
Suri tidak tahu kenapa ia kembali ingat saat-saat Arul membawa pulang begitu banyak uang yang sebenarnya sulit untuk bisa dipercaya.
"Lah? Abang digaji lagi?" Suri bertanya begitu waktu Arul memberinya uang cash yang berjumlah luar biasa bagi Suri waktu itu.
"Perasaan baru minggu kemaren Abang punya gaji, kok ada lagi?"
Arul waktu itu tertawa dengan muka usil. "Emang Abang lo nih pinter cari duit makanya bakal cepet kaya."
"SMP aja enggak lulus."
"Lo kira orang kaya dunia pada kaya karena lulus S3? Kagak, geblekk. Rejeki enggak mandang sekolah, ngerti?"
Arul menggeplak kepala Suri. "Udahlah, dikasih duit malah protes. Gue ambil lagi, nih."
Suri menyengir waktu itu, karena ia cuma berpikir kalau abangnya bekerja sangat amat keras, jadi ya pasti hasilnya pun tidak mengkhianati.
"Hehe, makasih abang gue sayang. Muach, kiss jauh, nih."
"Najis."
"Berarti makan pizza boleh, yah? Satu orang satu kotak."
"Serah lo. Makan yang banyak biar gendut."
__ADS_1
Suri mendongak. Tiba-tiba saja menangis merasakan perasaan teriris di hatinya.
Jadi waktu itu dia punya banyak uang karena mengkhianati pekerjaannya? Dia mengkhianati banyak orang demi memberi Suri makan?
"Bos Besar enggak suka pengkhianat. Apa pun alesannya." Teguh melanjutkan cerita itu. "Dan semua wakilnya Bos Besar, orang yang dipanggil Bos kayak Tanjung, semuanya diajarin buat enggak maafin pengkhianat."
Suri meringis merasakan pedih hatinya begitu menusuk.
"Aliansi punya aturan sendiri buat hukum pengkhianat. Khusus buat devisi yang Tanjung pegang, semuanya bakal dipukulin sampe tengkoraknya pecah, terus dibiarin sampe dia mati."
Badan Suri mulai gemetaran.
"Tapi waktu itu, uangnya Tanjung ilang banyak karena Arul. Banyak banget, kalau harus ditekanin. Apalagi Arul kerja lumayan lama. Tiga empat bulan. Miliaran duit Aliansi melayang. Jadi dia dikasih hukuman lain."
Hentikan. Suri tak sanggup mendengarnya lagi.
Teguh melihat jam di tangannya dan menyadari sudah nyaris sepuluh menit.
Pria itu mendekat, menahan diri tidak menyentuh Suri.
"Suri, lo bisa tahan sampe tengah malem? Sampe situ aja. Jangan nunjukin apa pun, apa pun itu. Tengah malem gue jemput lo, kita pergi sama-sama. Gue enggak bisa tidur biarin lo di sini sama—"
"Enggak bisa."
__ADS_1
Suri mendongak, menatap langit-langit rumahnya berharap dengan begitu ia berhenti menangis.
Tapi ternyata tidak bisa. Air matanya tetap mengalir dan hatinya tetap luar biasa sakit.
"Gue enggak bisa, Bang."
"Suri? Jangan bilang lo masih mau sama Tanjung?"
"...."
"Suri, lo pikir baik-baik, Arul enggak—"
"Udah sepuluh menit."
Ikram tiba-tiba memunculkan kepalanya di pintu depan, tersenyum penuh arti.
"Yah, masih kurang dua puluh detik, tapi karena gue denger ada yang mau bawa istri Bos kabur, kayaknya perjanjian batal."
Teguh memejamkan mata, langsung pasrah.
Dari awal Teguh tahu berniat kabur itu sebenarnya mustahil. Kecuali Suri benar-benar bisa bekerja sama dan Tuhan merestui, mustahil bisa kabur dari cengkraman Tanjung.
Semua anak buah Tanjung terlatih secara fisik dan psikologis. Jangankan kabur, bohong soal hal kecil pun sulit.
__ADS_1
Makanya dulu Arul dianggap luar biasa karena bisa menipu satu Aliansi, termasuk Tanjung.
*