
Tanjung sebenarnya tidak paham apa yang dia rasakan. Kenapa dia mau itu dan untuk apa Arul ada di sana padahal dia juga tidak akan membantu proses persalinan.
Tapi Tanjung setidaknya tahu bahwa Suri memang sangat berharap Arul ada di sana. Dan itu membuat Tanjung lelah bukan main.
"Gue yakin Arul mau tau soal anak kita." Suri bergumam lemah. "Dia mau tau. Dia mau ada. Kita keluarga, jadi gue yakin dia emang harus ada."
Tanjung menarik Suri berdiri—pelan-pelan tentu saja—dan terus berusaha tidak mendengarkan.
Pokoknya apa pun yang dia katakan soal Arul, Tanjung diam saja.
Dibawa perempuan itu duduk ke meja makan, membuka kulkas untuk mengeluarkan camilan sehat. Sisa tadi, belum dihabiskan karena Suri bilang masih kenyang.
Tanjung meletakkan makanan itu di depannya, bersama tablet vitamin dan segelas air putih.
"Udah enggak mau makan."
"Makan."
"Kenyang."
"Makan." Tanjung menarik sendok, menyuapinya sendiri karena dia tak bergerak.
Jika ini Tanjung yang dulu, mustahil bisa dirinya menyuapi seseorang, peduli seseorang mau makan atau tidak, apalagi meladeni rengekan tidak jelas.
Tapi Tanjung cuma melakukan apa yang disuruhkan oleh otaknya.
"Kamu hati-hati kalo besar, Nak." Suri berguman pada perutnya lagi. "Papamu nih suka maksa."
Lalu dia tertawa di tengah usaha mengunyah makanan.
__ADS_1
"Nendang terus, ih. Kenapa sih kamu?"
Tanjung memegang perut Suri, mengusap sambil menunggu sampai tendangan kecil terasa.
"Kan? Aktif banget."
Tanjung membungkuk. Mencium perut besar itu sambil berharap ia bisa segera bertemu putrinya.
*
"Udah enggak kerasa aja, yah?" ucap Dayan penuh senyum sambil memandangi indahnya pemandangan pantai yang juga penuh dengan cewek berbikini.
Memang pria itu sederhana. Di dunia ini cuma ada dua yang indah. Uang dan wanita cantik.
Dayan paling suka habis kerja capek-capek, dirinya healing melihat dadaa dan bokong di mana-mana, terutama dari mereka yang mukanya ibarat titisan bidadari.
"Apanya, Bos?" Surya menyahut, biarpun sedang sibuk memakai teropong, mengintipi gadis-gadis lebih dekat. "Wuih, Bos. Ada nomor sambilan lagi jalan-jalan tuh. Tipe lo, nih."
"Anaknya Tanjung," jawab Dayan, sekaligus mengambil teropong Surya buat mengintip mana gadis cantik level sembilan yang dia maksudkan. "Kalau enggak salah harusnya ini bulan Suri ngelahirin."
"Hmmm. Emang kenapa, Bos?"
"Gue belom nyiapin hadiah."
"Lah, emang harus?"
Dayan terkekeh. "Formalitas doang. Lagian ibaratnya Tanjung tuh kan bos organisasi, dewan utama Aliansi. Ya masa dia punya anak gue diem aja?"
Pasti Bos Besar pun menyiapkan hadiah, bukan karena itu perlu atau Tanjung mau disayang-sayang, tapi memang karena Tanjung punya posisi.
__ADS_1
Kalau yang paling atas saja memberi, masa Dayan tidak? Malu, dong.
"Curiga nih gue kalo lo udah ketawa, Bos."
Dayan terkekeh. Mengembalikan teropongnya Surya dan pergi duduk menikmati siraman terik matahari pantai Kuta.
"Lo tau, gue tuh orangnya simpel aja. Kalo lo ngasih gue sesuatu, gue ngasih lo sesuatu."
Nah, karena Tanjung tidak pernah memberi secara pribadi dan malah benci secara pribadi, ya Dayan juga tidak harus memberi secara pribadi, dong?
"Ah, soal Arul?" Surya langsung peka. "Tapi emang Tanjung udah ngeh soal itu? Kayaknya dia diem aja dari kemarin."
Yang Dayan dengar, Tanjung meminta informasi dari organisasi sebelah yang juga bagian dari Aliansi. Dia tidak minta ke Dayan pasti karena alasan pribadi.
Tapi intinya, Tanjung pasti sudah curiga ada pengkhianat. Bos Besar kemungkinan sudah tahu. Makanya membiarkan untuk melihat bagaimana mereka mengatasinya.
Pertanyaan Dayan, Tanjung tahu tidak siapa pengkhianat itu?
Tapi sebenarnya pertanyaan yang lebih penting adalah, Tanjung siap tidak dengan apa yang mau pengkhianat itu lakukan?
Dayan sih menduga dia tidak siap.
Tidak akan.
"Tanjung oh Tanjung." Dayan tertawa lepas. "Karena Bos enggak nyuruh ngapa-ngapain, jangan marah karena gue diem, yah."
Lebih tepatnya sih Dayan tak sabar melihat apa yang bakal dilakukan orang itu.
*
__ADS_1