
"Tanjung bakal ngambil Rana." Teguh menatap anak Suri. "Seenggaknya dia bakal balik buat itu."
Itu sepertinya hal yang jelas akan terjadi. Ada tiga jenis laki-laki yang menjadi suami dan ayah di dunia ini. Satu adalah laki-laki yang menjaga istri juga anaknya; dua adalah laki-laki yang tidak menjaga istri tapi sangat menjaga anaknya; tiga adalah laki-laki yang tidak menjaga satupun dari mereka.
Tapi sekalipun Tanjung adalah badjingan, fakta bahwa dia bahkan membawa-bawa anaknya dengan bangga untuk jalan-jalan adalah bukti Tanjung menganggap anaknya berharga.
Berarti, paling tidak Tanjung pasti akan mengambil mengambil Rana.
Pasti.
"Enggak!" teriak Suri pada ucapan Teguh.
Suri terlalu emosi sampai berteriak, membuat Rana tersentak.
Suara tangisan anaknya langsung terdengar. Suri buru-buru mendekap anak itu, dan Teguh sigap mengambil penutup bagi Suri menyusui Rana.
"Enggak bakal gue biarin." Suri bergumam, mendekap anaknya erat-erat dari balik kain penutup. "Ini anak gue. Cuma anak gue. Dia enggak butuh bapak pembunuh."
Tapi Teguh menggeleng. "Itu enggak bisa."
"Gak." Suri menggigil dan langsung terisak padahal rasanya tadi ia sudah tak bisa menangis. "Gue bakal cari uang sendiri, hidupin anak gue sendiri. Mau duitnya dia dua gunung juga gue enggak peduli."
"Gue enggak mau bikin lo stres, Suri, tapi lo mesti inget ini di mana. Lo cuma dipindahin dari kandangnya Tanjung ke kandangnya Dayan. Which is cuma sementara, sampe Bos Besar ngeluarin keputusan."
Suri terisak-isak. "Ini anak gue."
__ADS_1
Tangisan yang membuat Teguh merasa sakit dan begitu merasa bersalah.
Kalau saja dari awal Teguh beritahu Suri, akan lebih cepat dan mudah dia bebas. Tapi sejak dulu Teguh juga ragu apakah Suri percaya atau tidak.
Tidak ada bukti yang bisa Teguh berikan. Satu-satunya alasan Suri percaya padanya mungkin juga karena dia sadar seiring waktu bahwa Tanjung berbohong mengenai pencarian Arul.
"Gampang buat mereka kalau cuma ngilangin nyawa satu dua orang."
Teguh benar-benar tidak nyaman mengatakan ini, tapi jika ia terus menunda, semakin tertunda pula Suri tahu dan semakin terdesak mereka.
"Lo atau gue bukan siapa-siapa yang kalo ilang satu kota bakal nyariin."
Setidaknya jika Tanjung yang Teguh tahu, membunuh seseorang demi tujuannya itu biasa saja. Selama Bos Besar mengizinkan, Tanjung sedikitpun tidak punya batas.
Tanjung itu bukan seseorang yang punya agama. Dia bukan manusia yang akan berhenti pada satu tindakan sebab itu dosa. Dia juga tak menghargai suku atau kebudayaan tertentu, hingga Tanjung pun tak peduli pada adab suku mana pun.
Dan Teguh tahu Tanjung benar-benar menyayangi anaknya.
Dia bisa saja membunuh Suri agar Rana kembali.
"Suri." Teguh menelan ludah, terpaksa harus mengatakan ini. "Lo enggak bisa kabur."
Tanjung menguasai seisi kota dan organisasi dalam Aliansi menguasai penjuru pulau baik daratan maupun lautan.
Bahkan kalau ada keajaiban Suri bisa terbang ke luar negeri, Tanjung punya satu hal tidak terbantahkan.
__ADS_1
Bos Besar.
Orang itu menyerahkan satu kota, ibu kota, pada Tanjung karena arena bermain Bos Besar adalah dunia. Ujung Barat ke ujung Timur.
Suri tidak mungkin bisa lolos, tidak mungkin bisa pergi ke mana pun kecuali pada kematiannya sendiri.
Tapi ....
"Lo cuma bisa survive di sini."
Suri menatap Teguh tidak mengerti. "Lo nyuruh gue tinggal sama Dayan?"
"Semuanya cuma soal politik, lo ngerti? Organisasi jalan pun karena politik. Itu bukan sesuatu yang bisa lo ancurin cuma karena lo marah sama satu hal."
Mungkin kejam, tapi kematian Arul itu seperti kematian lalat bagi Aliansi. Ada ratusan orang seperti Tanjung dan Dayan dalam Aliansi. Mana mungkin dia bisa menghancurkannya cuma karena dia marah akan kematian lalat.
"Mau enggak mau lo harus manfaatin yang ada. Tanjung enggak pernah suka sama Dayan, sementara Dayan enggak pernah hormat sama Tanjung. Celah lo cuma disitu."
Memanfaatkan permusuhan politik di antara keduanya adalah cara teraman bagi Suri dan anaknya untuk bertahan. Membuat Tanjung dan Dayan tetap bermusuhan agar Dayan mau tetap mengurung Suri di sini.
"Gue engak bakal bilang ini pasti berhasil, tapi kemungkinannya ada." Teguh menatap Suri yakin, berharap dia pun yakin pada dirinya.
Lari setelah tertangkap oleh Dayan hanya sebuah mimpi tanpa ujung nyata.
"Dan kalo lo berhasil, lo punya peluang bales dendam."
__ADS_1
*