Jadi Tawanan Preman Galak

Jadi Tawanan Preman Galak
84. Kecil dan Manis


__ADS_3

Tanjung cuma berjalan tenang memasuki gedung apartemennya yang sepi. Memang sengaja Tanjung minta untuk mengurangi aktivitas di tempat ini, demi keleluasaan seluruh staf yang bertugas di atas.


Tatapan Tanjung kosong melihat angka digital yang menunjukkan lantai apartemennya. Berhenti di sana, lalu perlahan-lahan pintu terbuka.


Langkah Tanjung baru terhenti ketika tiba di depan pintu.


"Suri sama anak lo lagi istirahat, Bos." Itu yang Ikram katakan, seolah paham isi pikiran Tanjung.


Atau lebih tepatnya paham kalau Tanjung ragu bertemu Suri.


Perkataan itu memberi Tanjung keyakinan untuk membuka pintu, masuk ke dalam. Suri tengah berbaring dengan selang infus di tangannya, sedangkan tepat di sebelah ranjang ada ranjang bayi bersama seseorang yang Tanjung namai Rana.


Tanjung tidak tahu soal nama perempuan yang bagus seperti apa, tapi kata Rana terdengar nyaman di telinganya.


Didekati ranjang bayi itu pelan-pelan, mengulurkan tangannya ke dalam, menyentuh wajah bayi itu.


Kecil sekali. Mungil dan manis.


Apa dia mirip Tanjung? Atau dia mirip Suri? Tanjung tidak tahu karena muka bayi ini cemberut. Bagaimana cara melihat mirip tidak miripnya?


Lama Tanjung melihatnya, tiba-tiba saja anak itu menangis.


Tanjung tersentak. Langsung menarik tangannya, takut jika tanpa sadar ia menyakiti. Dia kecil sekali dan terlihat bisa remuk.


"Ikram!"


Tanjung panik. Dia menangis. Jangan bilang dia kesakitan? Dia terluka?

__ADS_1


"Ikram!"


Yang bangun justru Suri, lompat mengambil bayi itu ke pelukannya.


Ikram juga tergopoh-gopoh masuk, kaget karena Tanjung berteriak keras.


"Ya, Bos?"


"Mana dokter? Gue suruh standby di sini kenapa enggak ada?"


"Itu—"


"Suruh mereka balik. Gue enggak mau tau."


"Ssshhh." Suri mengisyaratkan mereka diam. Mau menyusuinya hingga Ikram langsung keluar, karena Tanjung pasti akan mencabut bola matanya jika melihat.


"Dia sakit?" tanya Tanjung kebingungan. "Kenapa enggak ada dokter? Kenapa lo sendirian? Gue suruh mereka di sini buat nemenin. Kenapa malah—"


"Ssshhh." Suri tersenyum. "Anak kecil kerjanya emang nangis. Bukan sakit."


Tapi dia terlihat sangat kecil, sangat lemah, sangat tidak berguna, dan tidak berdaya, tidak bisa apa-apa, bisa terluka kapan saja, dan mungkin nyamuk lebih kuat daripada dia.


Kalau dia sakit bagaimana? Kalau dia terluka bagaimana?


"Sini pegang."


Tanjung menarik keras tangannya. "Jangan."

__ADS_1


Yang malah membuat Suri tertawa kecil. "Sini, Papa. Pegang anaknya."


"Gak." Tanjung menggeleng ngeri. "Tangan gue kasar. Jangan."


"Kalo dia nangis enggak dapet kasih sayang, lo tanggung jawab, yah."


"Ada lo."


"Enggak lengkap." Suri terus mendesak. "Kata psikolog, anak kecil baru lahir sampe umur lima tahun harus dipenuhin semua love language-nya, termasuk physical touch. Kalo enggak nanti dia ngerasa enggak disayang. Mau?"


"Nanti dia luka." Tanjung keukeu. "Lo aja."


"Ya makanya pelan-pelan, Papa."


Papa.


Tanjung tidak pernah menganggap panggilan itu istimewa sebelum ia melihat anak ini. Mendadak Tanjung membayangkan jika nanti dia merangkak, atau berjalan, atau berlari, lalu mengatakan sesuatu seperti 'Papa' pada Tanjung.


Tanjung mendadak tidak bernapas. Dadanya panas dan berdebar tidak normal. Apa ini? Perasaan aneh yang tidak ia mengerti ini apa?


"Ayok." Suri kembali meminta, sambil tetap menyusui anak itu. "Pegang sedikit. Pipinya aja."


Ujung jemari Tanjung gemetar. Dirinya masih merasa tidak boieh menyentuh anak ini, karena nanti dia terluka. Maksud Tanjung, dia sangat kecil dan lemah sampai rasanya ujung kuku tumpul akan setajam pisau di kulitnya.


Bagaimana kalau dia benar-benar terluka?


***

__ADS_1


__ADS_2