
"Lagian lo tuh yah—"
"Mau belanja?" tanya Tanjung, merasa ocehan Suri itu tidak terlalu harus didengarkan. "Lo mau beli sesuatu?"
Jujur saja Tanjung tidak punya tujuan mengajak dia keluar. Tanjung cuma merasa Suri mungkin bosan terus di ruangan itu jadi lebih baik ia ajak dia keliling.
Dan setahu Tanjung semua perempuan suka belanja. Jadi Tanjung cuma bisa berpikir mengajak dia belanja.
"Belanja buat apa?" balas Suri bosan. "Gue enggak keliatan sama orang, kerjaan gue cuma di kamar nonton sampe lo pulang, emang gue perlu belanja apaan?"
Itu sindiran, tapi Tanjung tidak menangkapnya sebagai sindiran.
Pria itu memiringkan wajah samar, lalu bergumam menerimanya.
Jadi begitu.
Perempuan yang suka belanja adalah perempuan yang suka keluar rumah.
Kalau begitu Tanjung rasa Suri tidak perlu belanja.
"Uangnya ditabung aja."
Tanjung menoleh. "Tabung?"
"Iya, simpen aja. Siapa tau nanti butuh."
Tanjung menatap dia tidak mengerti.
__ADS_1
Nanti ya nanti, itu prinsip Tanjung sejak dulu.
Dari dulu sampai sekarang, penghasilan bulanan Tanjung selalu ia habiskan.
Jika untuk dirinya sendiri, lalu untuk orang tuanya dan beberapa kebutuhan sudah terpenuhi lalu uang itu masih ada, Tanjung meminta Ikram memindahkannya sebagai dana divisi mereka.
Menabung bukan kegiatan positif, setidaknya itu kata Bos Besar.
"Gue tuh heran sama lo, yah." Suri tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya lagi. "Lo kayak tau hal-hal berat tapi enggak ngerti hal-hal sederhana. Kok bisa?"
"Apanya?"
"Ya lo tau politik tapi kayak lo enggak ngerti nabung itu apa."
Tanjung lebih tidak mengerti kenapa ada orang mengerti hal tidak penting tapi tidak mengerti hal penting. Kok bisa?
"Berhentiin uang di satu tempat itu mutus arus ekonomi." Tanjung menjawab sederhana. "Nabung bukan kegiatan orang kaya."
Tanjung semakin menatap Suri tidak mengerti. "Itu politik."
"Hah?"
"Ideologi yang bilang nabung pangkal kaya itu politik. Biar lo enggak kaya. Pola pikir kayak gitu bikin lo secara enggak langsung muter di lingkaran ekonomi standar. Enggak kaya enggak miskin."
"Kalo lo nabung delapan juta sekian dalem sebulan, lo dapet seratus juta dua belas bulan kemudian. Uang seratus juta lo pake buat beli kebutuhan lo atau mungkin lo beli rumah."
"Rumah itu enggak ngasilin duit sama sekali, cuma ngasih lo tambahan dana buat dibayar. Kapan lo kaya?" celoteh Tanjung panjang lebar
__ADS_1
Melihat Suri cengo dengan kalimatnya, Tanjung mengetuk kening perempuan itu dengan ujung jarinya.
"Daripada menuhin otak lo sama hal enggak jelas, mending lo belajar yang jelas aja."
*
Dayan menopang dagu, terkekeh-kekeh geli melihat pemberitahuan resmi dari Bos Besar bahwa Tanjung sekarang punya istri.
Seorang Tanjung punya istri.
Sungguh sebuah kejutan yang tidak lucu.
"Gila." Surya saja berulang kali membaca kabar itu dan masih tidak percaya. "Skill ranjangnya OP parah sih nih, Bos, makanya dinikahin. Iya enggak?"
Tidak.
Daripada mengatakan Suri terlalu hebat, Dayan rasa lebih ada yang salah dengan otak Tanjung.
Kalau misalkan ini soal Karya dan Rashi peliharaannya Bos, okelah Karya memilih menikah.
Soalnya siapa yang tidak mau dengan Rashi, coy? Malaikat di surga pun rasanya mau dengan dia.
Kalau Rashi bidadari, maka dia ratunya bidadari.
Makanya kan saking OP-nya Rashi, Bos Besar sendiri yang menikahinya.
Tapi Suri? Dari segi pengetahuan dia nol besar, dari segi wajah dia juga tidak terlalu menarik, dari segi karakter juga dia menjengkelkan—lalu sebenarnya apa yang membuat Tanjung mendadak gila?
__ADS_1
Ah, cinta itu buta, kata orang-orang dungu.
*