
Tanjung tersentak kaget akan kemunculan Suri yang mendadak.
Kue di tangannya, baju terbuka, plus ruangan yang tiba-tiba menyala, semua mengejutkan Tanjung.
Mengejutkan.
Ngomong-ngomong, dia sedang apa?
"Yey, kejutan." Suri berseru riang mendekatinya bersama kue yang diberi lilin. "Happy birthday, Sayang. Make a wish dulu baru tiup lilin."
Tanjung menatap heran. "Siapa?"
"Ya elo lah. Emang siapa lagi?"
"Apanya?"
Suri melotot. "Plis yah jangan rusakin! Plis, jangan! Udah berdoa baru tiup lilin."
Pikiran Tanjung masih berusaha konek. Apa sih yang sedang dia lakukan?
Omong-omong, permisah, Tanjung tidak ingat kapan ulang tahunnya, dan seumur hidup tidak pernah merayakan sesuatu seperti ulang tahun.
Jadi ketika Suri seperti ini, Tanjung cuma berpikir hormon kehamilan membuat Suri jadi aneh.
Capek, pengap, malas, Tanjung mengambil kue di tangan Suri, tanpa meniup lilinnya.
Sebagai ganti Tanjung meraih pinggangnya, menutup pintu dan menuntun Suri ke kasur.
"Kalo lo capek, tidur. Jangan banyak gerak."
__ADS_1
Pikir Tanjung, mungkin dia bosan jadi bikin sesuatu semacam ini.
Suri yang diperlakukan begitu berusaha keras tidak menggigit Tanjung.
"Lo tuh, ugh!" Suri mengacak rambutnya kesal. "Gue susah-susah bikinin begini, seneng kek dikit!"
Tanjung tidak mengerti harus senang kenapa. Ia capek pulang kerja sebenarnya. Jadi Tanjung masuk kamar mandi, bersih-bersih, lalu naik ke kasur buat tidur.
Besok saja dibahas.
*
Memang berharap pada manusia adalah sesuatu yang sia-sia. Sudah jelas-jelas manusia itu tidak bisa memenuhi harapan. Mau dibuat seperti apa, manusia ya manusia juga.
Suri cuma bisa menopang dagu menikmati kuenya sendirian selama Tanjung tidur. Tidurnya tidak main-main pula. Dari jam sebelas malam kemarin sampai jam satu siang hari ini.
Dari awal harusnya Suri tidak bikin kejutan. Dari awal seharusnya Suri tidak mendengarkan nasehat sesatnya Ikram. Memang hanya pembodohan diri sendiri. Sekarang Suri kecewa, apa Tanjung mau tanggung jawab?
Cuih.
"Ini apa?" tanya Tanjung waktu melihat kotak hadiah yang sebenarnya Suri mau berikan.
Isinya kaus. Ya ujung-ujungnya Suri beli juga, karena biarpun tidak istimewa, Tanjung tetap pakai. Orang kausnya dia memang cuma lima.
Suri beli tiga, yang menghabiskan uang di kantongnya belasan juta. Tapi Suri tidak perlu pusing, soalnya yang punya uang memang Tanjung.
Beli untuk dia juga, jadi seharusnya tidak masalah.
"Kado ulang tahun," jawab Suri tanpa minat. "Happy birthday yah, yey. Semoga sehat selalu, waras selalu, bertambah peka, dan makin paham jadi manusia. Aamiin."
__ADS_1
Meski waktu berkata begitu, ekspresi Suri datar.
"Siapa?"
Suri harus tahu bahwa menendang suami termasuk dosa besar. Ya, harus paham biar tidak terjadi perang dunia ketiga yang bermula dari masalah ulang tahun doang.
"Entahlah siapa. Nyamuk kali," kata Suri pasrah, sudah menyerah.
Tanjung malah diam, menepikam benda itu. Pria itu malah pergi ke kamar mandi sebentar, lalu keluar sembari membawa sesuatu di tangannya.
Kenapa Suri tahu? Soalnya Tanjung langsung mengulurkan itu ke depan Suri.
"Buat lo, dari Bos."
Suri mengerjap.
Satu detik, dua detik, tiga detik, Suri langsung mengambil kalung itu. Permatanya bersinar cantik dibawah cahaya matahari yang menerobos dari jendela.
Hal yang dulunya bahkan cuma Suri lihat di sosial media.
"Ini berlian?!"
"Mungkin."
"Kok mungkin?!"
"Gue enggak tanya." Tanjung menjawab sangat-sangat santuy. "Bos cuma bilang kasih ke elo. Kenapa? Lo enggak suka?"
***
__ADS_1