS_1


".... Itu anaknya."


Suri menangis waktu mendengar perkataan Tanjung itu.


"Dia enggak mau, Bos. Dia bilang lo aja."


"...."


"Bos?"


Tolong setidaknya jangan bilang kalau dia tidak mau, dan semuanya urusan Suri saja. Kenyataan kalau Arul dan Tanjung sama-sama tidak hadir saja sudah cukup membuat Suri sakit, jadi jangan tambah dengan perkataan semacam itu.


Demi Tuhan.


"Rana."


"...."


"Namanya Rana."


Ikram agak tersentak mendengar nama yang disebutkan Tanjung.


Sejujurnya Ikram lebih berharap Suri yang memberi nama, karena Tanjung mana punya referensi nama perempuan selain nama pelacur.


Rana. Itu nama yang bagus untuk ukuran saran dari Tanjung.


"Bos—"


"I know," balas Tanjung samar, "I'm on my way."


Baiklah kalau dia sudah memutuskan pulang.

__ADS_1


Ikram sebenarnya bukan manusia yang emosional, tapi karena Ikram punya tiga anak, ia bisa katakan bahwa ... Tanjung suatu saat akan menyesal kalau tidak bergegas menemui anaknya yang baru menatap dunia.


*


__ADS_2